Lima Negara Mematikan Bagi Aktivis Lingkungan

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 29 Jul 2020 17:24 WIB
Jakarta -

Pembunuhan aktivis lingkungan terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut sebuah laporan terbaru LSM yang berbasis di London, Global Witness, sebanyak 212 aktivis lingkungan dan agraria, terbunuh di tahun 2019. Jumlah ini meningkat 30% dari tahun 2018 dengan jumlah 164 aktivis. Sekitar 40% dari aktivis yang terbunuh adalah penduduk pribumi dan pemilik tanah tradisional.

Lebih dari dua pertiga pembunuhan terjadi di Amerika Latin. Kolombia menempati posisi teratas dengan 64 pembunuhan yang terjadi akibat gagalnya implementasi perjanjian damai 2016 dengan FARC, dan gagalnya perlindungan terhadap petani yang beralih dari koka ke kakao dan kopi untuk mengurangi produksi kokain.

Meningkatnya pembunuhan aktivis secara keseluruhan merupakan bagian dari tren yang lebih luas. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada tahun 2019 menunjukkan bahwa dalam rentang 15 tahun (antara 2002-2017), lebih dari 1.558 aktivis lingkungan terbunuh, meningkat dua kali lipat yaitu dari dua menjadi empat pembunuhan per minggu selama periode tersebut.

Mary Menton, seorang peneliti di bidang keadilan lingkungan di Universitas Sussex yang turut menulis laporan itu mengatakan kepada DW bahwa dia "tidak akan kaget" jika angka pembunuhan yang sebenarnya, akan meningkat berlipat ganda. Pasalnya, ada kegagalan dalam hal pelaporan bahkan dalam penyelidikan pembunuhan. Sementara itu, Menton mengatakan hanya 10% pelaku pembunuhan yang dituntut hukum.

Meningkatnya konflik atas kelangkaan sumber daya lahan yang terjadi di tengah meningkatnya permintaan konsumen global akhirnya memaksa para pemimpin masyarakat adat untuk melindungi wilayah mereka, kata Rachel Cox, seorang juru kampanye Global Witness.

"Masyarakat adat sangat rentan menerima serangan," ujarnya merujuk pada minoritas yang berjuang menentang pertambangan, penebangan dan proyek agribisnis yang melanggar batas yang mereka sebut rumah. Tapi pembunuhan itu ibaratnya hanya puncak dari gunung es. "Masih banyak lagi aktivis yang diserang, dipenjara, atau bahkan dihadapkan dengan kampanye kotor karena pekerjaan mereka," pungkas Cox.

Inilah lima negara dengan tingkat kematian aktivis tinggi pada tahun 2019.

1. Filipina

Filipina adalah negara paling mematikan bagi aktivis lingkungan pada tahun 2018. Setidaknya 46 aktivis lingkungan dibunuh tahun lalu di Filipina. Angka ini meningkat sebanyak 53% dan terjadi di tahun-tahun awal kepemimpinan Duterte. Sekitar 26 pembunuhan dilaporkan berhubungan dengan agribisnis, dan merupakan yang tertinggi di dunia.

Leon Dulce, koordinator nasional Jaringan Rakyat Kalikasan untuk Lingkungan, mengatakan bahwa mereka "bersiap akan munculnya lebih banyak kekerasan" menyusul upaya pemerintah memperluas pertambangan dan penebangan hutan "dengan kedok pemulihan ekonomi akibat COVID-19." Presiden Duterte juga menggunakan undang-undang anti-teror kejam untuk menekan aktivis dengan menyebut mereka sebagai penjahat.

Pulau selatan Mindanao tetap menjadi hotspot dengan 19 pembunuhan terkait lingkungan pada tahun 2019 akibat oposisi berkelanjutan terhadap perkebunan kelapa sawit dan agribisnis. Tampak pada foto di atas, sebuah keluarga dari wilayah Bukidnon di pulau itu, berasal dari komunitas KADIMADC yang tanah leluhurnya telah dirampas dan disewakan secara ilegal.

Dulce menjelaskan bahwa berbagai serangan lazim terjadi di wilayah orang-orang pribumi yang disebut Lumad itu. Pasalnya, wilayah mereka membentuk "koridor hutan terakhir di pulau". Sementara, "masyarakat adat" terus berupaya menghalangi pertambangan, bendungan, dan petak-petak agribisnis," katanya.

Menurut laporan Global Witness, upaya perlawanan semacam ini sejatinya diperlukan untuk melindungi Filipina yang punya kerentanan tinggi terhadap perubahan iklim, terutama angin topan.

