Ekspor Beras Thailand 2020 Diperkirakan Capai Titik Terendah

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 13 Feb 2020 14:03 WIB
dw
Foto: AFP/Getty Images
Bangkok -

Asosiasi Eksportir Beras Thailand mengatakan pada Rabu (12/02) bahwa penurunan target ekspor negara itu adalah dampak dari sejumlah faktor seperti kekeringan, fluktuasi nilai tukar mata uang dan kompetisi dari negara produsen beras lain seperti India, Vietnam, Cina dan Myanmar.

Sementara Kementerian Perdagangan Thailand mengatakan bahwa kekeringan yang melanda wilayah pertanian di Thailand bagian tengah, utara dan timur laut, serta semakin ketatnya persaingan antara negara produsen menjadi faktor yang mengurangi ekspor.

Target ekspor tahun ini menurun sebesar 32,5 persen dari realisasi ekspor beras negara itu pada tahun 2019. Angka target ekspor 2020 yang diperkirakan sebesar 7,5 juta ton ini merupakan yang terendah sejak tahun 2013, ketika itu Thailand mengekspor 6,6 juta ton beras.

"Ada kemungkinan bahwa kita akan menempati posisi ketiga tahun ini," kata Chookiat Ophaswongse dari asosiasi eksportir beras Thailand.

"Vietnam tidak memiliki masalah dengan produksi mereka, sementara produksi kami akan berkurang karena kekeringan, sehingga harga mereka (beras asal Vietnam) lebih kompetitif," ujar Ophaswongse sambil mengatakan bahwa perkiraan ekspor 2020 adalah "target yang menantang."

Asosiasi juga mendorong pemerintah Thailand untuk mengembangkan varietas padi baru agar bisa memperluas pasar dan menjaga agar harga beras asal Thailand tetap kompetitif dibandingkan negara lain seperti Cina dan Myanmar.

Meskipun prospek lebih suram, asosiasi tetap berharap adanya peningkatan permintaan beras wangi dari pasar seperti Hong Kong, Singapura dan Cina dalam waktu dekat seiring dengan mewabahnya virus corona jenis baru.

Produksi beras nasional di Indonesia diperkirakan cukup

Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan produksi beras nasional pada tahun ini masih dapat mencukupi kebutuhan dalam negeri. Kementan menargetkan produksi beras tahun 2020 sebesar 3 juta ton per bulan sementara konsumsi beras nasional rata-rata mencapai 2,5 juta ton tiap bulannya.

Meski ketersediaan beras secara nasional masih diperkirakan cukup, Kementan tidak menutup adanya beberapa daerah yang rawan pangan, yaitu daerah yang produksi pangannya lebih rendah daripada konsumsi.

"Kondisi ini kalau tidak kita awasi, bisa terjadi kekurangan pangan," ujar Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan, Agung Hendriadi, usai rapat kerja nasional Pembangunan Ketahanan Pangan Nasional tahun 2020 di Bogor, Selasa (28/01).

Kementan mengatakan ada 88 kabupaten/kota yang rawan pangan, termasuk di antaranya yaitu Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Seribu yang termasuk ke dalam Provinsi DKI Jakarta.

Beras merupakan komoditas pangan utama bagi sebagian besar negara di Asia, termasuk Indonesia. Namun pengelolaan beras di Indonesia masih mengalami banyak kendala mulai dari penyediaan dan distribusi benih dan pupuk hingga panjangnya birokrasi distribusi.

Perbedaan data antara kementerian dan badan terkait yang mengelola beras pun masih kerap terjadi. Pada tahun 2018 perbedaan data produksi beras antara Kementan dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) membuat Indonesia mengimpor beras sebanyak 2,25 juta ton, sebagian besar dari Vietnam dan Thailand.

Kementan saat itu mengatakan, produksi beras nasional masih cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun karena perbedaan data dan mengingat harga beras dalam negeri yang terus melambung, Kemendag akhirnya melakukan impor beras.

ae/hp (Reuters, antara, sinartani, BPS)

(ita/ita)