Google: WHO dan Pemerintah AS Jadi Target Serangan Phising

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 23 Apr 2020 13:19 WIB
Jakarta -

Pakar keamanan Alphabet Inc. Google telah mengidentifikasi belasan kelompok hacker yang didukung pemerintah menggunakan pandemi COVID-19 sebagai kedok percobaan serangan phising dan malware. Serangan phising adalah sebuah metode penipuan untuk memperoleh informasi pribadi suatu akun seperti User ID, kata sandi, dan data-data pribadi lainnya melalui sebuah email.

Rabu (23/04), Google mengatakan bahwa Departemen Analisis Ancaman mereka mengidentifikasi kelompok hacker tersebut menargetkan organisasi-organisasi kesehatan dunia, salah satunya Badan Kesehatan Dunia (WHO).

WHO dan organisasi internasional lainnya yang tengah bejuang melawan pandemi virus corona, berada di bawah serangan siber di mana para hacker berusaha mencari informasi mengenai pandemi ini.

Sebelumnya Google mengumumkan telah mendeteksi 18 juta serangan phising dan malware terkait COVID-19 per harinya melalui domain email mereka, Gmail.

"Satu serangan yang teridentifikasi berusaha menargetkan akun pribadi pegawai pemerintah AS dengan umpan phising berkedok waralaba makanan cepat saji Amerika dan pesan COVID-19," jelas Google dalam pernyataan resmi di laman blog mereka.

Beberapa pesan juga menawarkan makanan gratis dan kupon promo selama pandemi COVID-19, sementara pesan lainnya berisi ajakan untuk mengunjungi laman-laman palsu yang berkedok jasa belanja dan pengiriman online, menurut pernyataan resmi Google.

Google mengaku saat ini tengah bekerja untuk mencegah ancaman-ancaman tersebut dengan menggunakan kombinasi alat investigasi internal, saling berbagi informasi dengan mitra-mitra dan penegak hukum, serta merujuk arahan dan rekomendasi dari peneliti pihak ketiga.

Uni Eropa coba pulihkan perekonomian

Sementara dari Eropa, para pemimpin Uni Eropa dijadwalkan akan bertemu pada hari ini (23/04) membahas paket kebijakan ekonomi sebagai usaha untuk memulihkan kondisi perekonomian Eropa. Seperti diketahui dua per tiga dari kasus positif COVID-19 di dunia berasal dari Eropa, akibatnya kondisi perekonomian Eropa melemah 7,1 persen menyusul kebijakan lockdown yang diberlakukan negara-negara anggota. Ini jadi pertemuan kali keempat dalam tujuh minggu terakhir,di mana sebelumnya disepakati stimulus ratusan miliar euro akan dibutuhkan.

Pandemi ini kembali membuka ingatan akan krisis keuangan global tahun 2008-2009 silam yang saat itu memecah Eropa utara dan selatan. Negara-negara di selatan Eropa seperti Italia dan Spanyol jadi negara paling terpukul pandemi COVID-19, menuntut bantuan keuangan dari negara-negara kaya di Eropa utara.

Dilansir kantor berita AFP, PM Italia Giuseppe Conte menuntut diberlakukannya pinjaman Uni Eropa bersama yang disebut dengan istilah "coronabonds." Dia mengatakan bahwa Italia tidak akan berkompromi dan tidak akan menyepakati "kesepakatan tawar-menawar." Sementara negara-negara di Eropa utara seperti Jerman dan Belanda urung untuk menyetujui "coronabonds" karena dianggap sebuah pemborosan.

Hingga berita ini diturunkan sedikitnya ada 2.628.527 kasus positif corona di seluruh dunia. Dari angka ini dilaporkan ada lebih dari 183 ribu kasus meninggal dunia, dan lebih dari 784 ribu kasus dinyatakan sembuh.

(rap/gtp) (Reuters, AFP)

(ita/ita)