2. Brasil

Dorongan agresif Presiden Brasil Jair Bolsonaro untuk memperluas pertambangan skala besar dan agribisnis di Hutan Amazon telah membuat masyarakat adat lebih jauh berada di garis depan krisis iklim, terutama karena deforestasi di tanah adat meningkat sebesar 74% dari 2018 ke 2019. Dari 24 pembunuhan aktivis agraria di Brasil, 90% di antaranya terjadi di Amazon.

Meningkatnya jumlah kekerasan di wilayah kaya sumber daya yang juga merupakan penyerap karbon terbesar di planet ini, muncul ketika pemerintah Bolsonaro memperkenalkan RUU kontroversial pada 2019 yang menyerukan legalisasi penambangan komersial di tanah adat.

Bolsonaro sendiri juga "secara aktif mendorong kekerasan" terhadap pembela adat melalui pidato sarat kebencian, kata Mary Menton.

Pada Juni tahun lalu, puluhan penambang yang mengenakan seragam militer dilaporkan menyerbu komunitas Wajapi di Amazon, Brasil. Mereka menikam dan membunuh salah satu pemimpin komunitas adat tersebut.

3. Meksiko

Sekitar 18 aktivis agraria dan lingkungan terbunuh di Meksiko pada tahun 2019. Ada kenaikan sebanyak empat pembunuhan. Di antara mereka yang terbunuh adalah Otilia Martnez Cruz (60) dan putranya, Gregorio Chaparro Cruz (20), yang ditemukan tewas di luar rumah mereka di kota El Chapote di barat laut Meksiko pada 1 Mei 2019 lalu. Para pembela pribumi Tarahumara ini diduga dibunuh oleh pembunuh bayaran sebagai balasan atas upaya mereka menghentikan deforestasi ilegal tanah leluhur mereka di Serra Madre.

Dua bulan sebelumnya, Samir Flores Soberanes ditembak mati di luar rumahnya pada 20 Februari 2019. Sehari sebelum dia terbunuh, Samir yang merupakan seorang petani pribumi Nahuatl yang juga aktivis lingkungan dari Amilcingo, Morelos, secara terbuka menentang Proyek Integral Morelos (MIP) dalam mengembangkan infrastruktur energi batubara dan gas.

4. Rumania

Eropa sejatinya jarang menyaksikan kematian aktivis lingkungan, tetapi dua penjaga hutan yang melawan penebangan liar dilaporkan terbunuh pada tahun 2019.

Rumania sendiri merupakan rumah bagi lebih dari setengah hutan tua dan hutan purba yang tersisa di Eropa sehingga dijuluki sebagai "paru-paru Eropa".

Tetapi menurut Greenpeace, sekitar 3 hektar dari hutan asli di Rumania ini terdegradasi setiap jamnya. Sebagian besar karena "mafia kayu" yang ditentang oleh dua penjaga hutan itu. Laporan Global Witness mencatat bahwa ada ratusan ancaman dan serangan terhadap penjaga hutan sebelum akhirnya mereka dibunuh.

Meskipun ribuan orang telah melakukan aksi protes untuk menentang pembalakan liar dan menuntut penyelidikan atas serangan itu pada akhir 2019, tidak ada satu pihak pun yang ditahan.

5. Honduras

Di Honduras, pembunuhan aktivis meningkat dari 4 pembunuhan pada tahun 2018 menjadi 14 pembunuhan di 2019. Angka ini menjadikan Honduras sebagai negara per kapita paling berbahaya bagi aktivis agrarian dan lingkungan pada 2019.

Mirisnya, serangan mematikan terhadap aktivis banyak terjadi pada perempuan. Tren ini meningkat sejak aktivis Honduras dan pemimpin adat Berta Caceres dibunuh secara brutal pada tahun 2016, hanya beberapa bulan setelah ia memenangkan Penghargaan Lingkungan Goldman yang bergengsi, karena menentang pembangunan bendungan di wilayahnya.

"Perempuan memiliki peran kepemimpinan penting dalam perang melawan perusahaan dan kelompok kriminal yang ingin mengambil tanah mereka," kata Marusia Lopes dari Inisiatif Mesoamerika Pembela Hak Asasi Perempuan, yang mendokumentasikan sebanyak 1.233 serangan terhadap aktivis perempuan antara 2017-2018.

Warga Afro-pribumi Garifuna yang tinggal di pantai timur secara khusus telah menjadi sasaran pembunuhan pada tahun 2019. Sekitar 16 orang terbunuh karena mempertahankan tanah mereka, sebagian besar dari pengembangan kelapa sawit dan pariwisata. Selain itu, kelompok kriminal telah lama menyerang komunitas Garifuna dengan impunitas. (gtp/pkp)

(ita/ita)