Deretan Skandal Terbesar Melilit Deutsche Bank

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 11:25 WIB
Jakarta -

Suasana di Deutsche Bank belakangan ini berangsur tenang. Tidak ada berita tentang tuduhan baru, tidak ada lagi denda yang wajib dibayarkan. Manajemen baru yang dipimpin oleh Christian Sewing, yang memimpin bank tersebut sejak musim semi 2018, tampaknya telah mencapai apa yang diinginkan: ketenangan, dan program restrukturisasi yang sangat dibutuhkan.

Namun masa-masa tenang tampaknya telah berakhir. Pengungkapan yang diperoleh dari bocornya FinCEN Files menunjukkan bahwa manajemen puncak bank ini mengetahui tentang adanya transaksi mencurigakan senilai lebih dari 1 triliun dolar Amerika Serikat (sekitar Rp 14,7 kuadriliun).

Memang, sejak krisis keuangan global melanda pada tahun 2007 dan 2008, bank yang berusia lebih dari 150 tahun ini terus menjadi berita utama. Sayangnya karena alasan-alasan yang salah. Berikut sejumlah skandal terbesar Deutsche Bank:

Transaksi hipotek subprima di Amerika Serikat

Kredit subprima dianggap sebagai penyebab krisis keuangan global. Deutsche Bank saat itu membeli hipotek dengan jaminan di bawah standar dari para pembeli proprerti di Amerika Serikat. Hipotek subprima ini dibungkus sebagai produk keuangan yang sangat kompleks, lantas dijual ke bank lain sebagai produk investasi yang dikatakan aman. Ketika pasar kolaps, produk keuangan yang dijual ini otomatis langsung kehilangan nilainya.

Sementara itu, secara internal Deutsche Bank telah lama bertaruh akan anjloknya pasar. Dan, bank ini pun meraup banyak uang karenanya. Pada 2013, Deutsche Bank dijatuhi penalti pertama; bank ini harus membayar sebesar 1,9 miliar dolar AS (Rp 27,9 triliun) kepada Freddie Mac dan Fannie Mae. Bank tersebut menyetujui penyelesaian utang dengan otoritas AS pada 2017. Pembicaraan awal mencapai angka 14 miliar dolar AS (Rp 205 triliun), ini berarti kehancuran finansial bagi Deutsche Bank. Akhirnya, bank hanya membayar sebesar 7,2 miliar dolar AS (sekitar Rp 105 triliun).

Pencucian uang di Rusia

Sementara di tengah-tengah berlangsungnya negosiasi dengan otoritas AS, terjadi skandal lain yang juga melibatkan Deutsche Bank, meskipun jauh lebih kecil. Skandal ini terungkap pada tahun 2015. Menurut temuan penyelidik, bank tersebut telah menggunakan transaksi saham untuk mencuci uang haram senilai 10 miliar dolar AS (sekitar Rp 147 triliun) ke dalam mata uang rubel Rusia. Karena transaksinya dalam mata uang dolar, otoritas AS kembali turun tangan. Hukumannya kali ini sebesar 600 juta dolar AS (Rp 8,8 triliun). Deutsche Bank kemudian menghentikan praktik perbankan investasi di Rusia.

Manipulasi suku bunga

Euribor dan Libor adalah singkatan dari suku bunga referensi tertentu. Tingkat Penawaran Antarbank Euro (Euribor) menjabarkan tingkat suku bunga di mana bank-bank Eropa dapat saling memberikan obligasi dalam mata uang euro. Sementara Libor (suku bunga yang ditawarkan oleh bank-bank besar di London) berfungsi sebagai basis untuk transaksi keuangan dalam volume tertentu, misalnya dalam bentuk derivatif atau hipotek.

Pada 2013, Komisi Eropa menjatuhkan denda sebesar 1,7 miliar euro (Rp 29,4 triliun) terhadap enam bank besar internasional setelah membongkar adanya manipulasi suku bunga. Deutsche Bank membayar denda terbesar yakni 725 juta euro (Rp 12,5 triliun), namun kemudian didenda lagi sebesar 2,5 miliar dolar AS (Rp 36,7 triliun) oleh otoritas Inggris dan AS.

Pelanggaran embargo AS-Iran

Deutsche Bank juga harus membayar denda setelah otoritas AS mengatakan bank ini telah melanggar embargo AS terhadap Iran. Tahun 2015 Deutsche Bank harus membayar sebesar 260 juta dolar AS (Rp 3,8 triliun), jumlahnya memang jauh lebih sedikit daripada denda yang harus dibayarkan oleh saingannya yaitu Commerzbank sebesar 1,4 miliar dolar AS (Rp 20,5 triliun) atas tuduhan serupa.

Hubungan dengan Jeffery Epstein

"Adalah kesalahan besar dalam menerima Jeffrey Epstein sebagai klien pada tahun 2013." Demikian tanggapan Deutsche Bank setelah Departemen Layanan Keuangan (DFS) Negara Bagian New York menjatuhkan denda sebesar 150 miliar dolar AS (Rp 2,2 kuadriliun) kepada bank tersebut.

Deutsche Bank tahu tentang "masa lalu kriminal yang mengerikan" dari Epstein dan tetap tidak melakukan apa pun terkait adanya "penarikan rutin dan mencurigakan," kata otoritas keuangan di New York tersebut. Transaksi juga berkorelasi dengan tindak kriminal pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur. Pelaku kejahatan seks itu "bunuh diri" saat berada dalam penjara di AS pada Agustus 2019.

Skandal Danske Bank

Deutsche Bank juga berperan dalam salah satu skandal pencucian uang terbesar di dunia, yakni sebagai bank koresponden bagi Danske Bank. Antara tahun 2007 dan 2015 terjadi aliran transfer mencurigakan senilai sekitar 200 juta euro (Rp 3,4 triliun) melalui cabang-cabang bank Denmark itu.

DFS sekali lagi menuduh bank tersebut tidak melakukan pengawasan yang memadai terhadap pelanggannya. Deutsche Bank setelah itu menginvestasikan sekitar satu miliar dolar untuk meningkatkan audit internalnya, dan menambahkan lebih dari 1.500 karyawan di departemen pengawasan.

Anjloknya harga saham

Beragam skandal yang menimpa selama beberapa tahun terakhir tidak hanya merusak reputasi bank itu. Harga sahamnya dan, akibatnya, nilai pasarnya ikut terjun bebas. Melihat ke masa sepuluh tahun ke belakang, saham Deutsche Bank telah kehilangan sekitar 75 persen dari nilainya. Sedangkan dalam kurun waktu 20 tahun, saham ini telah kehilangan 85 persen nilainya.

Kapitalisasi pasar bank itu saat ini hanya 16 miliar euro. Hanya mereka yang membeli saham Deutsche Bank perdana mereka pada tahun ini yang bisa mendapatkan untung sekitar 25 persen. Namun tampaknya, keuntungan ini sudah berakhir.

Penulis Henrik Böhme (Ed.: ae/as)

(ita/ita)