Air Menjadi Senjata Ampuh di Suriah Utara?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 27 Mar 2020 17:50 WIB
Damaskus -

Suriah mengonfirmasi kasus COVID-19 pertama pada awal minggu ini. Di tengah krisis wabah corona, air semakin langka di wilayah-wilayah yang dikelola oleh Kurdi di Suriah utara. Pemasok air terpenting bagi sekitar setengah juta orang di wilayah itu, kini tidak bisa beroperasi. Namun alasan terhentinya pasokan air ini tampaknya lebih bersifat politis daripada teknis.

Stasiun pompa Alouk, yang terletak sekitar sepuluh kilometer di timur laut Serekaniye, berada di bawah kendali Turki dan milisinya. Sementara wilayah-wilayah yang dikuasai Kurdi di Suriah utara, telah lama menjadi duri bagi Turki. Ini pula yang menjadi alasan mengapa Turki menginvasi sebagian wilayah Kurdi Suriah di sepanjang perbatasan pada awal Oktober 2019. Dengan operasi bernama sandi "Operation Peace Spring" stasiun pompa Alouk kini jatuh ke tangan Turki.

Kekurangan air di saat yang sangat fatal

Air dari stasiun Alouk sudah tidak mengalir sejak Sabtu, 21 Maret lalu, demikian ujar Misty Buswell, direktur regional International Rescue Committee, IRC, kepada DW. Dari markas besar di ibu kota Yordania, Amman, Buswell menjelaskan bahwa telah terjadi gangguan berulang kali pada pasokan air sejak Oktober lalu. "Penghentian (pasokan) air ini tidak mungkin terjadi pada waktu yang lebih buruk lagi," tambahnya.

Buswell menyatakan keprihatinan khususnya bagi mereka yang berada di kamp-kamp pengungsi di wilayah Kurdi. Sekitar 67.000 orang terkurung di kamp di Al-Hol karena kebijakan karantina yang diberlakukan akibat wabah corona. Dengan terputusnya pemasokan air, bahkan untuk cuci tangan saja orang akan kesulitan. "Jika COVID-19 mencapai kamp-kamp, penyakit akan merembet seperti api," Buswell memperingatkan.

Sementara itu, pemerintah daerah Kurdi telah berusaha memasok air dengan mendatangkan tangki-tangki air, termasuk juga dari truk pemadam kebakaran. Demikian dikatakan Michael Wilk, dokter yang secara teratur menjadi relawan untuk layanan medis di wilayah Kurdi. Wilks mengatakan dia baru saja berbicara dengan kepala Bulan Sabit Merah Kurdi di wilayah Rojava. "Dia (kepala Bulan Sabit Merah) telah bekerja keras hingga kelelahan, dan berada di ujung ketahanannya," kata dokter asal Jerman itu kepada DW.

Bahkan jika air kembali mengalir, fasilitas medis tetap kesulitan untuk bisa terus berjalan, ujar Wilk. Ia geram, pengendalian wabah corona akan kian sulit akibat berhentinya pasokan air. Para dokter tidak dapat memberikan yang lebih daripada sekadar layanan dasar.

Wilk tahu dari pengalamannya sendiri bahwa peralatan unit perawatan intensif tidak tersedia di sini. Kasus COVID-19 pun hanya dapat diidentifikasi dengan mengamati gejala-gejalanya, karena laboratorium terdekat untuk melakukan tes berada di ibu kota Suriah, Damaskus.

Lagi-lagi etnis Kurdi diabaikan

Wilk ingat bahwa baru setahun lalu milisi Kurdi mengusir ISIS dari pertahanan terakhirnya di Baghouz. Ini adalah pertempuran yang dibayar mahal oleh orang-orang Kurdi, lebih dari 11.000 orang tewas dalam pertempuran tersebut. Tetapi alih-alih berterima kasih atas pengorbanan mereka, "orang Kurdi kembali diabaikan."

Dan ISIS masih belum juga terberantas habis. Propaganda lokal menunjukkan bahwa kelompok itu mengeksploitasi krisis COVID-19 untuk kepentingan mereka. "Apa pun yang membuat situasi di wilayah Kurdi lebih genting akan dimainkan oleh kaum Islamis," ujar Wilk.

Perebutan kekuasaan dan krisis kemanusiaan

Melalui aplikasi obrolan di internet, relawan Jerman Felix Anton mengatakan kepada DW bahwa telah terjadi kerusuhan di sebuah penjara di Hasakah. Di penjara itu ditahan 5.000 orang ISIS oleh pasukan Kurdi Peshmerga pada awal bulan ini.

Anton, yang telah tinggal di wilayah yang dikelola Kurdi di Suriah utara selama dua tahun, mengatakan dia bisa mengingat ada sekitar 10.000 istri ISIS yang berkewarganegaraan asing ditahan di kamp di Al-Hol. Di kamp itu banyak juga anak yang dilahirkan oleh para perempuan yang berasal dari Jerman. Dia memperingatkan bahwa kerusuhan bisa terjadi di sana jika kondisinya memburuk.

Kamal Sido, spesialis ahli Timur Tengah dari GfbV, organisasi Jerman yang bergerak membantu orang-orang yang rentan dan terancam, mengatakan bahwa gangguan pemasokan air berdampak kepada hampir satu juta orang.

Sido tidak merahasiakan siapa yang ia anggap bertanggung jawab atas ketegangan ini: Turki. Dia mengatakan pendekatan yang dilakukan Turki menunjukkan bahwa negara itu "akan berusaha keras untuk memperkuat kekuasaannya di Suriah utara dan menghalangi administrasi otonom oleh penduduk sipil setempat. Kebijakan Turki menginjak-injak hukum kemanusiaan internasional," tegasnya.

(ae/hp)

(nvc/nvc)