Eks Penjaga Kamp Nazi Divonis dalam Sidang Holocaust Terakhir Jerman

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 24 Jul 2020 15:09 WIB
Jakarta -

Bruno D. telah didakwa dengan 5.232 pembunuhan di kamp konsentrasi Stutthof. Beberapa korban dieksekusi, sementara yang lain meninggal karena sakit. Sekitar 40 orang yang selamat dan kerabat para korban yang meninggal di kamp tersebut kini bertindak sebagai penggugat dalam kasus ini. Banyak dari mereka yang bersaksi di pengadilan yang telah berlangsung selama sembilan bulan ini.

Hakim Anne Meier-Gring menghargai kesediaan mantan penjaga SS itu untuk hadir dalam persidangan dan mendengarkan kesaksian para korban, tetapi mengatakan bahwa Bruno D. menolak untuk mengakui kesalahannya sendiri sampai akhir. "Anda melihat dirimu sebagai pengamat," ujar Meier-Gring.

Hakim juga dengan tegas menentang klaim Bruno D., yang menyatakan bahwa dirinya tidak akan tinggal di kamp konsentrasi Stutthof, jika dia melihat jalan keluar. "Itu tidak benar," kata hakim. "Anda tidak mencari jalan keluar."

Meier-Gring juga menolak klaim bahwa Bruno D. tidak tahu apa yang menjadi penyebab orang-orang di kamp itu sekarat, dan bahwa dia tidak mengetahui kekejaman dan eksekusi yang terjadi. Meskipun pada satu kesempatan dia mengakui mendengar teriakan dari kamar gas.

"Tentu saja Anda tahu orang-orang meninggal karena apa. Mereka meninggal karena 'neraka manusia Stutthof &rsquo," kata hakim.

Kala itu, Bruno D. baru berusia 17 tahun ketika memulai dinasnya selama setahun sebagai penjaga di kamp konsentrasi Stutthof, Agustus 1944. Kasus itu tetap bisa diadili di Jerman, karena tidak ada masa kadaluwarsa untuk kasus pembunuhan dalam UU Jerman. Pengadilan menilai, dengan menjadi penjaga di kamp konsentrasi, berarti sudah cukup alasan bagi jaksa untuk melakukan penuntutan, sesuai preseden kasus John Demjanjuk pada tahun 2011.

Reaksi terhadap putusan

Pembacaan putusan tidak disaksikan oleh semua penggugat, karena sebagian besar tidak datang karena risiko perjalanan selama pandemi virus corona.

"Mereka akan menyambut vonis ini. Bagi mereka ini bukan tentang balas dendam," kata Stefan Lode, yang mewakili mantan tahanan kamp konsentrasi dari AS dan Israel.

Lode menerangkan bahwa kliennya akan puas dengan putusan itu, sekalipun hanya hukuman percobaan. "Tidak ada yang mau mengirim orang tua renta ke penjara," katanya. "Martabat manusia mencegah itu."

Tetapi pengacara yang mewakili klien lain, Christoph Rckel mengatakan kliennya mungkin tidak setuju dengan itu. "Saya berharap mereka akan puas dengan vonis bersalah ini, tetapi kenyataan bahwa ini hukuman percobaan, saya pikir (penggugat) tidak begitu puas," katanya kepada DW.

"Karena (putusan) itu mengirim sinyal lemah yang saya pikir tidak sesuai untuk kejahatan seperti ini. Pengadilan mengatakan sendiri bahwa seandainya diadili pada tahun 1982, dia akan dihukum lebih berat."

Salah satu klien Rckel, Henri Zajdenwerger yang berusia 92 tahun, memberikan kesaksian pada bulan Februari tentang pemindahan tahanan yang mengerikan dari Prancis ke Lithuania, dan kemudian ke Stutthof, serta pemukulan hingga eksekusi yang ia saksikan di sana.

Dia dipaksa bekerja menebang pohon, dan melihat orang-orang sekarat karena kelaparan dan kelelahan di sekelilingnya. Ditanya oleh hakim apakah dia ingin mengatakan sesuatu kepada Bruno D., Zajdenwerger menolak.

"Itu sangat penting baginya," ujar Rckel pada Kamis (23/07). "Dia sangat gugup malam sebelumnya, tidak tidur nyenyak, tetapi setelah dia membuat kesaksian, dia mengatakan dia merasa lega karena dia akhirnya bisa mengatakan sesuatu tentang tindakan pembunuhan di pengadilan Jerman ini." Dua klien lain Christoph Rckel meninggal sebelum persidangan dimulai.

