Satelit 'Amal' Milik Uni Emirat Arab Diluncurkan ke Orbit Mars dari Jepang

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 20 Jul 2020 18:09 WIB
Jakarta -

Amal, yang berarti "harapan", dijadwalkan mencapai tujuannya pada Februari 2021, dan akan menghabiskan setidaknya dua tahun di orbit Mars. Wahana tak berawak itu dilengkapi berbagai instrumen untuk mempelajari atmosfer dan mengumpulkan informasi tentang perubahan iklim di Mars.

Menurut Uni Emirat Arab (UEA), misi tersebut akan memberikan gambaran lengkap atmosfer Planet Merah yang pertama. Peluncuran Amal tadinya dijadwalkan untuk 14 Juli, namun ditunda dua kali karena cuaca buruk.

UAE pertama kali mengumumkan rencana misinya ke Mars tahun 2014. Dengan mengembangkan program luar angkasa, UEA berusaha untuk mengembangkan keahlian lokal dalam sains dan teknologi, dengan harapan kelak bisa mengurangi kebergantungan pada minyak.

"Misi Mars Emirat adalah pesan harapan bagi para pemuda Arab," kata Omar Sharaf, kepala proyek misi mars UEA dalam sebuah video yang diposting ke Twitter hari Minggu (19/7). "Jika sebuah negara muda seperti UEA mampu mencapai Mars dalam waktu kurang dari 50 tahun, maka kita dapat melakukan lebih banyak hal sebagai suatu wilayah.''

Sarah al-Amiri: Perempuan yang memimpin misi Mars Uni Emirat Arab

Mimpi Sarah al-Amiri lahir ketika melihat gambar Galaksi Andromeda pada usia 12 tahun. Namun dia tidak pernah berpikir akan memimpin misi luar angkasa negaranya menuju Mars sebagai Menteri Riset dan Ilmu Pengetahuan UAE.

"Sebagai seorang perempuan muda, pada usia 12 tahun, saya melihat gambar Galaksi Andromeda, galaksi terdekat dengan Bima Sakti kita," kata Sarah al-Amiri dalam acara TEDx Talk 2017 di Dubai. Dia mengatakan itulah yang mendorongnya untuk belajar sebanyak-banyaknya tentang ruang angkasa.

Peluncuran Amal menuju orbit Mars kini menjadi salah satu peristiwa puncak dalam karirnya. "Kami adalah negara baru yang terlambat bersaing dalam perspektif global," kata Sarah al-Amiri kepada jurnal ilmiah Inggris Nature awal bulan ini. "Wajar bagi orang untuk berpikir bahwa ini gila," tambahnya.

Sarah al-Amiri ditunjuk sebagai kepala Dewan Sains UEA pada 2016 dan setahun kemudian, dia diminta untuk menjadi menteri Riset dan Ilmu Pengetahuan.

"Demi kepentingan umat manusia"

Misi ini juga menjadi istimewa karena menurut jurnal Nature, tim sainsnya didominasi oleh perempuan. Sebanyak 80 persen dari tim ilmuwan yang terlibat dalam misi ini adalah perempuan. Sebagai perbandingan, hanya 28 persen tenaga kerja di UEA adalah perempuan.

Sarah al-Amiri berharap, misi ambisius ini juga bisa untuk meningkatkan minat dan keterlibatan generasi muda UEA di bidang sains, teknologi, teknik dan matematika.

"Ilmu pengetahuan bagi saya adalah bentuk kolaborasi paling internasional," kata Sarah al-Amiri. "Ini tidak terbatas, tanpa batas negara, dan didorong oleh semangat para individunya demi kepentingan kemanusiaan," ujarnya.

hp/rzn (rtr, ap)

(ita/ita)