Mengejutkan, Ekspor China Bulan Juli Melejit 7,2 Persen dengan Surplus Besar

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 07 Agu 2020 17:49 WIB
dw
Foto: Getty Images/AFP
Jakarta -

Ekonomi Cina, yang merupakan kedua terbesar dunia setelah Amerika Serikat, tampaknya mulai pulih dari dampak negatif pandemi corona. Ekspor bulan Juli naik 7,2 persen, kata otoritas Cina hari Jumat (7/8).

Kenaikan tersebut mengacaukan ekspektasi para analis pasar, yang sebelumnya memperkirakan penurunan ekspor sampai 0,7 persen, setelah semua negara-negara industri melaporkan kemunduran ekonomi.

Cina adalah negara pertama yang melakukan lockdown dan menutup kegiatan ekonomi awal Desember 2019, setelah virus corona menyebar. Namun negara itu juga yang pertama yang melonggarkan situasi dan mulai membuka lagi perekonomian, setelah Partai Komunis yang berkuasa mengumumkan kemenangan atas Covid-19 pada bulan Maret.

Ekspor naik, surplus perdagangan tinggi

Perekonomian Cina, seperti juga di banyak negara lain, telah mengalami kontraksi ekonomi terburuk selama beberapa dekade terakhir sebagai dampak dari lockdown dan pembatasan saat pandemi corona. Kondisi itu sempat memicu kekhawatiran pasar karena selama ini Cina menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dunia.

Untuk bulan Juli 2020, surplus perdagangan dilaporkan mencapai 62,33 miliar dolar AS, padahal sebelumnya para analis memperkirakan hanya akan mencapai sekitar 42 miliar dolar AS. Bulan Juni, surplus perdagangan Cina tercatat hanya 46,42 miliar dolar AS.

Naiknya angka ekspor terutama ditopang oleh penjualan perlengkapan medis. Ekspor produk tekstil, termasuk masker wajah, selama Januari hingga Juli, naik 31,3% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan penjualan peralatan medis meningkat menjadi 47,3%, sementara tahun lalu pertumbuhannya tercatat 41,4%.

Pemulihan secara bertahap

Para analis menyambut baik perkembangan positif di Cina itu, namun menyarankan agar tetap berhati-hati dan jangan terlalu cepat gembira dulu. "Data ini sejalan dengan perkiraan kam,i bahwa ekspor akan perlahan pilih," kata Louis Kuijs, kepala penelitian ekonomi Asia di Oxford Economics.

"Namun, jalan di depan mungkin bergelombang, karena pesanan ekspor baru masih tetap lemah dan jalur pemulihan akan tidak merata di seluruh sektor ekonomi," tambahnya.

Luo Ting, kepala divisi Cina di Nomura, kepada kantor berita Reuters menyampaikan pendapat serupa, bahwa pemulihan ekonomi mungkin tidak langsung terjadi begitu saja. "Karena beberapa negara secara bertahap membuka kembali ekonomi mereka, dan mulai memproduksi alat pelindung diri di dalam negeri atas alasan keamanan. Akibatnya, ekspor produk-produk itu dari Cina bisa turun lagi", pungkasnya.

hp/as (afp, rtr, ap)

(ita/ita)