Berhijab Atau Tidak, Atlet Muslimah Hadapi Nasib Serupa di Asia

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 05 Feb 2020 15:47 WIB
Jakarta -

Mengenakan hijab seharusnya sudah cukup bagi Aries Susanti Rahayu. Namun meski demikian, atlet panjat tebing Indonesia itu tetap saja kerap mendengar bisikan-bisikan nyinyir tentang hijab yang dikenakannya saat berolahraga. "Saya kadang-kadang merasa seperti telanjang karena pakaian kami agak ketat. Seperti pakai legging kan ketat. Itu yang mungkin sering menjadi bahan omongan," kisahnya kepada DW. "Saya tidak pedulikan celotehan itu karena saya tahu batas perilaku seorang wanita muslim."

Meski bertabur sukses, perempuan di Asia seringkali harus menghadapi tekanan sosial terkait pakaian yang mereka kenakan.

Kecepatannya memanjang dinding membuahkan julukan "perempuan laba-laba" atau "spiderwoman" bagi Aries. Dia memenangkan medali emas pada Kejuaraan Piala Dunia di Cina pada 2019 lalu. Setahun sebelumnya dia menyabet tiga medali emas sekaligus. Belum lama ini Aries memecahkan rekor dunia memanjat tebing dengan waktu 6,9 detik. Kurang dari tujuh detik!

Hal serupa misalnya turut dialami pelatih sepak bola perempuan pertama di Bangladesh. Mirona tidak mengenakan jilbab. Namun hal itu tidak menyurutkan komitmennya untuk menunaikan ibadah secara rutin sesuai ajaran agamanya. "Ketika saya mulai latihan, penonton di luar pagar biasanya menggoda saya dengan kata-kata provokatif. Mereka melakukannya karena kami mengenakan pakaian pemain. Kata-kata mereka itu 'membunuh' saya. Seringkali saya berpikir untuk tidak kembali ke lapangan," kisah Mirona saat diwawancara DW.

Selama enam tahun dia merumput untuk tim nasional perempuan. Hanya karena kecintaannya pada sepakbolalah yang membuat Mirona urung pensiun hingga kini. Dan kegigihannya itu membuahkan hasil. "Sekarang orang-orang memberi saya ucapan selamat jika cerita atau wawancara saya disiarkan oleh media," imbuhnya.

Lebih dari setahun yang lalu, Mirona mencatat sejarah saat diangkat sebagai pelatih perempuan pertama untuk sebuah klub sepakbola pria. Klub liga kedua, Dhaka City FC, menggaetnya di penghujung 2018 silam.

Bangladesh dan Indonesia memiliki populasi kaum muslim yang hampir separuhnya adalah perempuan. Namun angka keikutsertaan perempuan di dunia olahraga masih jauh di bawah kaum pria.

Kehidupan antara olahraga dan jilbab

Dilahirkan pada tanggal 21 Maret 1995 di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Aries Susanti sudah gemar memanjat pohon di usia kecil. Karirnya sebagai atlet baru dibibit saat dia duduk di bangku sekolah menengah atas.

Namanya menjulang ketika ikut Kejuaraan Dunia IFSC tahun 2017 dan memenangkan medali perak. Di tahun yang sama dia merebut juara ketiga pada Kejuaraan Asia di Teheran, Iran.

Popularitas Aries melonjak ketika dia memenangkan medali emas pada Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. Dan setelah memenangkan Piala Dunia 2018, dia menempatkan diri di puncak karir sejak dini. Padahal tidak sedikit yang kesulitan menyeimbangkan karier dengan tuntutan agama untuk menutup aurat. "Buat saya jilbab adalah identitas dan kewajiban sebagai perempuan muslim untuk menutup diri ketika dewasa," kata dia. "Bahkan di dunia olahraga pun, yang penting buat saya adalah menutupi tubuh saya dengan jilbab."

Bagi Rahayu, jilbab adalah masalah pilihan. "Yang paling penting adalah saya tidak menyakiti orang lain. Saya juga ingin mengenakan jilbab sepenuhnya seperti banyak wanita muslim lainnya, tetapi itu hanya mungkin jika Tuhan menunjukkan jalannya nanti. Saat ini, saya masih berolahraga."

Alamsyah M. Djafar, seorang sarjana Islam dari Indonesia mengatakan bahwa orang harus menghormati pilihan pakaian perempuan: "Kita harus menghargai pandangan mereka dan menghargai pilihan mereka, jika itu dilakukan dengan kehendak mereka sendiri," kata Djafar kepada DW. Jika mereka ingin berolahraga, mereka pun sebaiknya diberikan kebebasan. "Islam juga tidak melarang perempuan berolahraga. Sebab Islam mengajarkan menjaga kesehatan merupakan perintah dalam Islam,"imbuhnya.

