Getaran Seismik Bumi Berkurang Drastis Selama Lockdown Wabah Corona

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 25 Jul 2020 16:45 WIB
Jakarta -

Kebijakan kuncian atau lockdown untuk meredam penyebaran wabah Covid-19 di seluruh dunia telah menyebabkan berkurangnya getaran seismik yang disebabkan oleh aktivitas manusia dalam waktu paling lama yang pernah tercatat.

Pengurangan getaran ini membantu mempertajam kemampuan para ilmuwan untuk mendengarkan sinyal alamiah bumi dan mendeteksi gempa bumi, demikian ungkap sebuah studi yang diterbitkan pada hari Kamis (23/07).

Di dalam bumi, terdapat getaran yang bergerak menyebar ibarat gelombang. Getaran seismik ini berasal dari peristiwa gempa bumi, gunung berapi, angin dan sungai serta dari aktivitas manusia seperti perjalanan dan kegiatan industri.

Dalam sebuah studi yang diterbitkan di jurnal ilmiah Science dan dilakukan dengan menggunakan jaringan seismometer internasional, para ilmuwan menemukan bahwa getaran bumi yang berhubungan dengan aktivitas manusia telah berkurang rata-rata 50 persen antara Maret dan Mei tahun ini.

"Periode tenang dari aktivitas seismik 2020 adalah pengurangan kebisingan seismik antropogenik global terlama dan paling dikenali," demikian ungkap para peneliti dalam riset tersebut. Riset ini dipimpin oleh Royal Observatory of Belgium dan lima lembaga lainnya menggunakan data dari 268 stasiun pemantauan di 117 negara.

Dimulai di Cina pada akhir Januari, lalu diikuti oleh Eropa dan seluruh dunia pada Maret hingga April, para peneliti melihat adanya "gelombang ketenangan" yang terjadi saat kebijakan penguncian mulai diberlakukan di seluruh dunia untuk memperlambat pandemi corona.

Akibat kebijakan penguncian ini, perjalanan dan pariwisata terhenti, jutaan sekolah dan industri tutup, dan banyak orang terpaksa tinggal di dalam rumah.

Mendengarkan bumi dengan lebih rinci

Keheningan dari aktivitas manusia telah memungkinkan para ilmuwan untuk "mendengarkan" getaran alami bumi secara lebih rinci, ujar Stephen Hicks, seismolog di Imperial College London yang ikut memimpin penelitian ini.

Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa dengan berkurangnya kebisingan seismik antropogenik, seismometer dapat lebih maksimal memantau potensi bahaya yang terkait dengan aktivitas vulkanik di Selandia Baru.

"Ini telah membuka jendela baru (untuk membaca) sinyal seismik alami, dan memungkinkan kita melihat lebih jelas tentang apa yang membedakan kebisingan yang disebabkan oleh manusia dan alam," kata Hicks.

Studi ini mengatakan bahwa temuannya juga menunjukkan seismolog dapat membantu menentukan berapa lama orang-orang dapat tahan terhadap pemberlakuan kebijakan lockdown.

Pengurangan terbesar getaran seismik karena aktivitas manusia dapat dilihat di daerah padat penduduk seperti Singapura dan New York City. Namun pengurangan yang signifikan juga terlihat di daerah terpencil seperti di wilayah Black Forest di selatan Jerman dan Rundu di Namibia.

Sementara di Barbados, di mana kebijakan kuncian diberlakukan bertepatan dengan musim berdatangannya turis-turis, terlihat penurunan kebisingan seismik sebesar 50 persen.

ae/yp (reuters, sciencemag.org)

(ita/ita)