Para Pemimpin Dunia Bahas Keamanan Timteng hingga Laut China Selatan

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 15 Feb 2020 01:44 WIB
Jakarta -

Apakah Amerika Serikat tetap akan berdiri di belakang aliansi pertahanan NATO? Apakah negara-negara Eropa perlu menggalang aliansi pertahanan sendiri? Apakah kondisi dunia makin kritis dengan situasi perubahan iklim ditambah berbagai ancaman keamanan karena konflik politik?

Inilah pertanyaan-pertanyaan mendesak yang akan dibahas di Konferensi Keamanan München, MSC 2020, yang berlangsung 14 sampai 16 Februari. Konferensi tahunan ini mempertemukan para kepala negara, menteri-menteri luar negeri dan pertahanan, serta perwakilan dari organisasi bisnis dan internasional dari lebih dari 40 negara untuk membahas situasi keamanan global.

Peserta tahun ini antara lain Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Ketua DPR AS Nancy Pelosi, dan pendiri Facebook Mark Zuckerberg.

Dominasi 'Barat' berakhir?

Prospek keamanan dunia memang terasa makin genting, tulis para penyusun "Munich Security Report", laporan yang dikeluarkan sebagai pengantar konferensi keamanan di München.

Situasi saat ini digambarkan sebagai kondisi yang menunjukkan "ketidakberesan": Apa yang dulu disebut sebagai "nilai-nilai Barat" dan dianggap "baik" sekarang makin diragukan. Bahkan di dunia Barat sendiri, orientasi dan integritas para pemimpinnya diragukan oleh banyak orang.

Salah satu contohnya adalah Presiden AS Donald Trump. Pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani bulan Januari lalu menunjukkan bahwa Trump siap mengambil risiko konfrontasi militer demi menegaskan kepentingan dan dominasinya di Timur Tengah (Timteng).

Sementara beberapa kalangan melihat Barat justru sedang mengalami "kebangkitan illiberalisme dan kembalinya nasionalisme." Di lain pihak, banyak negara Barat yang sekarang enggan terlibat dalam konflik kekerasan yang terjadi di luar negeri, sehingga tidak ada lagi yang meredam aksi-aksi kekerasan yang meluas seperti yang terjadi di Afrika atau Timur Tengah belakangan ini.

Perubahan geopolitik

Perubahan kekuatan geopolitik global juga akan mendominasi pembicaraan selama konferensi internasional yang berlangsung di Hotel Bayerischer Hof, München. Sengketa perbatasan di Laut Cina Selatan, konflik perdagangan antara AS dan Cina akan menjadi tema penting, termasuk merebaknya wabah virus corona jenis baru yang juga bisa berkembang menjadi krisis internasional.

Padahal, sebelumnya Cina masih menghadapi kekalutan politik di Hong Kong. Selama berbulan-bulan, pusat finansial terbesar Asia itu dilanda kelumpuhan akibat aksi-aksi protes massal.

Fokus penting lain di Asia adalah situasi di Semenanjung Korea. Tahun 2019, Presiden Donald Trump berjabat tangan dengan pempimpin Korea Utara Kim Jong Un untuk meredakan ambisi nuklir negara yang masih terisolasi itu. Tapi "kerukunan" itu tidak berlangsung lama. Rezim Korea Utara sekarang menuduh AS gagal menunjukkan fleksibilitas dalam perundingan nuklir dan malah menerapkan sanksi yang "brutal dan tidak manusiawi". Tokoh-tokoh senior dari Korea Utara dan Selatan juga diharapkan hadir akhir minggu ini di München, Jerman. (hp/ae)

(dnu/dnu)