Di Tengah Bencana Kekeringan, Mekong Jadi Medan Rivalitas Baru AS-China

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 07 Agu 2020 17:44 WIB
Jakarta -

Komisi antarpemerintah untuk Sungai Mekong mendesak otoritas Cina dan Asia Tenggara untuk berbagi data terkait aktivitas bendungan masing-masing, lantaran menyusutnya debit air sungai selama dua tahun berturut-turut.

Sebuah studi yang dibuat komisi menyimpulkan, penyusutan air Sungai Mekong dipicu oleh minimnya curah hujan yang diperparah dengan aktivitas 13 bendungan, dua di Laos dan 11 di Cina. Bendungan juga dibuat di anak sungai Mekong yang mengalir di Laos.

Menurut laporan tersebut, debit air yang berkurang mengancam kehidupan masyarakat di sepanjang bantaran sungai di Kamboja, Laos, Thailand dan Vietnam. Rendahnya permukaan sungai membuat nelayan kehilangan pemasukan dan menghambat irigasi lahan pertanian.

"Kami mengimbau enam negara Mekong untuk membagi data dan informasi terkait aktivitas bendungan dan infrastruktur air secara transparan dan dalam tempo yang singkat," kata An Pich Hatda, Direktur Komisi Sungai Mekong (MRC).

MRC mencatat, aliran air musiman ke danau Tonle Sap datang terlambat selama dua tahun berturut-turut. Permukaan air di danau terbesar di Asia Tenggara itu belakangan terus menyusut. Kondisi ini mengancam aktivitas perikanan dan sekaligus ketahanan pangan bagi lebih dari satu juta penduduk.

Fenomena arus balik di anak sungai Tonle Sap merupakan salah satu peristiwa alam paling unik di dunia. Saban tahun, musim hujan meluapkan sungai yang memicu arus balik aliran air dari sungai Mekong, ke arah utara menuju danau Tonle Sap.

Warga Kamboja biasanya merayakan peristiwa langka tersebut dengan menggelar pesta rakyat.

Tahun ini arus balik air sungai dimulai pekan ini, kata Chan Yutha, Jurubicara Kementerian Sumber Daya Air di Kamboja. Badai tropis yang melanda sejumlah wilayah Mekong sejak awal bulan menciptakan curah hujan ekstrim yang membuat permukaan air meluap di sejumlah wilayah.

Komisi Sungai Mekong meminta semua negara agar menyiapkan rencana musim kering. Operator bendungan juga disarankan menambah jumlah volume air yang dilepaskan dan agar para petani menghemat air dalam irigasi.

MRC juga meminta Cina mengalirkan lebih banyak air dari 11 bendungannya, terutama jika kondisi belum berubah.

Sumber konflik baru antara Cina dan AS

Betapapun juga, kebijakan Cina di Sungai Mekong diyakini lebih dipengaruhi kebutuhan di dalam negeri dan kondisi politik global, ketimbang isu lingkungan. Pegiat konservasi dan pejabat pemerintahan lokal mengeluhkan, Mekong menjadi medan rivalitas baru antara AS dan Cina.

Kedua negara berusaha menanamkan pengaruh di negara-negara hilir, antara lain lewat kucuran dana bantuan yang dilakukan AS, atau dengan menguasai aliran air Sungai Mekong melalui pembangunan dam di Cina.

Mekong, kata Witoon Permpongsacharoen, seorang pegiat lingkungan di Kamboja, "sudah menjadi isu geopolitik antara Cina dan AS, mirip seperti Laut Cina Selatan," ujar pria yang bekerja untuk organisasi lingkungan, Mekong Energy and Ecology Network.

Kondisi Sungai Mekong merupakan sumber kekhawatiran terbesar bagi sekitar 60 juta penduduk di Asia Tenggara. Mereka menggantungkan hidup dari sektor pertanian, perikanan dan ketersediaan energi listrik. Kebergantungan pada Cina semakin jelas ketika bencana kekeringan mulai melanda sejak tahun lalu.

Sebab itu pula Beijing dianggap mampu mendiktekan agenda seputar penggunaan Sungai Mekong kepada negara-negara hilir, dan mengucilkan Amerika Serikat dari kawasan tersebut.

Tonton video 'Donald Trump Resmi Larang TikTok di AS, Ini Alasannya':

[Gambas:Video 20detik]



Duta Besar AS untuk Kamboja, Patrick Murphy, April silam menuduh Cina "menimbun" air di 11 bendungannya. Pernyataan itu dilontarkan sebagai reaksi atas publikasi sebuah studi ilmiah yang dibuat AS dan menyimpulkan Cina menghambat aliran air ke hilir.

Sebaliknya Kementerian Luar Negeri di Beijing membalas stuidi tersebut "bermotifkan politik" dan mewanti-wanti agar "negara-negara di luar kawasan sebaiknya menahan diri untuk tidak membuat masalah."

Kebergantungan terhadap Cina

Bagi negara-negara yang berada di hilir Mekong saat ini banyak bergantung pada Beijing, menurut Sebastian Strangio yang menulis buku "In the Dragon's Shadow" tentang hubungan antara Asia Tenggara dan Tiongkok.

"Mereka bergantung kepada Cina untuk sumber daya yang krusial bagi kehidupan, dan sangat sulit bagi mereka untuk mengritik pembangunan bendungan oleh pemerintah Cina," ujarnya.

Selain aliran air, negara-negara hilir Mekong juga menerima kucuran dana bantuan dari Beijing. Menurut laporan Reuters, komisi Lancang-Mekong yang dibentuk Cina mengucurkan bantuan senilai USD 300 juta pada 2016.

Uang itu diklaim diberikan sebagai dana penelitian kepada lima negara di kawasan hilir.

Oleh Amerika Serikat, LMC dikritik sebagai "organisasi tandingan" terhadap MRC yang diakui secara internasional. "Kami mengajak Cina untuk bekerjasama dengan Komisi Sungai Mekong (MRC), ketimbang berusaha memarjinalkan MRC dengan membentuk organisasi sendiri," kata Duta Besar AS untuk Thailand, Michael DeSombre.

Ironisnya, MRC sendiri menyatakan siap bekerjasama dengan LMC dan Cina. Alasannya adalah kebergantungan atas data air dari 11 bendungan Cina yang memiliki kapasitas penampungan hingga 47 miliar kubik meter air.

Sejak 2002 Cina sebenarnya secara rutin memberikan peringatan kepada negara di hilir jika ada pelepasan air yang bisa menyebabkan banjir. Namun Beijing membisu soal rencana atau jadwal perubahan pada aliran air.

"China tidak membagi satu data pun yang konstruktif," kata seorang pejabat Vietnam yang enggan disebutkan namanya.

rzn/hp (afp, rtr)

(ita/ita)