Kisah Transpuan Mesir Menjemput Kebebasan di Meja Operasi

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 08 Apr 2020 18:44 WIB
Kairo -

Malak el-Kashif dibesarkan sebagai laki-laki bernama Abdul Rahman. Meski mengidap disforia gender, permohonannya mengganti kelamin ditolak ulama al-Azhar karena tidak memenuhi syarat Fiqh dan melawan kodrat tuhan.

Pada suatu malam tujuh tahun silam, Malak el-Kashif memutuskan menanggalkan identitasnya sebagai bocah laki-laki berusia 13 tahun bernama Abdul Rahman. Di hari ulang tahunnya itu dia melarikan diri dari rumah dengan hanya membawa pakaian yang melekat di badan, sejumlah alat rias dan uang tunai senilai 50 pound Mesir atau sekitar Rp. 100.000.

"Saya takut tapi tidak ragu sedikitpun. Tidak ada solusi lain saat itu," kata dia menegaskan.

Pada malam itu Abdul Rahman dilahirkan kembali sebagai seorang transpuan.

Sasaran Amarah Kaum Konservatif

Menyematkan diri dengan identitas gender nonbiner bukan perkara sepele di negara berpenduduk mayoritas muslim seperti Mesir. "Jika Anda mengungkap jatidiri, berorientasi seksual sejenis, maka Anda harus bersiap untuk berperang, perang yang besar," imbuhnya.

"Masyarakat akan berusaha menginjak-injak Anda dan memperlakukan Anda layaknya musuh."

Malak tidak hanya kehilangan keluarga, tetapi juga menghadapi realita dirinya menjadi sasaran amarah kaum konservatif, ketika dia menggiatkan diri sebagai aktivis LGBTQ.

Namun gelombang permusuhan yang dia hadapi tidak menyurutkan niatnya membela hak-hak kaum transgender. Malak tampil di stasiun televisi dan bergiat di media sosial untuk menceritakan kisahnya menyebrang batas demarkasi gender dari bocah lelaki menjadi seorang transpuan.

"Jika saya ingin bersembunyi, saya hanya perlu menyembunyikan identitas, tetap tinggal di rumah orangtua, tidak menjadi transpuan dan mengalami ini semua…," kata dia. "Tapi itu bukan saya, bukan Malak. Malak adalah seseorang yang berbeda," imbuhnya.

Meski demikian dia masih berstatus pria dalam kartu identitasnya.

Jalur Berliku Pergantian Jenis Kelamin

Karena mengubah jenis kelamin bukan perkara mudah di Mesir. Prosesnya melibatkan uji kesehatan, terapi psikologi selama dua tahun, mendapat izin dari dokter spesialis dan juga otoritas agama.

Dr. Osama Abdel-Hay, Kepala Komite Perubahan Gender di dewan fatwa al-Azhar, Dar al-Ifta, mengaku pekerjaannya terhenti selama dua tahun lantaran berkonflik dengan ulama yang diutus mewakili pemuka agama.

Abdel-Hay tidak ingat berapa banyak izin perubahan jenis kelamin yang sudah diberikan. Namun menurut data komite, antara 2014 dan 2017 terdapat 87 permohonan yang dikabulkan lantaran alasan "fisik" tapi tidak ada yang diizinkan lantaran mengidap "kelainan identitas gender."

Kini di bawah sistem yang baru, komite harus mengirimkan setiap permohonan ke Dar al-Ifta di al-Azhar untuk disetujui. Duapertiga kasus yang diajukan biasanya ditolak, kata Abdel-Hay.

"Saya kira mereka sensitif dalam perubahan jenis kelamin karena mereka tidak ingin mengubah ciptaan Tuhan," imbuhnya. "Jika perubahan jenis kelamin tidak membutuhkan izin dari insitut agama, maka prosesnya akan lebih cepat."

Abdel-Hady Zarei yang mengepalai dewan fatwa al-Azhar, menilai pertimbangan hukum agama terkait perubahan jenis kelamin tidak bisa disamaratakan. Sebaliknya setiap kasus dipelajari oleh sekelompok cendikia yang juga berkonsultasi dengan pakar medis.

Dia menegaskan keputusan akhir bergantung pada kasusnya sendiri, sembari menambahkan pihaknya bergantung sepenuhnya pada „pakar medis karena mereka yang tahu masalahnya."

