Egalitarianisme Islam dan Ketegangan Rasial Antara Muslim AS

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 01 Jul 2020 11:41 WIB
Jakarta -

Hind Makki terbiasa mengingatkan murid di madrasahnya jika ada yang menggunakan kata "abd" atau "budak/hamba" dalam bahasa Arab untuk memanggil kaum kulit hitam Amerika Serikat.

"Mungkin 85% dari semua jawaban yang saya terima berbunyi 'oh, kami tidak bermaksud memanggilmu, tetapi orang Amerika'," kata Makki mengenang pengalaman tak sedap itu dalam sebuah diskusi virtual di tengah gelombang demonstrasi Black Lives Matter di Amerika Serikat.

"Fenomena ini adalah bentuk lain sikap anti kulit hitam, terutama terhadap warga Afrika-Amerika," kata perempuan muslim berkulit hitam tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, sebagian warga muslim di AS bergabung ke dalam aksi-aksi demonstrasi antirasisme yang melumpuhkan seluruh negeri. Buntutnya muslim Amerika lintas ras dan etnisitas juga ikut terseret ke dalam arus diskusi tentang identitas, kesetaraan rasial dan fenomena rasisme di kalangan kaum muslim sendiri.

"Semua orang membahas hal ini, entah itu seorang paman yang sudah hidup di sini sejak awal dekade 1970an, pensiunan doktor atau anggota dewan masjid, bahkan murid sekolah menengah atas di pinggir kota," kata Makki yang bekerja sebagai guru.

"Masalah ini harus lebih sering dibahas ketimbang kosakata atau istilah rasis yang seharusnya tidak Anda gunakan. Bagaimana kita bisa mencapai kesetaraan ras... di tempat-tempat yang memang bisa kita ubah?"

Refleksi komunitas muslim soal rasisme

Corak muslim di AS sangat beragam. Tidak ada jenis ras atau etnisitas yang bersifat dominan. Warga kulit hitam sendiri mewakili 20% dari total populasi, menurut survey Pew Research Center pada tahun 2017 silam.

Margari Hill, Direktur Eksekutif Muslim ARC, sebuah ormas Islam antirasisme di AS, mengaku kini lebih banyak warga muslim yang meminta bantuan menyusun agenda diskusi, menyediakan sumber informasi dalam bahasa Arab atau Bengali, atau untuk sekedar bertanya apakah sopan menggunakan sebutan "kulit hitam" atau sebaiknya "Afrika-Amerika."

"Ada banyak yang saling mengingatkan, atau mengimbau untuk melakukan refleksi diri," kata Hill. "Kami meminta kaum muslim untuk berkomitmen menanggalkan prasangka lama dan ikut membangun hubungan yang otentik," yang bisa bertahan lama.

Para aktivis kini berusaha memanfaatkan momentum untuk mengarahkan diskusi menjadi sesuatu yang punya jejak dalam. "Tantangannya adalah jika aksi protes berakhir dan tragedi selanjutnya terjadi, apakah diskusi ini masih akan berlanjut di komunitas muslim?," kata Imam Dawud Walid, Direktur Council on American-Islamic Relations di Michigan.

Dia mengimbau agar kepemimpinan organisasi-organisasi muslim di Amerika Serikat lebih mewakili keragaman ras dan etnisitas warga muslim AS.

Desakan tersebut didukung Basharat Saleem, Direktur Eksekutif Islamic Society of North America (ISNA), yang tidak memiliki perwakilan kulit hitam di dewan direksinya. Meski menilai sudah banyak berbuat untuk menjembatani kesenjangan ras di organisasinya, Saleem mengaku masih harus lebih banyak berbuat.

Dia memberikan contoh konvensi tahunan ISNA, yang kendati rajin memberikan podium diskusi kepada tokoh muslim Afrika-Amerika, namun tidak mampu menjaring minat muslim kulit hitam untuk datang.

"Kami harus lebih giat berkecimpung dengan komunitas ini," kata Saleem.

Dua sisi mata uang antara kaum migran dan warga kulit hitam

Melalui media sosial, warga muslim kulit hitam AS berusaha menyuarakan pengalaman mereka menyandang predikat minoritas ganda yang bergulat antara rasisme dan islamofobia.

Pengalaman menjadi korban rasisme bisa sangat "melelahkan," kata Hill. Dia berkisah pernah dipanggil "budak" dalam bahasa Arab di sebuah toko milik seorang muslim. Pada suatu waktu, dia ditanya apakah "benar-benar bisa membaca" al-Quran yang ingin dia beli. "Tidak ada yang merasa harus membuat pembelaan atas kemanusiaan atau keyakinan sendiri."

Ubaydullah Evans, seorang peneliti tamu di lembaga pendidikan American Learning Institute for Muslims, mengaku mengalami tindak "rasisme antarindividu" dari sejumlah warga muslim. Namun begitu dia juga mengakui ragam muslim nonhitam lainnya yang "selalu berusaha membantu membangun komunitas" dan bekerjasama dengan warga Afrika Amerika.

Walid, sebagaimana muslim yang lain, meyakini Islam mengkampanyekan egalitarianisme.

Sejak beberapa tahun terakhir sejumlah organisasi berusaha membangun jembatan. Beberapa kini mengeluarkan imbauan resmi agar tidak lagi menggunakan kata "abd" atau budak kepada warga Afrika-Amerika.

Menurut Ubaydullah Evans, sebagian muslim kulit hitam AS "sudah sedemikian menderita, akan sangat sulit bagi mereka untuk membangun rasa percaya." Tindak rasisme kepada muslim kulit hitam, kata Evans kepada Athlantic, lebih banyak berasal dari komunitas Arab dan Asia Selatan.

Menurut Sylvia Chan-Malik, yang mengajar Islam dan sejarah rasisme di Rutgers University, ketegangan antarmuslim banyak berakar pada persepsi yang berbeda tentang Amerika Serikat.

Karena ketika warga Afrika Amerika sejak awal melihat Islam sebagai pintu keluar bagi fenomena rasisme anti kulit hitam di AS, dan "bahwa polisi mengancam komunitas hitam," muslim dari kalangan migran sebaliknya "ingin mempercayai gagasan Amerika sebagai negeri harapan, dan mendukung penuh sistem," yang selama ini menganaktirikan warga Afrika-Amerika.

Dan karena Islam masuk ke AS lewat "kebudayaan, pengalaman dan perspektif budak Afrika," lanjut Chan-Malik, "Anda tidak bisa menceraikan Islam di Amerika dengan pengalaman pahit warga Afrika-Amerika."

*Laporan ini dibuat secara eksklusif oleh kantor berita AS, Associated Press, dan disadur sesuai konteks.

rzn/as (ap, the athlantic, nytimes)

(ita/ita)