Finlandia Beri Uang Rp 9 Juta/Bulan pada 2 Ribu Pengangguran

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 02 Jun 2020 13:44 WIB
Jakarta -

Penulis asal Finlandia, Tuomas Muraja, menggambarkan dirinya kurang lebih seperti "kelinci percobaan pendapatan dasar" dalam bukunya yang bercerita tentang dua tahun ia menerima uang sebesar 560 euro (sekitar Rp 9 juta) per bulannya dari pemerintah Finlandia.

Selama empat tahun jurnalis itu mencari pekerjaan tetap, menghadiri kelas-kelas yang diselenggarakan oleh pusat pencari kerja, menerima tunjangan negara, serta melakukan berbagai pekerjaan sampingan. Sampai suatu saat ia diberi tahu bahwa dirinya telah dipilih untuk menjadi bagian dari eksperimen Pendapatan Dasar Universal negara itu, yang dimulai pada 2017.

Muraja dengan gembira mengingat saat awal menjadi kelinci percobaan. "Itu sangat melegakan karena saya tidak lagi berurusan dengan segala birokrasi," kenangnya. "Saya tidak perlu mengisi formulir apa pun atau menghadiri kelas apa pun, di mana mereka mengajarimu cara membuat CV dan semacamnya. Saya bisa berkonsentrasi pada pekerjaan saya, yaitu menulis buku dan cerita."

Muraja benar-benar melakukannya. Dalam dua tahun itu, ia menerbitkan dua buku, menulis banyak artikel, dan melamar 80 posisi. Ia juga berbincang dengan orang-orang yang menjadi kelinci percobaan dalam program Pendapatan Dasar.

Mereka rata-rata merasa senang. Seorang perempuan bahkan berhasil mendirikan kafenya sendiri setelah mengetahui bahwa dia punya jaminan penghasilan. Lulusan universitas dapat mengambil program magang bergaji rendah untuk mendapatkan pengalaman tanpa harus merasa khawatir apakah mampu membayar tagihan bulanan.

Sempat dinilai sebagai eksperimen gagal

Namun eksperimen pendapatan dasar ini belum mendapatkan banyak dukungan, baik di Finlandia maupun di luar negeri. Laporan awal menyebut skema itu "gagal." Namun, klaim ini ditolak oleh Minne Ylikanno, peneliti senior di Lembaga Asuransi Sosial Finlandia (Kela).

"Saya mengatakan eksperimen itu sukses," katanya. "Tidak ada negara lain di dunia yang menerapkan pendapatan dasar nasional berdasarkan undang-undang."

Temuan ini didasarkan pada pembandingan 2.000 peserta yang menganggur yang telah menerima uang sebesar 560 euro per bulan dari Januari 2017 hingga Desember 2018 dengan kelompok kontrol sebanyak 173.000 orang yang tidak menerimanya. Secara statistik, hanya ada perbedaan kecil antara kelompok studi dan kelompok kontrol dalam jumlah orang yang mendapatkan pekerjaan setelah dua tahun.

Tingkat stres dan rasa tidak aman pada kelompok orang-orang yang menerima uang sebesar 560 euro per bulan juga dilaporkan lebih rendah.

Ide meluas ke luar negeri

Namun, pemerintah dan politisi yang meneliti seberapa layak pemberian pendapatan dasar masih berfokus pada ongkos kebijakan tersebut. Itu adalah salah satu pertimbangan yang diajukan oleh Profesor Bernhard Neumrker, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi, Universitas Freiburg yang juga pendukung diberlakukannya pendapatan dasar universal.

"Jika menyangkut pendapatan dasar, sains masih tertinggal jauh di belakang," ujar Profesor Meumrker. "Para politisi merasa tidak yakin tentang hal itu, jadi mereka gunakan argumen yang mudah, seperti mengatakan semua orang akan jadi malas atau tidak ada dana untuk membiayainya. Maka kasusnya ditutup, berganti topik berikutnya."

Tetapi dia berpendapat bahwa tekanan publik yang meningkat dapat memaksa politisi untuk mulai berpikir dengan cara yang berbeda terkait masalah ini, terutama setelah adanya krisis akibat wabah corona.

"Jerman dan negara-negara Uni Eropa lainnya berpendapat semuanya berjalan baik-baik saja tanpa adanya program penghasilan dasar," kata Profesor Neumrker, "jadi mengapa harus memilikinya?"

"Sekarang krisis telah menunjukkan hal-hal yang menjadi serius bagi sistem negara kesejahteraan yang bersifat tradisional dan menurut hemat saya sudah ketinggalan zaman," ujarnya. Ia berpendapat bahwa jika diatur secara layak, pendapatan dasar bisa menjadi salah satu dari beberapa model yang menjanjikan dan berkelanjutan untuk ekonomi pasar modern dalam menghadapi digitalisasi, perkembangan baru, dan krisis.

Memang, eksperimen Finlandia ini masih berupa tahap awal, tetapi telah memberikan inspirasi di berbagai negara. Spanyol mulai menawarkan semacam bentuk penghasilan dasar kepada orang miskin yang kehilangan pekerjaan karena wabah corona. Kenya juga sedang melakukan studi selama 12 tahun terkait hal ini.

"Finlandia akan terus bereksperimen dalam kebijakan sosial," demikian prediksi Muraja, "Ini adalah hal yang baik."

ae/rap

(ita/ita)