Nazeer Ayad, Sekretaris Jendral Akademi Penelitian Islam al-Azhar (AIRA) mengatakan perubahan atau koreksi pada jenis kelamin hanya diizinkan dalam „kasus langka," ketika misalnya yang bersangkutan berjenis kelamin ganda.

"Isu ini berada di ranah kesehatan," kata dia. "Jadi fatwa kami dan para ulama Fiqh akan berdasarkan apa yang dianjurkan para dokter."

Pembentukan Identitas di Usia Dini

Malak sendiri tergolong tidak beruntung lantaran mengidap „kelainan identitas gender" dan itu sebabnya tidak memenuhi syarat mengikuti jalur resmi perubahan jenis kelamin. Istilah itu sendiri kini sudah diganti oleh Asosiasi Psikiater Amerika menjadi 'disforia gender' yang menggambarkan konflik antara jenis kelamin bawaan, dengan jenis kelamin yang menjadi identitas orang yang bersangkutan.

Malak dibesarkan di keluarga yang Islami, di mana berlaku asas "laki-laki adalah laki-laki dan perempuan adalah perempuan." Sebagai bocah pria, dia mengaku menikmati kebebasan yang lebih besar ketimbang saudara perempuannya atau perempuan lain di desa.

Dia baru merasakan perbedaan ketika bermain boneka dengan bocah perempuan lain. Saat itu usianya baru sembilan tahun. "Mama saya bukan laki-laki. Saya perempuan," kata dia. Sang ibu lalu mengurungnya di kamar, dan ketika ayahnya pulang kerja, dia dipukuli.

Namun penggalan paling muram dalam kisah hidupnya baru terjadi kemudian, yakni "pergulatan di depan cermin. Tahun-tahun di mana saya bertanya siapa diri saya. Jika saya laki-laki lantas kenapa saya berpikir seperti ini? Dan jika saya perempuan kenapa saya terlihat seperti laki-laki," kisahnya.

"Ini adalah fase paling berat. Lebih berat ketimbang berhadapan dengan masyarakat, atau dipenjara," kata Malak.

Baru ketika saudara perempuanya bercerita tentang tokoh transgender di sebuah film televisi, dia mulai mencari tahu tentang identitas gender. Bocah laki-laki itu lalu bereksperimen dengan make up dan membuat identitas palsu di media sosial.

Pada hari ulang tahunnya yang ke13, kedua orangtua Malak melayangkan ultimatum, ikuti aturan atau minggat, "saya mengambil pilihan yang paling sulit," dengan melarikan diri, paparnya.

Menjemput Kebebasan di Meja Operasi

Pergulatan itu terpatri pada tubuh Malak. Goret panjang bekas luka di punggung mengisahkan percobaan bunuh diri saat meloncat dari lantai lima apartemennya sendiri. Luka-luka sayatan pada pergelangan tangan mengingatkan tentang upayanya mengakhiri hidup, lebih sering dari yang bisa dia hitung.

Suatu hari di masa lalu, dia keluar rumah mengenakan rambut palsu dan sepatu berwarna merah jambu. Ketika akhirnya ketahuan, ayah dan saudara laki-lakinya merobek baju Malak dan menyeretnya pulang ke rumah.

Ada ketakutan pada diri Malak bahwa dia kelak akan mati seorang diri, dan bahwa ibunya akan menganggapnya sebagai seorang yang "cacat."

Dia pernah ditangkap oleh polisi dan dijebloskan ke penjara laki-laki. Pada kali ketiga dibui, aktivis dari seluruh negeri menuntut dia dibebaskan. Malak mengaku polisi menempatkannya di sel isolasi.

"Dia mengalami trauma. Ini terjadi jika Anda melawan arus," kata Mozn Hassan, aktivis perempuan dan teman dekat Malak. "Apa yang dialaminya adalah contoh gamblang pengalaman kekerasan dan keterasingan yang intensif dan untuk waktu yang lama."

Transpuan itu kini hidup sederhana di sebuah kamar sewaan. Pada hari tertentu dia harus menerima nasib dipermalukan di depan publik. Ketika ke bank misalnya, pegawai teller selalu memanggil polisi sebagai saksi transaksi karena identitas Malak menyebutkan dia berjenis kelamin laki-laki.

Tapi segalanya mulai berubah tidak lama setelah ulang tahun terakhirnya, ketika Malak akhirnya melakukan operasi bedah kelamin. "Hari ini adalah hari di mana saya mengalahkan masyarakat," tulisnya di akun media sosial. "Mulai hari ini hanya ada seorang Malak."

rzn/as (Assosciated Press)

(ita/ita)