Kritik Islam Fundamentalis, Vlogger Bangladesh Diancam Dibunuh

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 26 Agu 2020 11:38 WIB
Jakarta -

Asad Noor melintasi perbatasan Bangladesh-India secara ilegal pada 14 Februari 2019 dengan bantuan seorang agen, setelah petugas intelijen menyita paspornya. Sejak saat itu, vlogger ateis tersebut tinggal di India.

"Dalam video di kanal YouTube dan Facebook, saya mengkritik Islam dan Nabi Muhammad, merujuk pada Alquran dan Hadis. Pada saat yang bersamaan, saya bersikap kritis tentang politik Islam. Itulah mengapa para kaum Islamis marah kepada saya," ujar Noor kepada DW.

"Polisi lokal sering menggeledah rumah kami (di Bangladesh) untuk mencoba menangkap saya ... keluarga saya telah membayar harga mahal untuk aktivisme saya," tambahnya.

Dugaan serangan pada biara

Pada bulan Juli lalu, Noor menerbitkan beberapa video memprotes penganiayaan terhadap komunitas minoritas Buddha Bangladesh di Rangunia, sebuah kota di bagian tenggara di negara itu.

Seorang pemimpin lokal dari partai yang berkuasa di negara itu, Liga Awami (Liga Rakyat) menggugat vlogger tersebut pada bulan Juli 2020 di bawah undang-undang "Digital Security Act", dan menuduhnya "melukai sentimen agama" serta "menjalankan propaganda melawan semangat perang pembebasan."

Salah satu video Noor menunjukkan aksi vandalisme terhadap patung Buddha yang sedang dibangun di sebuah wihara di Rangunia. Menurut Noor, para penyerang tersebut didukung aparat kehutanan dan anggota parlemen lokal partai itu karena mereka ingin mengusir para biksu dari kawasan tersebut.

Setelah Noor mempublikasikan videonya, kelompok Islam lokal memrotes vlogger itu dan menuduhnya merusak kerukunan beragama antara umat muslim dan Buddha.

Polisi menggerebek rumah keluarga Noor di Rangunia dan disinyalir mengusik anggota keluarganya saat dia berada di India. "Pada pagi hari tanggal 18 Juli, polisi dengan paksa menjemput orang tua saya serta empat anggota keluarga lainnya, dan menahan mereka dalam penahanan ilegal selama hampir 48 jam," kata Noor.

'Tidak ada hubungannya dengan agama'

Baik wihara Buddha maupun pemimpin Liga Awami mengklaim kepemilikan atas tanah yang disengketakan di Rangunia.

Abu Jafar, mantan pejabat di wilayah sengketa, mengatakan kepada DW bahwa tanah itu milik pemerintah dan "tidak ada hubungannya dengan agama."

"Wihara Budha ini dibangun dua tahun lalu tanpa izin dari pemerintah. Beberapa tokoh politik lokal juga memanfaatkan sebagian wilayah tanpa izin," katanya.

Noor mengatakan dia ingin mendukung komunitas minoritas Buddha di daerah itu dan "menyelamatkan Rangunia dari insiden lainnya." Dia merujuk pada serangan September 2012 terhadap komunitas Buddha di kota tenggara, Ramu. Sekelompok fundamentalis Islam merusak setidaknya empat kuil dan membakar puluhan rumah setelah foto yang mereka anggap mencemarkan nama baik Islam beredar secara online.

Hidup dalam pelarian

Sikap Noor terhadap kaum fundamentalis di Bangladesh telah memicu banyak protes. Hefazat-e-Islam, sebuah kelompok Islam radikal di negara itu, telah menyerukan penangkapan dan hukuman mati dengan tuduhan penistaan agama.

Noor pertama kali ditahan pada Desember 2017 ketika mencoba melakukan perjalanan ke luar negeri, setelah seorang ulama Islam menuntutnya karena membuat dan menyebarkan konten di media sosial yang dianggap "melukai sentimen agama." Dia kemudian dibebaskan dengan jaminan pada bulan Agustus 2018, dan ditahan lagi satu bulan kemudian oleh badan intelijen militer.

Vlogger tersebut akhirnya dilepas pada pertengahan Januari 2019 dan memutuskan untuk meninggalkan Bangladesh dan melanjutkan aktivisme online-nya. Sekarang di India, Noor masih sering menerima ancaman pembunuhan dari para fundamentalis.

"Meski pembunuhan berantai terhadap blogger telah berhenti, bukan berarti Bangladesh telah menjadi tempat berlindung yang aman bagi blogger atau vlogger. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa ancaman itu tidak akan dimulai lagi," kata Noor.

Ditangkap kembali di India

Setelah tinggal di India selama lebih dari 3 bulan, Noor ditangkap pada 19 Mei dan ditahan di penjara selama enam bulan. Dia menunggu jaminan dan berharap sidang pengadilannya akan dijadwal ulang "ketika krisis pandemi berakhir."

"Nasib saya mungkin akan diputuskan saat itu," katanya. Organisasi hak asasi manusia yang bermarkas di Paris, Reporters Without Borders (RSF) telah mendesak pihak berwenang Bangladesh untuk segera mencabut semua tuduhan terhadap Noor dan mengembalikan paspornya. Organisasi tersebut menempatkan Bangladesh di peringkat ke-150 dari 180 negara dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2020.

LSM hak asasi manusia Amnesty International (AI) merilis pernyataan pada tanggal 21 Juli lalu, yang mendesak pihak berwenang Bangladesh untuk "menghentikan pelecehan dan intimidasi terhadap orang tua Asad Noor, yang menjadi sasaran karena aktivitas anak laki-laki mereka."

AI menambahkan, "Pembela hak asasi manusia harus dapat melaksanakan pekerjaan penting mereka dengan bebas dan tanpa rasa takut."

(ita/ita)