Dari Yunani ke Jerman, Bagaimana 58 Pengungsi Anak Memulai Kehidupan Baru?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 17 Apr 2020 18:42 WIB
Berlin -

Minggu depan, 58 pengungsi anak-anak di bawah umur dan tanpa pendamping akan diterbangkan dari kamp penampungan pengungsi di pulau Lesbos Yunani ke Jerman. Semuanya berusia di bawah 14 tahun. Kondisi di kamp-kamp penampungan pengungsi memang parah. Mereka mengalami kelaparan, dan seringkali kekerasan. Dua minggu pertama di Jerman, mereka akan menjalani karantina.

Frank Mischo, dari organisasi Kindernothilfe (Bantuan Darurat untuk Anak-anak), adalah salah satu koordinator yang terlibat dalam proyek ini. "Anak-anak pengungsi itu harus diperlakukan secara khusus", katanya.

"Kita tidak bisa membiarkan mereka dikurung di pemukiman mereka," kata Frank Mischo kepada DW. Anak-anak harus bisa keluar di udara segar dan tidak dikurung di "sel isolasi." Banyak dari mereka yang mengalami trauma berat dengan apa yang telah mereka lalui, tambahnya.

Bantuan ibarat 'setetes air di lautan'

Frank Mischo mengatakan, "yang terpenting adalah bahwa anak-anak itu mendapatkan penjelasan lengkap, mengapa mereka harus diisolasi dan berapa lama hal itu akan berlangsung." Kindernothilfe telah bekerja sama dengan otoritas yang berwenang dan para spesialis. Organisasi-organisasi bantuan yang terlibat menyatakan, mereka akan membutuhkan tenaga penerjemah untuk membantu menjelaskan kepada anak-anak informasi yang paling mereka butuhkan.

Frank Mischo menerangkan, semua bantuan yang diberikan kepada anak-anak pengungsi ini ibaratnya hanyalah "setetes air di lautan." Pemerintah dan politisi Jerman menjanjikan akan membawa 300 sampai 500 pengungsi anak-anak ke Jerman, tapi itu pun masih jauh dari memadai.

Kindernothilfe mengatakan situasi di kamp pengungsi Moria di pulau Lesbos, Yunani, "sangat mengerikan." Organisasi itu memperkirakan ada lebih dari 40.000 pengungsi yang saat ini tinggal kamp-kamp pengungsi di pulau-pulau Yunani. Menurut Frank Mischo, ada sekitar 5.000 anak-anak di bawah umur yang mengungsi tanpa pendamping.

Memang tidak ada statistik resmi tentang itu. Namun terutama bagi anak perempuan, situasinya sangat berbahaya. Mereka sering dihadapkan dengan kekerasan seksual dalam kondisi kehidupan yang serba sempit di kamp pengungsi.

Dari karantina ke keluarga asuh

Pengungsi anak-anak yang akan tiba di Jerman pertama-tama akan ditampung di satu tempat sampai periode karantina berakhir. Mereka yang perlu perawatan akan dirawat di rumah sakit, yang tidak perlu perawatan nantinya akan dibagi ke negara-negara bagian yang sudah menyatakan bersedia menampung mereka.

Otoritas di Berlin bekerja erat dengan dua klinik khusus. Seorang juru bicara pemerintah di Berlin menjelaskan, ada struktur untuk memastikan bahwa anak laki-laki dan perempuan, yang dalam banyak kasus telah menghabiskan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun di penampungan pengungsi, bisa mendapatkan perawatan psikologis.

Anak-anak itu kemudian akan dibawa ke fasilitas untuk kesejahteraan remaja. Setelah itu mereka akan mendapat perawatan individual dan perhatian intensif dari spesialis kesejahteraan remaja. Barulah kemudian mereka bisa bergabung dengan keluarga asuh yang bersedia menerima mereka.

Menteri Urusan Keluarga di negara bagian Berlin, Sandra Scheeres mengatakan kepada DW, pihaknya sudah siap menangani anak-anak pengungsi itu "Dalam beberapa tahun terakhir, Berlin telah memiliki banyak pengalaman dalam penampungan, akomodasi, perawatan dan pendidikan pengungsi anak-anak tanpa pendamping. Jadi kita punya fondasi yang kuat," pungkas Scheer.

(hp/ as)

(ita/ita)