Peringatan Auschwitz: 'Pidato Saja Tak Cukup Hentikan Penyebaran Kebencian'

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 27 Jan 2020 16:41 WIB
dw
Foto: DW
Berlin -

Banyak dari mereka yang kini berusia lanjut melakukan perjalanan jauh ke Polandia selatan untuk menghadiri acara peringatan ini. Mereka datang dari Israel, Amerika Serikat, Australia, Peru, Rusia, Slovenia, dan negara-negara lain. Banyak yang kehilangan orang tua dan keluarganya di Auschwitz, yang disebut-sebut sebagai "pabrik kematian Nazi".

Sekitar 1,1 juta orang dibunuh di Auschwitz-Birkenau. Kebanyakan korban adalah warga Yahudi dari Hungaria, Polandia, Italia, Belgia, Prancis, Belanda, Yunani, Kroasia, Rusia, Austria dan Jerman. Acara hari Senin (27/1) akan dipimpin oleh Presiden Polandia Andrzej Duda dan Presiden World Jewish Congress, Ronald Lauder.

Wakil-wakil pemerintahan dari Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan beberapa negara Eropa juga akan hadir pada upacara resmi, termasuk Presiden Israel Reuven Revlin. Keluarga kerajaan dari Belgia, Spanyol dan Belanda, juga akan datang, dan delegasi besar dari Rusia. Pasukan Soviet membebaskan kamp konsentrasi Auschwitz pada 27Januari 1945, setelah pasukan Jerman melarikan diri.

Perlu tindakan tegas hadapi ujaran kebencian

"Ini tentang orang yang selamat. Ini bukan tentang politik," kata Ronald Lauder, ketika tiba di lokasi dan bertemu dengan beberapa penyintas. Dia memperingatkan bahwa para pemimpin harus berbuat lebih banyak untuk memerangi anti-Semitisme yang kini menyebar lagi.

"Pidato saja tidak cukup untuk menghentikan anti semitisme," tegasnya. Dia mengatakan internet juga turut menyebarkan kebencian terhadap Yahudi dan menyerukan undang-undang yang lebih ketat menghadapi penyebaran kebencian.

"Sayangnya sebagian besar pemerintah hanya berbicara, mereka tidak bertindak," tambahnya.

Peringatan bagi generasi muda

Menjelang upacara peringatan resmi, para penyintas dan keluarganya berjalan lagi melalui tempat-tempat di mana mereka menderita kelaparan, penyakit, dan hampir mati. Bagi sebagian orang, itu adalah satu-satunya tanah pemakaman bagi orang tua dan kakek-nenek mereka.

"Saya tidak punya kuburan untuk dikunjungi, dan saya tahu orang tua saya dibunuh di sini dan dibakar. Jadi, inilah cara saya memberi penghormatan kepada mereka," kata Yvonne Engelman, yang sekarang berusia 92 tahun dan tinggal di Australia.

Dia masih ingat dibawa ke Auschwitz dari ghetto di Cekoslowakia. Sampai di sana, dia dilucuti pakaiannya, dicukur botak dan dimasukkan ke dalam kamar gas. Tetapi kamar gas hari itu tidak berfungsi, dan seperti sebuah keajaiban, dia bertahan hidup dan selamat dari maut.

Jeanette Spiegel, 96 tahun, berusia 20 tahun saat dibawa ke Auschwitz, di mana dia disekap selama sembilan bulan. Sekarang dia tinggal di New York City, AS. Dia mengaku prihatin dengan kembali meluasnya anti semitisme.

"Kaum muda harus memahami, bahwa tidak ada hal yang pasti, dan hal-hal terburuk bisa terjadi lagi. Mereka harus hati-hati dalam memilih", katanya.

hp/vlz (dpa, rtr)

(ita/ita)