Inggris Tuduh Rusia Mencoba Intervensi Pemilu 2019 di Inggris

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 17 Jul 2020 13:27 WIB
Jakarta -

Pemerintah Inggris mengatakan hari Kamis (16/7) bahwa Rusia berusaha untuk ikut campur dalam pemilihan umum 2019, antara lain dengan mencuri dokumen sensitif tentang perjanjian perdagangan bebas yang direncanakan Inggris dan AS dan membocorkannya secara online.

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab (foto artikel) mengatakan, penyelidikan pemerintah menemukan bahwa "aktor-aktor Rusia" berulang kali mencoba mengganggu pemilihan bulan Desember lalu.

"Hampir dapat dipastikan bahwa para aktor Rusia berusaha untuk ikut campur dalam Pemilu 2019 melalui penyebaran online dokumen-dokumen pemerintah yang diperoleh secara ilegal dan dibocorkan," kata Dominic Raab.

"Dokumen-dokumen pemerintah yang sensitif terkait dengan Perjanjian Perdagangan Bebas Inggris-AS diperoleh secara ilegal sebelum Pemilihan Umum 2019, dan disebarkan secara online melalui platform media sosial Reddit," tambahnya.

Komisi Intelijen dan Keamanan di parlemen Inggris mengatakan akan merilis laporan yang telah lama ditunggu tentang dugaan intervensi Rusia itu sebelum parlemen memasuki liburan musim panas minggu depan.

Komisi mengatakan laporan itu tidak dapat dipublikasikan tahun lalu karena saat itu Perdana Menteri Boris Johnson menolak persetujuannya menjelang pelaksanaan pemilihan umum. Laporan Komisi Intelijen dan Keamanan memang baru dapat dirilis setelah mendapat persetujuan pemerintah.

Rusia bantah dan sebut tuduhan campuri pemilu 'tidak berdasar'

Rusia dengan tegas membantah tuduhan campur tangan dalam pemilu Inggris.

"Kami hanya bisa mengatakan ini: Rusia tidak ada hubungannya dengan upaya-upaya ini. Kami tidak menerima tuduhan terbaru tanpa dasar soal campur tangan dalam pemilihan 2019," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada kantor berita TASS.

Rusia sudah beberapa kali dituduh mencoba ikut campur dalam pemilihan umum negara lain, termasuk pemungutan suara di Inggris sebelumnya. Ada spekulasi bahwa Rusia telah mencoba ikut campur dalam kampanye Brexit untuk memenangkan opsi meninggalkan Uni Eropa pada referendum 2016. Referendum itu dimenangkan opsi untuk keluar dari Uni Eropa dengan suara tipis.

Di Amerika Serikat, Pejabat Khusus Robert Mueller telah melakukan penyelidikan panjang terhadap tuduhan bahwa Rusia mencoba mencampuri pemilihan Presiden AS 2016 untuk memenangkan Donald Trump.

Rusia dan Presiden Donald Trump membantah tuduhan itu. Namun menjelang pemilu, komputer Partai Demokrat diretas dan lebih dari 19 ribu surat elektronik antara para pejabat partai disebarkan melalui WikiLeaks. Presiden AS Donald Trump kemudian memenangkan pemilihan presiden mengalahkan Hillary Clinton dari kubu Demokrat.

hp/gtp (rtr, ap)

(ita/ita)