WHO: TBC Tetap Jadi Penyakit Infeksi Paling Mematikan Sedunia

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 25 Mar 2020 08:42 WIB
Jenewa -

Tuberkolosis atau TBC tetap jadi penyakit infeksi yang paling mematikan sedunia dibanding dengan penyakit infeksi lainnya. Organisasi Kesehatan Dunia-WHO melaporkan Selasa (24/3), sekitar 1,5 juta orang meninggal akibat infeksi bakterial itu pada tahun 2018. Dengan itu WHO ingin menekankan perhatian orang pada Hari Tuberkolosis Dunia setiap tanggal 24 Maret.

Sekitar 10 juta orang terinfeksi TBC setiap tahunnya, demikian laporan WHO di situs webnya. Lebih 4.000 orang meninggal tiap hari akibat tuberkolosis. Hanya sebagian kecil kasus global mendapat pengobatan yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa mereka.

Kelompok risiko tinggi wabah virus corona

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, pandemi virus corona COVID-19 saat ini menunjukkan, betapa rentannya pasien dengan kondisi paru-paru atau sistem kekebalan tubuh yang lemah, terhadap serangan wabah itu. Seperti sudah diketahui, TBC adalah penyakit yang menyerang paru-paru.

"Bagi jutaan orang yang mengidap TBC, wabah virus corona SARS-CoV-2 menjadi faktor bahaya yang sangat signifikan. Karena paru-paru dan daya tahan tubuh mereka telah dilemahkan oleh TBC," ujar Burkard Kömm direktur jawatan bantuan humaniter Jerman untuk lepra dan tuberkolosa (DAHW) kepada kantor berita EPD.

Akibat kemiskinan, kebanyakan pasien TBC rendah kualitas kesehatannya dan tidak punya akses memadai ke layanan kesehatan, tambah Kömm.

Korban tinggi di Asia dan Afrika

Pasien tuberkolosis di Asia dan Afrika kemungkinan besar akan menjadi yang paling banyak menjadi korban meninggal akibat wabah virus corona COVID-19 demikian prediksi DAHW. Saat ini lembaga humaniter Jerman itu membantu dan mendukung 241 proyek bantuan di 28 negara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa.

TBC saat ini sudah bisa disembuhkan, jika diberi terapi berkelanjutan dan berdisiplin sekitar 6 bulan dengan cocktail dari empat jenis antibiotika yang berbeda, demikian papar DAHW.

Namun juga dilaporkan banyak pasien yang menghentikan pengobatan di tengah jalan, yang membuat pengobatan berikutnya jadi makin sulit dan waktunya lebih panjang. Penyebab paling umum pasien menghentikan dini pengobatan adalah tidak adanya atau langkanya obat-obatan yang diperlukan.

as/vlz (WHO, epd,dpa)

(ita/ita)