Ketegangan Perbatasan India-China Dikhawatirkan Terus Meruncing

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 11 Sep 2020 13:27 WIB
Jakarta -

Selama beberapa bulan terakhir, pasukan Cina dan India telah terlibat dalam sikap agresif di beberapa lokasi di sepanjang perbatasan de facto kedua negara, yang dikenal sebagai Line of Actual Control, LAC (Garis Kontrol Aktual).

Kedua tetangga adidaya nuklir itu saling menuduh pihak lain memprovokasi dengan melepaskan tembakan ke udara selama gejolak baru di wilayah Ladakh hari Senin (07/09) dan melanggar protokol untuk menghindari penggunaan senjata api di sepanjang perbatasan.

"Konflik perbatasan Sino-India telah semakin intensif selama beberapa minggu terakhir, dan saya masih percaya bahwa tidak ada pihak yang menginginkan perang, tetapi tidak ada pihak yang mau mundur karena konsekuensi simbolis dan psikologis," kata Derek Grossman, analis pertahanan senior di RAND Corporation, kepada DW.

Srikanth Kondapalli, profesor studi Cina di Universitas Jawaharlal Nehru, New Delhi, berpandangan serupa. "Meski penembakan itu ke udara dan tidak saling berhadapan, itu pasti eskalasi," katanya.

Cerita lama ketegangan perbatasan

Pertempuran bukanlah hal baru di perbatasan sepanjang 3.488 kilometer antara India dan Cina, yang sebagian besar masih diperdebatkan. Kedua negara berperang tahun 1962, tetapi masalah perbatasan masih berlanjut.

Cina mengklaim sekitar 90.000 kilometer persegi di negara bagian Arunachal Pradesh, India, yang secara informal disebut Cina sebagai "Tibet Selatan". India, di sisi lain, mengklaim kedaulatan di lebih dari 38.000 kilometer persegi Dataran Tinggi Aksai Chin. Lebih dari selusin putaran pembicaraan telah gagal membuat kemajuan substansial dalam perselisihan perbatasan itu.

Sengketa terakhir dimulai pada 5 Mei, ketika terjadi keributan di Danau Pangong Tso, yang terletak 4.270 meter di atas permukaan laut di wilayah Himalaya, Ladakh. Personel militer India dan Cina bentrok dengan besi dan tongkat, dan bahkan saling melempar batu, melukai tentara di kedua sisi.

Beberapa hari kemudian, pada 9 Mei, lusinan tentara Cina dan India terluka dalam baku tembak dan lemparan batu ketika pertempuran lain meletus di Nathu La Pass di negara bagian Sikkim, India, hampir 1.200 kilometer ke timur di sepanjang LAC.

Pada 15 Juni, bentrokan antara kedua belah pihak terjadi di Lembah Galwan, mengakibatkan kematian 20 tentara India dan sejumlah tentara Cina yang tidak diketahui jumlahnya.

Mungkinkah melakukan mediasi?

Para pengamat mengatakan, meskipun kekuatan dunia mungkin telah memulai upaya diplomatik untuk menenangkan situasi, baik India maupun Cina adalah negara besar yang tidak ingin dicampuri orang lain dalam urusannya.

"Dalam kasus AS, Cina telah menolak [mediasi], dan pihak India tidak menyebutkan apa pun secara eksplisit," kata Srikanth Kondapalli, menggarisbawahi fakta bahwa New Delhi saat ini berbagi kemitraan politik yang jauh lebih dekat dengan Washington daripada Beijing.

Kekuatan dunia lain mungkin juga tengah berusaha menengahi dalam upaya untuk mencegah konflik yang merusak antara dua negara terpadat di dunia itu.

"Saya rasa Jerman dan Uni Eropa dianggap lebih netral daripada Amerika Serikat. Jadi jika ketegangan antara Cina dan India meningkat secara signifikan, Jerman dan Uni Eropa bisa bertindak sebagai mediator dengan lebih efektif," kata Derek Grossman.

(hp/rap)

(ita/ita)