Pariwisata Menurun, Harta Karun Kuil Myanmar Jadi Target Penjarah

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 07 Jul 2020 14:37 WIB
dw
Pagoda di kota kuno Bagan, Myanmar yang tahun 2019 diakui sebagai situs warisan dunia UNESCO (Getty Images/AFP)
Jakarta -

Setiap malam, sekitar 100 petugas kepolisian melakukan patroli di kawasan kota kuno Bagan seluas 50 km persegi, menyapu dengan cahaya obor di atas monumen yang runtuh untuk mencari penyusup.

"Pasukan keamanan kami berpatroli siang dan malam," kata Letnan Kolonel Sein Win.

Kota Myanmar memiliki lebih dari 3.500 monumen kuno seperti stupa, kuil, mural, dan patung yang masuk ke dalam Daftar Warisan Dunia Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) tahun lalu.

Namun pandemi Covid-19 menghalangi para wisatawan untuk mengunjungi obyek wisata situs baru yang ditemukan di Bagan.

Kelangkaan pengunjung ini membuat kuil dan hotel sepi, menghancurkan sumber mata pencaharian penduduk setempat, dan membuka pintu bagi pencuri.

Penjarahan artefak kuno marak

Dalam serangkaian pembobolan di situs suci pada awal Juni, sejumlah perampok menjarah 12 kuil yang berbeda, menyapu berbagai benda bersejarah, termasuk stupa tembaga, koin kuno, dan perhiasan batu giok.

Pasukan kepolisian daerah pun telah dikerahkan untuk mendukung patroli kepolisian, pemadam kebakaran dan satuan pengaman pariwisata setempat. Tim-tim mulai menyisir lokasi dengan jip, sepeda motor, dan berjalan kaki.

"Tidak mudah untuk berpatroli karena area ini sangat besar," kata seorang petugas polisi.

Mereka juga perlu waspada terhadap banyaknya ular berbisa di daerah itu.

Untuk saat ini, keamanan ekstra ketat tampaknya telah menggagalkan pembobolan di kuil paling bergengsi. Beberapa peninggalan berasal dari abad ke 11 hingga 13, era ketika Bagan adalah ibu kota kerajaan regional.

Kejadian ini merupakan yang pertama dalam beberapa dekade, ucap Myint Than, Wakil Direktur Departemen Arkeologi Bagan.

"Ketika ada turis di sini, tidak ada pencurian," jelasnya.

Bahkan jika mata pencaharian penduduk setempat hancur karena penurunan wisatawan, Than tidak percaya mereka akan "mengkhianati warisan nenek moyangnya".

Masa sulit di daerah yang bergantung pada pariwisata

Bagan menyambut hampir setengah juta pengunjung pada tahun 2019, sementara pada April tahun ini angkanya hanya mencapai 130.000 turis.Hotel dan restoran pun untuk sementara ditutup.

Penjual suvenir Wyne Yee mengatakan uang yang ia hasilkan pada bulan April terpaksa harus diatur untuk bisa mencukupi kebutuhan makan keluarganya selama enam bulan berikutnya.

"Tahun ini kita tidak punya uang lagi," katanya sedih.

Yee mengatakan ia sedih dengan penodaan kuil, tetapi seperti orang lain di daerah itu yakin para penjahat akan mendapat kutukan sebagai bentuk pembalasan terhadap tindakan mereka.

"Kuil-kuil Bagan tidak akan membiarkannya," katanya.

ha/as (afp)

(ita/ita)