Puluhan Penulis Jerman Tuntut Pembebasan Blogger Raif Badawi di Arab Saudi

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 15 Sep 2020 15:04 WIB
Jakarta -

Lebih 50 penulis berbahasa Jerman menyerukan pembebasan blogger Raif Badawi yang dipenjara sejak 2012 di Arab Saudi. Dalam sebuah surat terbuka yang dialamatkan kepada Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier dan Menteri Luar Negeri Heiko Maas, mereka mengatakan bahwa kondisi kesehatan Raif Badawi "sangat mengkhawatirkan", setelah dia mengalami pemukulan dan penganiayaan di penjara.

Surat tersebut dirilis oleh Perhimpunan Penulis PEN cabang Jerman bertepatan dengan Hari Demokrasi Internasional, yang diperingati setiap tanggal 15 September. PEN cabang Jerman menyatakan menentang segala bentuk penindasan atas kebebasan berekspresi.

Raif Badawi yang kini berusia 36 tahun dalam tulisan-tulisannya antara lain menuntut kebebasan berpendapat dan menentang penindasan hak-hak perempuan. Dia menerima berbagai penghargaan di Eropa, antara lain penghargaan Sakharov dari Uni Eropa dan Freedom of Speech Award dari Deutsche Welle.

Para penulis mendesak pemerintah Jerman untuk turun tangan mengupayakan pembebasan Raif Badawi dengan segera dan "menyelamatkan nyawa rekan kami." Mereka yang menandatangani surat terbuka itu antara lain novelis dan pemenang hadiah Nobel untuk Sastra Herta Mller, penulis dan dramawan Barbara Honigman, dan penulis Jerman-Turki Dogan Akhanli.

Raif Badawi mendapat "perlakuan kejam"

Istri Raif Badawi, Ensaf Haidar, menyambut surat terbuka itu dan menyatakan dia bersyukur atas upaya tersebut. "Saya berterima kasih kepada penulis Jerman terkemuka iniā€¦ atas surat mereka," kata Ensaf Haidar yang mengungsi ke Kanada bersama ketiga anaknya setelah suaminya ditangkap. "Sudah waktunya untuk membebaskan Raif Badawi dan menyatukan dia dengan kami di Kanada," cuitnya lewat Twitter.

Raif Badawi dulunya membuka forum online untuk mendorong debat tentang kondisi hak asasi di Arab Saudi. Dia ditangkap tahun 2012 dengan tuduhan "menghina Islam", setelah seorang ulama Arab Saudi mengeluarkan fatwa terhadap dirinya. Tulisan-tulisan Badawi yang dikecam antara lain tuntutannya agar semua orang diperlakukan dengan setara, apapun agamanya.

Dua tahun kemudian, dia dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dan 1.000 hukuman cambuk dan denda 1 juta riyal Saudi (setara dengan Rp 4 miliar). Setelah dia menerima 50 cambukan pertama, otoritas Arab Saudi menunda hukuman cambuk tanpa batas waktu karena muncul protes global terhadap perlakuan tidak manusiawi itu.

Sarah Leah Whitson dari organisasi hak asasi Human Rights Watch ketika itu mengatakan: "Arab Saudi menunjukkan kesiapan memberikan hukuman sekejam-kejamnya kepada penulis yang berbeda pandangan."

hp/rap (dpa, afp, kna)

(ita/ita)