Tanaman Herbal Artemisia Obat Mujarab untuk COVID-19?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 18 Mei 2020 18:15 WIB
Jakarta -

Covid Organics, minuman herbal yang berasal dari tanaman Artemisia, sudah ada di bibir setiap orang di Afrika selama beberapa minggu belakangan ini. Dalam presentasinya pada akhir April lalu, Presiden Madagaskar Andry Rajoelina mengatakan Covid Organics menangkal virus corona baru dan bahkan mampu menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh virus COVID-19. Kepala pemerintahan Afrika lainnya memuji penemuan ini, sementara sejumlah organisasi internasional memberikan peringatan.

Senyawa Artemisia telah lama digunakan sebagai pengobatan untuk malaria selama 20 tahun terakhir.

Ini bukanlah obat malaria pertama yang mendapatkan perhatian dalam usaha menemukan obat COVID-19. Dalam beberapa bulan terakhir, obat malaria hydroxychloroquine juga digunakan dalam proses penyembuhan pasien COVID-19 meskipun sedikit data yang mendukung efektivitas obat tersebut.

Ilmuwan Aljazair telah menguji efektivitas Artemisia terhadap SARS-CoV-2 pada bulan April - menurut penelitian mereka, Artemisia telah terbukti sedikit lebih efektif daripada hydroxychloroquine.

Para ilmuwan di Max Planck Institute Jerman di Potsdam merupakan bagian dari kerja sama sekelompok peneliti dari Jerman dan Denmark yang bekerja sama dengan perusahaan AS ArtemiLife untuk menguji apakah tanaman Artemisia dapat digunakan sebagai obat virus corona jenis baru.

"Ini adalah studi pertama di mana para ilmuwan sedang menyelidiki fungsi zat tanaman ini sehubungan dengan COVID-19," kata kepala penelitian, Peter Seeberger, dalam sebuah wawancara dengan DW.

Studi tersebut menggunakan ekstrak uji dari tanaman Artemisia annua, juga dikenal sebagai tanaman apsintus, serta turunannya seperti tanaman artemisinin.

Kejelasan akan Artemisia

Seeberger mengatakan uji coba Artemisia juga dianggap "cukup berhasil" terhadap penyakit selain malaria. Studi menemukan bahwa ekstrak Artemisia efektif dalam menghambat coronavirus SARS pertama (SARS-CoV) yang muncul di Asia pada tahun 2002 yang menyerang sistem pernapasan.

Lebih dari 300 juta pasien menerima obat berbasis Artemisia setiap tahun. "Bahan aktif juga telah dicoba dengan cukup sukses melawan penyakit lain," jelas Seeberger. Misalnya, ada laporan bahwa Artemisia efektif melawan coronavirus SARS pertama (SARS-CoV).

Namun, masih belum jelas apakah Artemisia dapat digunakan secara preventif atau sebagai agen terapi, kata Seeberger, "Kami saat ini sedang meneliti di kedua arah."

Para ilmuwan mengharapkan hasil uji coba dapat diketahui paling lambat akhir Mei. Jika Artemisia terbukti efektif dalam uji coba tersebut, tes lebih lanjut termasuk uji coba pada manusia, masih perlu dilakukan.

"Tetapi bahkan jika hasil uji coba berakhir dengan kekecewaan, itu tetaplah sebuah kemajuan," ujar Seeberger. "Di atas itu semua, akan memberikan kejelasan. "

Obat mujarab tanpa bukti

Pada akhir April, Presiden Madagaskar Andry Rajoelina menggembar-gemborkan ramuan yang mengandung ekstrak Artemisia dan herbal lainnya sebagai obat manjur untuk virus corona.

Sejak itu, media di Afrika terus memberitakan potensi ramuan tersebut dan beberapa negara Afrika telah memesan ramuan tonik herbal tersebut dan dijual dengan nama COVID Organics.

Kepada DW, Direktur Lembaga Penelitian Terapan IMRA Malagasi, Charles Andrianjara, menyinggung sedikit tentang "tes pada beberapa orang" untuk perincian studi ilmiah tentang ramuan tersebut, dan merujuk pengalaman bertahun-tahun dengan ramuan tersebut.

Namun, dia tidak dapat memberikan penjelasan spesifik yang membuktikan kemampuan ramuan herbal tersebut untuk mencegah atau mengobati COVID-19.

"Juga sulit bagi para ilmuwan lain untuk menguji ramuan tersebut karena formulanya dirahasiakan," ungkap Andrianjara kepada DW. Alasan lain menurutnya yakni terkait perlindungan hak kekayaan intelektual.

Peringatan WHO

Badan Kesehatan Dunia (WHO), dalam situsnya memperingatkan bahwa "tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa COVID-19 dapat dicegah atau diobati dengan produk-produk yang terbuat dari tanaman Artemisia."

Michael Yao dari Kantor Regional WHO untuk Afrika mengatakan, meskipun ada kemungkinan pengobatan baru dapat berasal dari obat-obatan tradisional, publik harus menahan diri untuk tidak menggunakan obat yang belum diuji coba untuk virus corona.

"Tidak ada bukti. Kami tidak tahu obat-obatan tradisional ini, yang direkomendasikan oleh negara-negara atau pemerintah, sebenarnya efektif dan tidak berbahaya bagi kesehatan manusia," katanya kepada DW.

Senada dengan Yao, Helen Rees, Direktur Eksekutif Wits Reproductive Health and HIV Institute di University of Witwatersrand di Johannesburg, mengatakan bahwa minat terhadap pengobatan tradisional telah meningkat dalam 10 hingga 20 tahun terakhir, tetapi "Anda harus dapat menunjukkan keamanan dan efektivitas berdasarkan studi klinis."

Sementara beberapa negara Afrika, seperti Tanzania, Togo, dan Chad dilaporkan telah memesan ramuan tersebut, namun negara lain seperti Nigeria lebih berhati-hati.

Koordinator Nasional COVID-19 Nigeria Sani Aliyu mengatakan pekan ini dalam sebuah konferensi pers bahwa potensi obat COVID-19 akan dikenakan evaluasi "ketat", menurut surat kabar Nigeria Punch.

"Saya ingin memulai secara singkat dengan pengobatan dari Madagaskar karena telah menjadi berita baru-baru ini," kata Aliyu. "Seperti yang diarahkan oleh Bapak Presiden, saya ingin menyampaikan lagi bahwa obat apa pun yang masuk ke negara apakah itu obat herbal atau ramuan tradisional atau obat pada umumnya harus melalui proses regulasi."

Keuntungan tersendiri

Presiden Madagaskar Andry Rajoelina terus membela COVID Organics dari banyaknya kritik. Dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio Prancis pada hari Senin (11/05), ia mengatakan dunia tidak mau mengakui "negara seperti Madagaskar mengembangkan formula ini untuk menyelamatkan dunia."

Peter Seeberger percaya bahwa Madagaskar bisa mendapatkan keuntungan jika ekstrak Artemesia terbukti efektif dalam studi Max Planck dan uji klinis selanjutnya.

"Saat ini, sekitar sepuluh persen dari kebutuhan artemisinin untuk obat malaria diproduksi di Madagaskar," kata Seeberger.

Karena itu, bagus bagi Madagaskar untuk menghasilkan lebih banyak ekstrak secara lokal. (rap/pkp)

Eric Topona dan Frejuns Qenum turut berkontribusi dalam artikel ini.

(ita/ita)