Ilmuwan Berlomba Kembangkan Vaksin Virus Corona

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 23 Mar 2020 09:33 WIB
Wabah virus corona telah ditetapkan oleh WHO sebagai darurat global. Para ilmuwan di berbagai negara di dunia berlomba-lomba mengembangkan vaksin dari virus itu
Ilustrasi (AP Photo)
Washington DC -

Cara paling efektif mencegah infeksi adalah, memperkuat sistem kekebalan tubuh. Vaksin untuk menangkal influenza, dibuat dari virus yang dilemahkan atau bagian kode genetiknya. Vaksinasi membangunkan sistem kekebalan tubuh untuk siaga dan memacu produksi antibodi, yang bereaksi cepat menyerang virus target.

Pengembangan vaksin yang aman dan efektif, dalam kondisi normal perlu waktu lama, hingga 5 tahun. Tapi dalam kasus virus corona baru, terjadi perlombaan adu cepat. Sejumlah laboratorium lintas negara sudah bekerjasama dan beberapa diantaranya mulai melakukan ujicoba pada binatang.

Tapi apakah hasilnya sudah bisa digunakan segera, banyak pakar skeptis. Cepat itu relatif.

Dr. Hilary Marston dari National Institute of Allergy and Infectious Diseases mengatakan: "Jika semua hal berjalan sangat cepat, kita kemungkinan punya vaksin dalam waktu satu setengah atau dua tahun. Itu pun sudah sangat optimistis."

Imunisasi pasif dan obat alternatif

Mengingat pembuatan vaksin yang efektif melawan virus corona masih perlu waktu cukup lama, sangat penting untuk menolong orang yang sudah terinfeksi dan sakit dengan obat-obatan. Misalnya dengan imunisasi pasif, menggunakan antibodi pasien yang sembuh dari infeksi. Metode ini sudah digunakan pada penyakit lainnya.

Juga ada harapan dari obat-obatan yang sebetulnya dikembangkan untuk penyakit lain, yang bisa ampuh melawan COVID-19. Misalnya Remdesivir yang sejatinya dikembangkan untuk melawan Ebola. Ini sudah diujicoba saat epidemi di Afrika Barat pada tahun 2013. Walau tidak terbukti sangat efektif melawan ebola, tapi perusahaan menyebut itu punya efek pada virus corona. Artinya bisa membantu pasien COVID-19.

Pakar medis mengatakan, pemanfaatan ulang obat-obatan lain yang dikembangkan untuk melawan malaria atau HIV juga menunjukkan harapan. Uji klinis bagi komponen obat itu sedang berjalan.

(as/ml)

(nvc/nvc)