Baca ke halaman berikutnya.

Bagi Mirona, terpilihnya ia sebagai pelatih kepala tim pria profesional awalnya mengejutkan. "Pelatih saya memberi tahu saya jika seorang ibu dapat membesarkan anak-anaknya, mengapa Anda tidak bisa melatih mereka? Perempuan bisa melakukannya", katanya kepada DW. "Saya mendapatkan inspirasi dan berpikir ya saya juga bisa melakukannya."

Selama tiga bulan pertama musim 2018-2019, klubnya bermain 10 pertandingan, menang 4, seri 3 dan kalah 3 pertandingan.

Di Bangladesh, kaum perempuan sejak tahun 1970-an atau 1980-an biasa memakai pakaian olahraga. Tetapi baru-baru ini bermunculan pertanyaan ketika sepak bola sekolah perempuan mulai eksis pada tahun 2003. Beberapa kelompok Islam mencoba untuk melakukan protes, meskipun mereka tidak berhasil.

Jangka panjang menuju kesetaraan gender

Advokat pekerja hak asasi manusia Bangladesh, Elina Khan, mengatakan bahwa penentangan terhadap kemajuan perempuan selalu ada di masyarakat. "Penentangan selalu terjadi. Mungkin dulu tidak terlalu menonjol karena belum ada media sosial," kata Khan kepada DW.

Namun, Khan mengatakan bahwa di Bangladesh orang jauh lebih toleran terhadap pakaian wanita dalam olahraga. "Saya tidak pernah mendengar olahragawan putri diminta mengenakan jilbab di Bangladesh," katanya kepada DW.

Sementara itu, Mirona yang berusia 26 tahun percaya bahwa perempuan seharusnya bisa berkembang lebih maju di Bangladesh. "Di negara Islam seperti negara kami, anak perempuan secara alami tertinggal jauh dalam bidang olahraga," jelasnya.

Ia dilahirkan di sebuah desa di distrik Bagerhat barat daya Bangladesh. Meski berasal dari keluarga yang mendukung hak perempuan, sebagai anak perempuan tidak pernah mudah untuk mengejar mimpinya sebagai seorang atlet. "Rintangan pertama datang dari lingkungan saya. Mereka bertanya mengapa seorang gadis bermain sepak bola, mengenakan baju anak laki-laki atau bermain di ladang seperti anak laki-laki. Mereka tidak bisa menerimanya dengan mudah."

Mantan pemain nasional ini mengatakan bahwa mentalitas yang melekat dalam masyarakat yang didominasi pria adalah anak laki-laki akan selalu mendapat prioritas dan anak perempuan akan tetap berada di posisi bawah. Mirona ingat betapa sulitnya untuk berurusan dengan rekan prianya selama menjalani masa pelatihan bagi pelatih.

''Mereka menggodaku. Mereka lupa bahwa kami (perempuan) juga memiliki kualitas untuk menjadi pelatih," jelasnya. "Kami berusia 20-25 tahun dan bersama-sama mengikuti pelatihan buat para pelatih. Setiap kali saya di berada peringkat antara 7 menjadi 10. Itu berarti banyak anak laki-laki tidak sebagus saya. ''

Mirona ingin menjadi pelatih papan atas di Bangladesh. Dia ingin memimpin tim pria dan perempuan nasional di negara itu.

Jangan menilai berdasarkan pakaian

Pekerja hak asasi manusia Bangladesh, Elina Khan menunjukkan bahwa kecenderungan dunia yang patriarkis selalu berusaha mengatur perempuan atas apa yang harus dipakai atau apa yang harus dilakukan.

Mengutip pengalaman di Bangladesh, dia berkata, "Pertama-tama, hal itu terjadi karena kurangnya kesadaran di kalangan masyarakat umum. Kedua, selalu ada beberapa orang yang ingin wanita tetap tertinggal. Dulu mereka sering berbicara tentang mengapa mereka pulang terlambat. Sekarang mereka berbicara tentang pakaian perempuan."

Bagi Rahayu dan Mirona, untuk menggapai impian, mereka ingin semua orang memandang mereka dan perempuan lain bukan sebagai objek, melainkan sebagai individu, dan tidak menilai perempuan atas apa yang mereka kenakan.

(ita/ita)