Warga Irak Tolak Pemakaman Korban Virus Corona

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 31 Mar 2020 18:25 WIB
Baghdad -

Bagi Saad Malik, kematian ayahnya akibat penyakit COVID-19 adalah awal dari mimpi buruk. Selama hampir sepekan dia mencari pemakaman yang mau menampung jasad sang ayah. Namun semua TPU di Irak sedang mengurung diri dan menolak melayani penguburan.

Sejak awal berbagai negara telah membatasi praktik pemakaman lantaran dapat mempercepat eskalasi wabah Corona. Di Irak, kondisinya tidak jauh berbeda. Otoritas keagamaan, suku-suku dan penduduk desa saat ini harus mengirimkan jenazah untuk disimpan di kamar mayat di rumah sakit.

"Kami tidak bisa mengadakan pemakaman buatnya dan belum bisa menguburkan jenazahnya, meski sudah sepekan sejak dia meninggal dunia," katanya kepada AFP dengan suara getir.

Malik berkisah keluarganya disantroni sekelompok pria bersenjata yang mengaku sebagai milisi sebuah suku dan mengancam akan membakar kendaraannya jika dia memakamkan ayahnya di kampung halaman sendiri.

"Bisakah Anda membayangkan di negeri yang luas seperti Irak, tidak ada sejengkal pun lahan untuk memakamkan sejumlah kecil jenazah?"

Ketegangan Memuncak Menjelang Wabah

Sejauh ini Irak mencatat 500 kasus COVID-19 dengan 42 angka kematian. Namun pengamat meyakini jumlah kasus penularan Corona jauh lebih tinggi, lantaran minimnya pengujian terhadap penduduk.

Pemerintah sejauh ini sudah memberlakukan karantina massal hingga 11 April, mengimbau penduduk berdiam diri di rumah dan menerapkan disinfeksi ketat di kota-kota besar.

Namun ketegangan yang memuncak membuahkan kisruh seputar isu pemakaman. Di beberapa wilayah, masyarakat menutup pemakaman sepenuhnya. Baru pekan ini anggota suku lokal mengusir pegawai Kementerian Kesehatan ketika hendak menguburkan empat jenazah korban COVID-19.

Ketika delegasi pemakaman itu mencoba menguburkan jenazah di kota lain, masyarakat lokal juga menggalang protes. "Kami merasa panik soal kesehatan anak-anak dan keluarga kami," kata seorang warga di dekat Baghdad kepada AFP. "Sebabnya kami melarang semua pemakaman di area kami."

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebenarnya sudah memublikasikan panduan pemakaman jenazah korban COVID-19. Arahan tersebut sudah diadopsi pemerintah Irak, kata juru bicara Kementerian Kesehatan Seif al-Badr.

Dia mengatakan pemerintah sudah mengambil semua langkah pengamanan untuk pemakaman korban wabah, antara lain menempatkan jenazah di dalam kantung pengaman, melakukan disinfeksi dan menguburkan jenazah di dalam peti khusus.

Dukungan bagi langkah pemerintah juga disampaikan Ayatollah Ali al-Sistani yang menerbitkan panduan Fiqh baru untuk wabah Corona, yakni dengan mewajibkan jenazah dililit dengan tiga kain kafan sebelum dikuburkan. Selebihnya dia mendesak umat muslim menyerahkan proses pemakaman kepada pemerintah.

Namun pesannya urung bergaung, ketika gelombang penolakan terhadap pemakaman terus mengalir, terutama dari Najaf dan Karbala, dua kota yang memiliki TPU terbesar di seluruh negeri.

Akrab dengan Kematian

Kementerian Kesehatan mengaku sudah berusaha membujuk otoritas Najaf untuk mengizinkan pemakaman. Namun permintaan itu ditolak.

Seorang petugas medis lokal yang tidak ingin disebut namanya mengisahkan cerita seorang suami yang kehilangan isterinya dan meminta otoritas lokal memulangkan jenazah ke keluarga.

"Serahkan saja jenazahnya. Saya akan menguburkannya di rumah saya sendiri," kata sang suami.

"Situasi ini muncul ketika angka kematian baru menyentuh angka 40 kasus. Apa yang terjadi kalau situasinya memburuk?" pungkas petugas medis tersebut.

Saat ini penduduk Irak tengah bersiap menghadapi eskalasi wabah yang diprediksi akan tiba dalam beberapa pekan ke depan. Namun kapasitas rumah sakit yang tidak memadai dikhawatirkan bakal memperburuk situasi. Selain itu kasus penculikan dan pembunuhan terhadap doktor dalam beberapa tahun terakhir ikut menggerogoti sistem kesehatan di Irak.

Menurut WHO, Irak saat ini memiliki 14 ranjang rumah sakit untuk setiap 10.000 penduduk. Sebagai perbandingan Indonesia mencatat 12 tempat tidur untuk 10.000 penduduk. Sementara di Korea Selatan jumlahnya mencapai 115 dan di Prancis 60 ranjang.

Buat Irak yang kenyang dilanda perang, kematian tidak pernah jauh dari kenyataan, kata Salem al-Shummary, sepupu Malik yang berusaha membantu pemakaman ayahnya. "Kami tidak lagi takut pada kematian," katanya.

Tapi di tengah wabah, "Kami hanya punya satu mimpi, yaitu memakamkan mereka yang mati," katanya kepada AFP.

rzn/vlz (afp)

(nvc/nvc)