Ribuan Pekerja Tinggalkan Bangkok karena Kehilangan Pekerjaan

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 31 Mar 2020 18:17 WIB
Bangkok -

Ribuan orang yang kehilangan pekerjaan kini berbondong-bondong kembali ke kampung halamannya, sekalipun pemerintah berulangkali memperingatkan agar penduduk hanya melakukan perjalanan, jika benar-benar terpaksa.

Kecenderungan serupa terjadi juga di India dan Indonesia. Selain pekerja domestik, Filipina dan Indonesia juga dibanjiri pekerja yang kembali dari luar negeri karena kehilangan pekerjaan.

"Sebelum krisis Corona, setiap 10 sampai 20 menit ada penumpang," kata Narong, sopir taksi berusia 50 tahun yang masih bertahan di Bangkok. "Sekarang saya sudah menunggu di sini sejak dua jam, dan tidak ada yang naik."

Sektor informal di bawah tekanan wabah Corona

"Perusahaan memang menurunkan tarif setoran mobil, dari 900 ke 500 baht," kata Narong. "Tapi bagaimana bisa membayar 500 baht? Sehari paling banyak saya dapat 300 baht."

Narong adalah salah satu dari sekitar 24 juta warga Thailand yang mencari nafkah di sektor informal, sebagai sopir taksi dan ojek, buruh harian, pekerja serabutan dan pedagang kecil.

"Saya tidak punya asuransi jaminan sosial. Kalau situasinya terus begini, saya harus pulang kampung, daripada meminjam uang di kota," tambahnya.

Pemerintah Thailand sudah menjanjikan bantuan langsung kepada pekerja informal yang terkena dampak wabah Corona. Mereka akan mendapat tunjangan 5.000 baht per bulan dan bisa mendaftar secara online di situs khusus dengan motto: "Tidak Ada Yang Ditinggalkan". Namun hanya beberapa saat setelah pengumuman, server situs internet itu macet karena kewalahan menampung serbuan orang yang ingin mendaftar.

Ancaman COVID-19 di pedesaan

Pulangnya para pekerja migran dari kota-kota besar dan dari luar negeri menjadi ancaman baru bagi Kawasan pedesaan. Hal ini tidak hana terjadi di Thailand, melainkan juga di negara-negara tetangganya, Kamboja, Laos dan Myanmar. Karena banyak penduduk dari negara itu yang bekerja sebagai buruh kasar di Thailand.

Menurut badan PBB untuk migrasi IOM, di Thailand ada 4 sampai 5 juta pekerja migran dari negara tetangga sebelum pandemi Corona. Padahal pelayanan kesehatan di negara-negara tetangga jauh lebih buruk dari Thailand.

"Di Kawasan ini memang ada jaringan klinik malaria," kata pakar kesehatan Inggris Al Edwards, yang pernah terlibat dalam program pembasmian demam berdarah di Asia Tenggara. "Tapi banyak negara di Asia Tenggara yang belum mampu menanggulangi penyebaran wabah Corona, dan mungkin akan mengalami situasi seperti yang dialami Italia dan Spanyol."

Thailand saat ini mencatat sekitar 1.500 kasus infeksi COVID-19 dengan sembilan orang meninggal. Hari Senin (30/3), pemerintah Thailand mengumumkan paket stimulus ekonomi yang baru senilai 500 miliar baht atau setara 15,3 miliar dollar AS. Sebelumnya pemerintah sudah meluncurkan program bantuan senilai 400 miliar baht, termasuk bantuan langsung dalam bentuk uang tunai bagi warga yang terkena dampak ekonomi krisis Corona.

hp/yf

(nvc/nvc)