Misteri Virus Corona, Menyebar Super Cepat Diam-diam Tanpa Gejala

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 23 Jul 2020 14:20 WIB
dw
Foto: Getty Images/AFP
Jakarta -

Hanya dalam waktu tiga bulan setelah pemerintah Cina mengumumkan wabah pneumonia misterius di Wuhan, virusnya sudah menyebar ke seluruh benua, kecuali Antartika. Di balik kecepatan penyebaran virus corona itu, para ilmuwan menemukan fakta lain yang mencemaskan. Virus bisa menyebar lewat orang yang kelihatannya sehat.

Ketika lockdown dilonggarkan, pekerja kembali ke kantor, anak-anak siap kembali bersekolah, dan mal serta restoran kembali dibuka, para ilmuwan harus menghadapi realitas banal. Jika orang yang kelihatannya sehat bisa menularkan penyakit, nyaris mustahil meredam COVID-19.

"Itu bisa jadi pembunuh, karena 40 persen orang yang terinfeksi, tidak tahu mereka membawa penyakit tersebut," kata Dr.Eric Topol pimpinan Scripps Research Translational Institute, sebuah lembaga penelitian kesehatan terkemuka di dunia.

Jika orang yang terinfeksi virus SARS-CoV-2, tapi tidak menunjukkan gejala sakit, mereka bisa lolos dari pemeriksaan di bandara, ikut rapat bisnis di kantor dan belanja di mal atau makan di restoran. Mereka bisa menjadi "silent spreader" alias penular diam-diam, dan gelombang wabah berikutnya bisa melanda.

Riset kasus infeksi di Korea Selatan

Sebuah riset kecil yang dilakukan di kota Daegu dengan 198 responden menunjukkan, orang yang tidak punya sejarah terpapar COVID-19, tapi bermukim di kota dengan kasus tinggi, sekitar 7,6 persennya memiliki antibodi virus corona. Ini merupakan indikasi bahwa virus corona kemungkinan menyebar lebih luas ketimbang perkiraan sebelumnya.

Hasil riset menyebutkan, berdasar survei itu, diperkirakan lebih dari 185 ribu warga kota Daegu, kota terbesar keempat di Korea Selatan dengan populasi 2,5 juta jiwa, kemungkinan terinfeksi virus corona. Hingga awal Juni, kota Daegu mencatat 6.886 kasus COVID-19.

"Estimasinya jumlah kasus yang tidak terdiagnosa, bisa mencapai 27 kali lipat lebih tinggi dari kasus yang dikonfirmasi berdasar tes PCR di Daegu," demikian laporan riset yang dirilis Journal of Korean Medical Science (JKMS) kepada media lokal Selasa (21/07) malam.

Menanggapi hasil riset kecil di kota Daegu itu, direktur Korea Centers for Disease Control and Prevention (KCDC), Jeong Eun-kyeong mengingatkan agar hati-hati karena sampelnya terlalu kecil. "Kami juga punya estimasi lebih banyak kasus infeksi di Daegu dibanding yang dikonfirmasi. Kami sudah berbicara dengan pejabat kota, untuk melakukan tes antibodi terhadap 3.000 orang, untuk memperkirakan besaran jumlah kasusnya," ujar Jeong Eun-kyeong.

Tes antibodi atau serologi menunjukkan, apakah seseorang terpapar virusnya. Riset serupa yang dilakukan di berbagai kota menunjukkan kisaran paparan infeksi COVID-19 yang berbeda-beda, dari hanya serendah 0,1% di Tokyo hingga setinggi 17% di London.

as/rap (AP, Reuters)

(ita/ita)