Sel Tidur ISIS Kembali Aktif di Irak

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 04 Mei 2020 17:03 WIB
dw
Serangan ISIS di Mukaishefah, 180km di utara ibu kota Baghdad, 3 Mei 2020 (Getty Images/AFP)
Baghdad -

Kelompok teror Islamic State di Irak diyakini sedang memanfaatkan karantina massal, penarikan mundur pasukan barat dan kisruh politik di Baghdad untuk menyiapkan serangan maut, klaim analis dan perwira dinas intelijen.

Serangan paling berdarah sejauh ini terjadi Sabtu (2/5) silam. Setidaknya sepuluh serdadu Irak meregang nyawa di tangan jihadis. Insiden di utara Baghdad itu dinilai mendemonstrasikan taktik baru ISIS untuk memperkuat eskalasi konflik.

Irak sudah mendeklarasikan kekalahan ISIS akhir tahun 2017 lalu. Namun sejumlah sel tidur bertahan hidup di utara dan barat Irak. Di kedua wilayah terpencil itu ISIS masih melancarkan serangan teror.

Gelombang teror memuncak awal April. Gerilyawan ISIS dilaporkan menembaki patroli polisi, melancarkan serangan mortir ke pemukiman penduduk dan menaruh bom di sejumlah tempat, tutur seorang warga lokal kepada AFP.

"Operasinya sudah memasuki level baru yang belum pernah kita saksikan untuk waktu lama," kata analis keamanan Irak, Hisahal´m-Hashemi.

Menurutnya gerilyawan ISIS bersembunyi di desa-desa hantu untuk melancarkan serangan ke kawasan urban. Desa-desa semacam itu bermunculan karena ditinggal penduduk yang melarikan diri dari perang.

Hisham meyakini sel-sel ISIS saat ini sedang berusaha mencari sumber dana baru, sembari membangun ulang rute penyelundupan dan tempat persembunyian. Mereka juga dilaporkan membidik infrastruktur lokal untuk memicu rasa panik.

Banjir teror di musim COVID-19

Beberapa hari sebelum serangan di provinsi Salahuddin, Sabtu silam, jihadis melancarkan serangan bom bunuh diri di depan markas besar dinas intelijen (INIS) di Kirkuk. Empat orang dikabarkan mengalami luka-luka.

Seorang perwira dinas intelijen mengakui intensitas serangan ISIS bertambah tiga kali lipat pada bulan April, dibandingkan bulan Maret.

Geliat teror Islamic State terasa pekat di Diyala, di luar kota Baghdad. Setiap hari, petani mengalami serangan bom atau senjata api di kebun sendiri. Akibatnya banyak yang ketakutan melanjutkan pekerjaan.

Adnan Ghadban, seorang manula di Baquba, bercerita dua saudaranya ditembak oleh gerilyawan ISIS saat berkebun pekan lalu. Keduanya saat ini masih berada dalam kondisi kritis, imbuhnya.

"Apa yang terjadi saat ini mengingatkan kami pada 2014," kata Adnan, merujuk pada serangan kilat ISIS yang melumpuhkan seisi negeri dan melahirkan kekhalifahan Islam di bawah Abu Bakar al-Baghdadi.

Salah satu alasan kenapa ISIS mendadak kembali menyeruak adalah wabah corona. Saat ini pemerintah Irak menyebar serdadu dan polisi untuk mengamankan karantina massal di seluruh negeri.

"Para jihadis memanfaatkan situasi ketika aparat keamanan sibuk menegakkan aturan karantina. Sebab itu mereka kini bisa bergerak dengan lebih bebas," kata Adnan kepada kantor berita AFP.

Celah keamanan di balik kisruh politik

Namun wabah bukan satu-satunya celah keamanan. Kisruh politik saat ini sedang melumpuhkan pemerintahan di Baghad. Anjloknya harga minyak dunia dan sengketa anggaran dengan otoritas Daerah Otonomi Kurdi menjadi biang persoalan.

"ISIS punya sensor untuk situasi politik. Setiap kali situasinya memburuk, mereka secara oportunis meningkatkan aktivitasnya," kata Fadel Abu Raghif, analis politik dan keamanan di Irak.

Dia dan seorang pejabat dinas intelijen di mabes INIS di Kirkuk meyakini penarikan mundur 7.500 serdadu koalisi Amerika Serikat turut membuka jalan bagi ISIS.

Aliansi internasional itu diterjunkan ke Irak pada 2014 silam buat mengawal militer Irak mengawasi dan memerangi ISIS.

Tapi kini ancaman Islamic State dianggap sudah "bergeser," sebabnya koalisi mengosongkan barak di lima kota, termasuk di Kirkuk dan bekas ibukota ISIS, Mosul.

Situasi bertambah runyam ketika awal Januari silam pemerintah Irak mengusir pasukan AS menyusul pembunuhan komandan Brigade al-Quds bentukan Iran, Qasem Soleimani.

Ketika wabah melanda, koalisi memulangkan ratusan pelatih militer dan menghentikan program pendidikan di Irak. Langkah itu dinilai fatal karena kemampuan militer Irak yang dianggap belum memadai.

Ancaman "mentah" Islamic State

Belum lama ini Departemen Pertahanan AS melaporkan meski sudah menjalani pelatihan selama bertahun-tahun, pasukan Irak masih belum lihai mengumpulkan dan menggunakan informasi intelijen dalam perang melawan ISIS.

Para serdadu itu juga diklaim belum mampu menjalankan operasi di kawasan yang sulit, tanpa kawalan dari pasukan koalisi. "Tanpa kehadiran pasukan AS di Irak, IS kemungkinan akan hidup kembali," tulis Inspektur Jendral Departemen Pertahanan dalam laporan terbarunya.

Meski begitu ISIS diyakini belum akan mampu memulihkan kapasitas militernya serupa tahun 2014. "Mereka tidak akan bisa kembali besar seperti dulu," kata Abu Raghif.

Saat itu 'kekhalifahan' Abu Bakar al-Baghdadi meriap dari Mosul ke separuh wilayah Irak dan Suriah hanya dalam beberapa pekan. Nasib Khilafah itu lalu berakhir ketika AS membentuk koalisi internasional yang didukung milisi Kurdi di utara Irak.

Seorang perwira koalisi AS mengatakan kepada AFP, meski membukukan "serangan berskala rendah," ISIS belum dianggap ancaman besar. "Bukan cuma jumlah serangan, tetapi bagaimana kualitas serangannya. Apakah rumit? Jenis taktik dan persenjataan seperti apa yang digunakan?," tukasnya.

"Apa yang kita lihat baru-baru ini masih sangat mentah."

rzn/hp (AFP)      

(ita/ita)