Virus Corona Ubah Kebiasaan Orang Jerman Membayar dengan Uang Tunai

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 14 Mei 2020 18:18 WIB
Berlin -

Orang Jerman sering disebut-sebut sebagai "Raja Uang Tunai", karena kebiasaan membayar segala hal dengan uang tunai saat berbelanja. Ini memang hal yang tidak lumrah lagi di kalangan negara-negara industri. Tapi ada banyak alasan mengapa orang Jerman segan membayar dengan kartu, apalagi membayar lewat smartphone di kasir. Bahkan masih banyak toko dan restoran yang menolak pembayaran dengan kartu.

Tetapi sekarang, situasinya mulai berubah, apalagi setelah wabah Corona meluas dan orang-orang cemas tertular COVID-19. Untuk menghindari kontak dekat saat membayar dengan uang tunai dan kemungkinan menerima kembalian uang, makin banyak orang yang menggunakan pembayaran dengan kartu atau lewat aplikasi langsung dari smartphone.

Selain itu, pembelian online juga makin marak untuk barang-barang rumah tangga, yang biasanya bisa dibeli di supermarket. Dengan penerapan lockdown dan pembatasan kegiatan, makin banyak orang juga memesan makanan secara online. Perubahan ini tampaknya akan tetap dipertahankan setelah pandemi berlalu.

Pertumbuhan lambat dalam penggunaan kartu

Kebiasaan orang Jerman membayar dengan uang tunai selama ini harus diantisipasi dengan penyediaan jutaan uang kertas euro dan miliaran uang logam, dan pengelolaan sekitar 58.000 mesin ATM yang digunakan publik untuk mengambil uang tunai atau bertransaksi dengan bank.

Transaksi dengan uang tunai sebenarnya menyebabkan biaya pengelolaan yang cukup tinggi, karena semua uang itu harus diproses. Uang harus dihitung, disimpan dan diangkut ke bank dan dimasukkan ke mesin-mesin ATM. Uang yang masuk ke kas juga perlu disortir, dan dari toko dan supermarket dibawa kembali ke bank. Biaya ini secara global diperkirakan menghabiskan 0,5 persen dari Produk Domestik Brutto dunia.

Menurut sebuah survei yang dilakukan bank sentral Jerman Bundesbank untuk tahun 2017, 74 persen transaksi di Jerman dilakukan dengan uang tunai, terutama untuk jumlah di bawah 50 euro.

Khawatir dengan data pribadi dan manipulasi

Menurut survei terbaru organisasi pengamat sistem pembayaran di Jerman, Initiative Deutsche Zahlungssysteme (IDZ), di masa pandemi Corona, 41 persen penduduk Jerman mengatakan mereka sekarang lebih sering menggunakan kartu debitnya ketika berbelanja. Meski begitu, mereka menyatakan tetap khawatir dengan perlindungan data pribadi mereka, dan juga takut jadi korban penipuan atau manipulasi.

Tapi sekarang, makin banyak orang yang mulai terbiasa dengan pembayaran non-tunai. 57 persen orang Jerman mengatakan, mereka sekarang lebih sering menggunakan kartu debit maupun kartu kredit untuk untuk pembayaran. Direktur IDZ Ingo Limburg menerangkan, tren ini kemungkinan akan makin kuat lagi. "Tren pembayaran dengan kartu akan meningkat dengan cepat," katanya kepada DW.

Tapi Ingo Limburg juga mengingatkan, otoritas keuangan harus memperhatikan kekhawatiran pelanggan dengan serius, terutama menyangkut standar perlindungan data yang berlaku di Eropa. Pasalnya, standar perlindungan data di Eropa jauh lebih ketat dibandingkan di negara-negara lain, seperti misalnya di Amerika Serikat. Padahal banyak raksasa bisnis online berasal dari AS atau Asia.

Banyak kemudahan

"Kami cukup skeptis tentang kebijakan perlindungan data dari para pemain utama dari AS. Data-data dari transaksi pembayaran tidak boleh digunakan begitu saja untuk tujuan lain, seperti misalnya untuk pemasaran atau pembuatan profil (pemilik kartu). Pemilik kartu harus memiliki kedaulatan penuh atas data-data sensitif ini," kata Ingo Limburg.

Selain itu, belakangan makin banyak kasus pencurian identitas lewat teknologi online. Juga ada isu lain: kesenjangan digital. Bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki akses ke bank atau akses online? Mereka akan tertinggal jika teknologi online digunakan makin luas dalam bertransaksi.

Tapi secara umum, Ingo Limburg yakin makin banyak orang Jerman yang secara permanen beralih dari kebiasaan membayar dengan uang tunai ke sistem pembayaran elektronik. Karena pelanggan dan pembeli akan menikmati kemudahan yang ditawarkan sistem elektronik. Jadi, dompet orang Jerman kelihatannya akan semakin tipis, ketika setumpuk uang kertas dan logam digantikan oleh beberapa kartu saja.

(hp/gtp)

(nvc/nvc)