Sukses Membangun Karir di Jerman

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 11 Mar 2020 16:21 WIB
Berlin -

Keempat narasumber tersebut adalah Dr. Hutomo Suryo Wasisto, Prof. Hendro Wicaksono, Irma Kasri, dan Betharie Cendera Arrahmani. Keempatnya memiliki latar belakang pendidikan serta profesi yang berbeda di Jerman.

Dr. Hutomo Suryo Wasisto adalah spesialis dalam bidang teknologi nano dan kuantum. Ia adalah pemimpin grup riset Optoelectromechanical Integrated Nanosystems for Sensing (OptoSense) pada Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA) Technische Universitt Braunschweig.

Prof. Hendro Wicaksono adalah dosen di Jacobs University Bremen jurusan Teknik Industri. Irma Kasri adalah business development specialist pada SAP, perusahaan software multinasional. Betharie Arrahmani kini sedang menempuh master studinya di Technische Universitt Munich jurusan Pharmaceutical Bioprocessing Engineering. Betharie berbagi pengalamannya kuliah sambil bekerja di perusahaan farmasi Internasional, Celgene.

Keempatnya punya kisahnya alasannya masing-masing memilih Jerman sebagai tujuan studi hingga berkarir. Dari mengagumi sosok B. J. Habibie, mengagumi kehebatan teknologi di negara Jerman, alasan biaya pendidikan yang tidak begitu mahal dan adanya ragam tawaran beasiswa, hingga keberuntungan saat melamar posisi magang.

Tips berkarir di Jerman

Bagi yang bermimpi bekerja di korporasi besar, tentu masukan Irma Kasri akan sangat bermanfaat."Baca betul deskripsi pekerjaannya, apakah tepat dengan kualifikasimu? Lalu jangan senang dulu kalau hanya melamar enam posisi dalam sebulan, saya dalam enam bulan sempat melamar hingga 400 aplikasi – rata-rata orang Jerman melamar 125 aplikasi dalam enam bulan," jelas Irma.

Menurut Irma yang sempat bekerja sebagai manajer perekrutan, memilih calon pekerja yang tepat sangatlah subjektif, bergantung pada kebutuhan pihak pemberi kerja. "Ada yang mungkin jurusan bisnis tepat mengisi posisi tersebut, tapi kita pada akhirnya merekrut seseorang dengan latar belakang (studi) kultur, karena kita lihat ia adalah orang mau belajar,"ungkap Irma.

Bekerja di Jerman sering membuat kita merasa tidak percaya diri, salah satunya karena keterbatasan bahasa. "Cari apa yang autentik dari dirimu, dulu aku merasa kalah dalam bahasa, karena lihat mereka yang magang mereka semua native speaker. Aku pun coba cari keahlian lain seperti belajar excel dan visual basic, aku dalami itu dan akhirnya setiap ada sesuatu berkaitan dengan excel, datangnya ke aku," ujar Irma turut meyakinkan hadirin.

Mulai belajar kerja sejak masa kuliah

Sementara Betharie menyarankan, sebelum mulai bekerja di perusahaan besar, para mahasiswa sebaiknya melamar posisi working student. "Kalau ada event seperti company visit dan case study dengan perusahaan yang (menurutmu) menarik, ikuti itu karena ini bisa jadi ajang PDKT (red. pendekatan) dengan perusahaan dan menerka seperti apa kandidat yang mereka cari," ujar Betharie. 38 lamaran magang dikirim Betharie, 10 berhasil memanggilnya ke tahap interview dan menerimanya, keputusan pun harus dibuat Betharie menentukan tempat terbaik untuknya bekerja.

Dari tempat magang Betharie belajar banyak tentang dunia kerja, ia mengakui tak ada hierarki yang begitu kuat di perusahaan-perusahaan Jerman tempatnya bekerja. Ia memanfaatkan ini untuk berkembang dan mengasah softskill. "Jangan lupa meminta reference letter (red. surat rekomendasi) untuk nanti berguna melamar pekerjaan di tempat lain,"jelas Betharie.

Jerman juga buka peluang bagi pengajar asing

Jika tertarik dengan profesi di bidang akademis Prof. Hendro dan Dr. Hutomo bisa memberi jawabannya. Keduanya mengakui, untuk menjadi tenaga pengajar, Jerman berbeda dengan Indonesia. Jika di Indonesia perekrutan tenaga pengajar ditentukan oleh pihak pembuat kebijakan, sedang di Jerman dosen ditentukan oleh pihak user atau pengguna.

Setiap universitas punya ketentuan tersendiri dalam perekrutannya namun pelamar harus memiliki paten, publikasi, jam terbang yang cukup. Di Jerman untuk menjadi dosen setidaknya diperlukan mengajar 9-10 Semesterwochenstunden (SWS – periode semester per minggu) di Universitas atau 18 SWS di Fachhochschule (politeknik) sedang di Indonesia hanya sekitar 6 sks (satuan kredit semester).

"Selain itu, untuk menjadi dosen di Jerman diperlukan juga kemampuan untuk mengonsep mata kuliah dari perencanaan hingga implementasi termasuk membuat siswa yang kurang aktif mau ikut ambil bagian. Lainnya seperti keahlian memformulasi ide, meyakinkan orang lain, manajemen proyek, kemampuan negosiasi, dan networking juga penting," tegas Prof. Hendro.

Keduanya juga mengakui bahwa mengajar di Jerman tidak lah mudah. Dosen harus bersiap memberikan ilmu yang baru dan siap menghadapi mahasiswa Jerman yang terbilang kritis. Belum lagi bahasa Jerman yang bukan bahasa ibu bisa jadi hambatan dalam mengajar.

"Kita harus mendobrak prasangka bahwa Jerman hanya membuka diri bagi orang Jerman," tegas Hutomo. "Sebagai orang Indonesia, kita adalah pekerja keras, kita pun lebih flexible, kalau orang sini kerja 40 jam, ya 40 jam gitu terus pulang, kalau saya tidak bisa idealis begitu sama jam kerja. Saya kadang pulang lebih lama untuk meneliti (lebih lanjut). Bagi saya keputusan ambil Ph.D adalah keputusan yang sangat besar, sejauh mana kecintaan kita terhadap sesuatu dan kita mau eksplor lagi. Saya ingin berhasil, tidak mau pulang jadi Ph. D …Permanent Head Damage atau sekedar Pizza Hut Delivery ya," jelas Hutomo disambut tawa hadirin.

Selain sesi sharing dan tanya jawab "Diaspora Talk" juga sempat menghadirkan pengacara dengan spesialisasi hukum tenaga kerja, perusahaan, dan imigrasi, Magdalena Bernhard. Magdalena menjelaskan hak pelajar Indonesia untuk mencari kerja pasca studi dan menjelaskan lebih lanjut terminologi "spesialisasi" antara bidang studi dan pekerjaan yang dilamar. "Diaspora Talk" pun ditutup dengan sesi networking dalam grup bersama para narasumber.

(ita/ita)