Waspada Ancaman DBD di Tengah Pandemi COVID-19

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 23 Jun 2020 10:37 WIB
Jakarta -

Kementerian Kesehatan RI mencatat terdapat 68 ribu kasus demam berdarah (DBD) tersebar di 460 kabupaten/kota seluruh wilayah Indonesia. Dalam konferensi pers yang disiarkan langsung akun YouTube BNPB pada Senin (22/06), Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengungkapkan fase demam berdarah tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Nadia menyebut puncak demam berdarah biasanya terjadi pada Maret, namun tahun ini tambahan kasus masih terus terjadi hingga Juni.

"Jadi kalau kita lihat DBD puncak kasusnya setiap tahun selalu terjadi bulan Maret. Satu hal yang berbeda tentunya pada tahun ini adalah kami melihat penambahan kasusnya sampai di bulan Juni, kami masih temukan penambahan kasus yang cukup banyak. Artinya, angka ini adalah sesuatu yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kita melihat bahwa sampai saat ini kita masih temukan 100-500 kasus per hari," ujarnya.

Demam berdarah merupakan penyakit pada manusia yang disebabkan virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Kasus pertama demam berdarah di Indonesia ditemukan pada tahun 1968.

Perubahan iklim

Kepada DW Indonesia, dokter spesialis infeksi dan penyakit tropik dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Erni Juwita Nelwan, SpPD-KPTI, mengatakan perlu ada upaya berkesinambungan dalam mencegah penyebaran penyakit demam berdarah, antara lain dengan memberantas sarang nyamuk serta menjaga kebersihan di sekitar tempat tinggal.

"Bukan karena kita terpaku pada Covid-19 lalu kita jadi abai pada yang lain. Perhatian terhadap demam berdarah harus terus diingatkan bahwa ini adalah upaya yang harus terus-menerus dikerjakan," ujar Erni saat dihubungi DW Indonesia di Jakarta, Senin (22/06) siang.

Faktor cuaca dinilai turut berpengaruh dalam meningkatnya kasus demam berdarah di Indonesia. Faktor tersebut dapat mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti mulai dari telur, larva, pupa, hingga menjadi nyamuk dewasa yang biasanya selesai dalam waktu 10 hingga 20 hari.

"Sekarang kita fasenya climate change, bisa saja dalam seminggu ada hujan, ada (kondisi) tidak hujan. Ini akan memudahkan siklus hidup nyamuk itu berubah lebih cepat atau pendek," ujar Erni. Ia mengatakan bahwa saat ini telah beberapa kali terjadi hujan, sehingga fase perkembangan nyamuk dari jentik ke dewasa pun menjadi lebih cepat.

Jentik nyamuk Aedes aegypti hidup di kondisi yang lembab dan basah seperti tempat penampungan air. Erni menekankan bahwa gerakan 3M yaitu mengubur, menguras, dan menutup wadah-wadah yang jadi tempat bersarangnya jentik nyamuk harus terus dikerjakan. "(Jika) tidak ada nyamuk di sekitar kita, tidak ada jentik-jentik nyamuk yang berkembang biak di sekitar kita."

Infeksi ganda

Dari 460 kabupaten/kota yang mencatatkan kasus demam berdarah, sebanyak 439 di antaranya juga melaporkan kasus Covid-19. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, dalam konferensi pers yang disiarkan langsung akun YouTube BNPB, Senin (22/06), mengatakan bahwa infeksi ganda ini memungkinkan seseorang yang terserang Covid-19 juga berisiko terinfeksi demam berdarah.

Senada dengan Nadia, Erni mengungkapkan bahwa ia banyak menjumpai pasien yang terinfeksi demam berdarah dan Covid-19 secara bersamaan.

"Ini gejala demamnya lebih dominan, tapi secara klinis kita lihat gambaran pasiennya memang sakit demam berdarah pada umumnya. Demam akut 3-4 hari pertama, kemudian demam mulai turun disertai dengan kadar hematokrit naik, trombosit turun, leukosit turun. Jadi polanya tetap demam berdarah tetapi gambaran rontgen-nya itu seperti Covid-19. Di-swab ternyata hasilnya positif," papar Erni.

Namun, Erni yang berprofesi sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini enggan menyebut jika virus corona dapat mempermudah seseorang terinfeksi virus demam berdarah, begitu pula sebaliknya.

Menurutnya, belum ada data lebih lanjut terkait hal tersebut. Ia menekankan bahwa gejala demam berdarah berbeda dengan Covid-19. Pasien Covid-19 banyak memiliki keluhan masalah pernapasan seperti batuk atau sesak napas, dan gejala ini "hampir tidak dikeluhkan" oleh pasien demam berdarah.

Lebih lanjut Erni mengatakan ada pula kasus di mana pada saat awal pasien telah dicurigai menderita demam berdarah, tetapi tidak dicek virusnya. Saat kondisi pasien tidak juga membaik dan malah kian buruk ternyata pasien tersebut menderita Covid-19.

"Tidak bisa bilang demam berdarah mirip Covid kecuali kalau sudah ada bukti kalau pertama itu demam berdarah dan pada fase berikutnya ada infeksi Covid juga," jelas Erni.

Maksimalkan upaya fogging

Di tengah pandemi Covid-19 ini, lebih lanjut Erni mendorong untuk dilakukannya upaya pengasapan atau fogging secara maksimal demi memberantas nyamuk Aedes aegypti dewasa yang mempunyai daya jelajah sejauh 200-400 meter ini.

"Fogging itu tidak perlu berkerumun cukup ada petugas yang melakukannya. Nyamuk gigitnya dalam rumah, idealnya saat fogging rumahnya dibuka supaya obat yang disemprotkan membunuh nyamuknya, bisa mengenai semua nyamuk yang ada di dalam rumah. Demam berdarah itu indoor bite," papar Erni.

Sedikitnya ada 10 provinsi di Indonesia dengan jumlah kasus demam berdarah tertinggi, antara lain Jawa Barat dengan 10.594 kasus, Bali 8.930 kasus, Nusa Tenggara Timur (NTT) 5.432 kasus, Jawa Timur 5.104 kasus, Lampung 4.983 kasus, Nusa Tenggara Barat (NTB) 3.796 kasus, DKI Jakarta 3.628 kasus, Jawa Tengah 2.846 kasus, DI Yogyakarta 2.720 kasus, dan Riau 2.143 kasus.

Sementara, hingga berita ini diturunkan tercatat sedikitnya 46.845 kasus positif Covid-19 di Indonesia dengan 18.735 kasus dinyatakan sembuh, dan 2.500 kasus dinyatakan meninggal dunia.

rap/ae (dari berbagai sumber)

(ita/ita)