Pembelaan

Dalam pembelaannya pada Senin (20/07), pengacara Stefan Waterkamp berpendapat bahwa menjadi penjaga kamp konsentrasi sebelumnya tidak pernah dianggap sebagai di kejahatan di Jerman. Karena itu dia menilai, berdiri di menara penjaga tidak ada kaitannya dengan pembunuhan sekitar 5.230 orang di kamp itu.

Waterkamp menambahkan bahwa kejahatan ini dan semua kejahatan lainnya, dilakukan oleh personel inti yang memiliki akses ke para tahanan.

Bruno D. sendiri juga berbicara selama persidangan. "Hari ini saya ingin meminta maaf kepada mereka yang mengalami kegilaan ini, dan kepada kerabat mereka," katanya dalam pernyataan terakhirnya hari Senin (20/07).

Setelah putusan, Waterkamp mengatakan bahwa kata-kata hakim telah sangat melukai kliennya dan membuatnya kelelahan. Dia mengatakan, Bruno D. mendengarkan persidangan dengan seksama, seperti yang dia lakukan selama persidangan. "Tidak semua terdakwa melakukan itu," katanya. "Dia menghadapi semua yang terjadi."

Tetapi Waterkamp enggan mengatakan apakah Bruno D. menerima putusan itu atau akan mengajukan banding. "Dia harus memutuskan sendiri sekarang: Apakah dia bisa hidup dengan putusan itu," katanya.

"Bahkan jika Anda menerima putusan, itu tidak berarti Anda menerima kesalahan Anda," katanya kepada DW. "Ya, secara hukum, tapi secara pribadi belum tentu," tambahnya.

Pengadilan memerintahkan Bruno D. untuk membayar sendiri biaya proses pengadilan, namun tidak seluruhnya, karena dianggap akan melumpuhkannya secara finansial. Semua biaya lain, termasuk biaya penggugat, akan dibebankan kepada negara bagian Jerman, menurut putusan Hakim Meier-Gring.

Kondisi di dalam Stutthof

Pada bulan Januari, Johan Solberg, mantan tahanan Stutthof dari Norwegia yang berusia 97 tahun, bersaksi di Hamburg bahwa ia telah menyaksikan sebelas eksekusi. Termasuk kejahatan menggantung anak-anak, dan tindakan mengirim sekitar 100 tahanan setiap hari - kebanyakan warga Yahudi – ke penjara kamar gas.

Kamp konsentrasi Stutthof adalah yang pertama kali didirikan oleh rezim Nazi di luar perbatasan Jerman, dan menjadi salah satu yang terakhir dibebaskan. Terletak di dekat Sztutowo, sebuah kota kecil sekitar 20 mil di timur Gdansk, Polandia utara, kamp itu sudah beroperasi sebagai kamp penjara, satu hari setelah invasi Polandia pada 1 September 1939.

Selama enam tahun berikutnya, antara 63 hingga 65 ribu orang, termasuk 28 ribu warga Yahudi, diperkirakan telah kehilangan nyawa di Stutthof, baik akibat epidemi, kondisi kerja yang brutal, kurangnya perhatian medis, hingga eksekusi dan pembunuhan.

Kamar gas digunakan di kamp setelah 1944, dan lebih banyak tahanan kehilangan nyawa mereka menjelang akhir perang.

Pengadilan kejahatan Nazi yang terakhir?

Meskipun penyelidikan lain masih berlangsung, namun jika dilihat dari usia personel kamp konsentrasi lainnya yang masih hidup, kemungkinan persidangan pada Kamis (23/07) akan menjadi persidangan terakhir, di mana pengadilan Jerman menjatuhkan vonis kepada pelaku Holocaust.

Mantan penjaga Stutthof lainnya, Johann R. yang berusia 95 tahun, pada 2019 dianggap tidak layak untuk diadili karena sudah terlalu sakit. Demikian pula, persidangan mantan dokter Auschwitz, Hubert Z. yang ditangguhkan di Neubrandenburg pada 2017, ketika ia berusia 96 tahun, setelah ia didiagnosis menderita demensia.

Dua putusan untuk persidangan Holocaust terakhir di Jerman terjadi lebih dari tiga tahun lalu. Putusan pertama pada bulan Juli 2015, terhadap "pemegang buku Auschwitz" Oskar Grning, yang dijatuhi hukuman empat tahun penjara karena tuduhan 300.000 pembunuhan oleh pengadilan di Lneburg.

Kemudian pada Juni 2016, Reinhold Hanning, mantan penjaga SS di Auschwitz, dihukum atas tuduhan 170.000 pembunuhan oleh pengadilan Detmold, meskipun ia meninggal sebelum bandingnya dipertimbangkan.

Polandia menggelar pengadilan sendiri untuk kamp Stutthof akhir 1940-an, dan menghukum sekitar 78 penjaga, beberapa di antaranya dieksekusi. (pkp/hp)

(ita/ita)