Yoshihide Suga, Sang Pewaris Tongkat Kepemimpinan Shinzo Abe

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 15 Sep 2020 14:44 WIB
dw
Jakarta -

Yoshihide Suga dikenal sebagai orang yang disiplin. Dia tidak merokok atau minum alkohol, dan konon setiap pagi senam dengan melakukan 200 sit ups.

Dia juga segan tampil ke muka publik. Penampilan besar terakhirnya adalah ketika pada April tahun lalu dia ditugaskan mendeklarasikan era baru Reiwa di Jepang, yang menandai penggantian di pucuk Kekaisaran Jepang dari Kaisar Akihito ke putranya Naruhito.

Terpilihnya Yoshihide Suga sebagai pengganti Shinzo Abe di pucuk pimpinan Partai Demokrat Liberal Jepang LDP juga menandai bergantinya sebuah era. Karena LDP merupakan partai penguasa, Yoshihide Suga dipastikan juga akan terpilih menjadi Perdana Menteri baru, setelah Shinzo Abe mengumumkan pengunduran diri.

Tangan Kanan Shinzo Abe

Yoshihide Suga belajar ilmu politik di Universitas Hosei di Tokyo dan terjun ke politik pada usia 26 tahun. Ketika Shinzo Abe pertama kali menjadi Perdana Menteri tahun 2006, Yoshihide Suga diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri, kemudian mulai 2012 menjadi juru bicara pemerintah.

Yoshihide Suga memang meniti karier dari bawah dan sudah mengumpulkan banyak pengalaman yang bisa menguntungkan posisinya, kata analis politik Tobias Harris.

"Dia kelihatannya punya pandangan menyeluruh tentang situasi politik dan pemerintahan ketimbang para pemimpin sebelumnya. Ini mungkin alasan yang bisa membangkitkan optimisme, jika dia mengambil alih jabatan (Perdana Menteri)", katanya.

Anak petani yang merintis karier politik

Ketua baru LDP yang berusia 71 tahun itu menceritakan perjalanan kariernya. "Saya anak sulung dari keluarga petani di distrik Akira. Karena bermaksud mengambil alih pertanian orang tua, saya usai sekolah pindah ke Tokyo. Saya harus bekerja di sebuah pabrik untuk membiayai kehidupan saya. Karena itu, saya terlambat dua tahun memulai kuliah di universitas."

Sekali pun jarang tampil ke muka publik, Yoshihide Suga adalah politisi yang punya visi, kata Tobias Harris. Dialah yang melontarkan gagasan untuk membuka pasar Jepang bagi para imigran. "Dia seorang realis, lebih daripada Abe. Dia punya visi bagaimana Jepang harus mengambil posisi di pasar global, agar tetap sukses." Tobias Harris menambahkan: "Tapi dia tidak punya terlalu banyak waktu selama masa jabatan empat tahun".

Yoshihide Suga sendiri belum mengungkapkan visi pembaruannya dan mengedepankan pendahulunya: "Saya akan melanjutkan Abenomics dan mengembangkannya. Dan saya akan belajar lebih banyak seperti Perdana Menteri Abe, bagaimana memelihara hubungan dengan Bank Sentral."

"Yang pertama-tama harus kita lakukan adalah menanggulangi krisis corona ini", katanya.

hp/rap (rtr, dpa, ard)

(ita/ita)