Imbas Corona, Kematian Anak di Negara Berkembang Diprediksi Melonjak

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 13 Mei 2020 14:17 WIB
Jakarta -

Kematian akibat penyakit yang dapat dicegah pada anak-anak di bawah usia lima tahun, dapat meningkat hampir 45 persen selama enam bulan ke depan, ketika pandemi COVID-19 mengalihkan sumber daya kesehatan yang langka di negara-negara berkembang. Hal tersebut diungkap lewat sebuah laporan PBB pada Selasa (12/05).

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh The Lancet Global Health, negara-negara miskin di Afrika, Asia, dan Amerika Latin berpotensi memiliki angka tambahan sekitar 1,2 juta bayi meninggal selama periode itu.

Dalam enam bulan ke depan, sekitar 56.700 lebih kematian ibu juga bisa terjadi. Angka ini di luar 144.000 kematian yang telah terjadi di 118 negara yang sama. Angkanya diprediksi naik sekitar 40 persen.

Temuan ini didasarkan pada model komputer yang menghitung dampak dari adanya pengurangan keluarga berencana, perawatan antenatal dan postnatal (sebelum dan pasca melahirkan), kelahiran anak, vaksinasi, dan layanan pencegahan dan pengobatan.

"Di bawah skenario terburuk, jumlah anak yang meninggal sebelum ulang tahun kelima mereka secara global dapat meningkat untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade," ujar Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore.

10 negara akan miliki jumlah terbesar kematian anak tambahan

UNICEF mengatakan "kita tidak boleh membiarkan ibu dan anak menjadi korban dalam perang melawan virus dan kita tidak boleh membiarkan kemajuan selama puluhan tahun dalam mengurangi kematian anak dan ibu yang bisa dicegah menjadi hilang."

Jumlah terbesar dari penambahan angka kematian anak disebabkan karena kekurangan gizi, dan pengurangan dalam pengobatan sepsis neonatal dan pneumonia. UNICEF mengkhawatirkannya sebagai dampak pandemi.

Studi ini menemukan bahwa 10 negara yang memiliki jumlah terbesar penambahan kematian anak terbesar adalah Bangladesh, Brasil, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, India, Indonesia, Nigeria, Pakistan, Uganda, dan Republik Persatuan Tanzania.

Ini juga termasuk puluhan juta anak kehilangan vaksinasi campak, dan sekitar 370 juta anak yang biasanya mengandalkan makanan sekolah harus mencari sumber makanan lain.

UNICEF mengatakan akan meluncurkan kampanye global baru yang disebut "#Reimagine" untuk mencegah pandemi menjadi krisis yang berkelanjutan bagi anak-anak.

UNICEF mengeluarkan seruan mendesak pemerintah, publik, para pendonor, dan sektor swasta untuk merespon.

UNICEF: pandemi sebabkan krisis hak anak

Sebelumnya UNICEF mengajukan permohonan pada Senin (11/05) untuk dana $ 1,6 miliar atau sekitar Rp 23 triliun, lebih dari dua kali lipat permintaan awal untuk membantu anak-anak yang sudah menderita akibat krisis kemanusiaan dan sekarang terkena pandemi COVID-19.

UNICEF mengatakan sejauh ini telah menerima $ 215 juta dolar atau Rp 3,2 triliun.

"Pandemi adalah krisis kesehatan yang dengan cepat menjadi krisis hak anak," kata Fore.

"Dana ini akan membantu kami menanggapi krisis, pulih dari akibatnya, dan melindungi anak-anak dari efeknya."

UNICEF menemukan bahwa sekitar 77 persen atau 1,8 miliar anak-anak, tinggal di salah satu dari 132 negara yang memberlakukan pembatasan sosial sebagai upaya mencegah penyebaran COVID-19.

UNICEF memfokuskan respon pandemi pada negara-negara yang tengah berjuang dalam krisis kemanusiaan, dengan berupaya mencegah penularan dan mengurangi dampak COVID-19 pada akses ke kesehatan, nutrisi, air dan sanitasi, pendidikan, dan perlindungan.

pkp/rap (Reuters, AFP)

(ita/ita)