Serangan Iran di Irak Hanya Operasi Teatrikal Bukan Serangan Strategis

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 09 Jan 2020 17:15 WIB
Teheran -

Rabu (8/1) pagi, militer Iran menembakkan rudal ke markas militer Amerika Serikat (AS) di Irak sebagai serangan balasan atas pembunuhan Jenderal Garda Revolusi Iran dan komandan pasukan elit Quds Qassem Soleimani.

Menurut Departemen Pertahanan AS, puluhan rudal ditembakkan ke pangkalan udara Al Asad dan sebuah pangkalan udara di dekat Erbil di Irak utara.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa serangan AS terhadap Soleimani adalah tindakan pencegahan atas rencana Iran yang disebutnya akan menyerang diplomat dan tentara AS. Sebagai reaksi, Iran mengancam akan melakukan serangan balasan segera terhadap AS.

Pasca serangan udara oleh Iran, negara-negara Eropa meminta AS-Iran saling menahan diri agar tidak meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.

Setelah serangan udara Iran diluncurkan, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menulis lewat Twitter, tindakan itu adalah bentuk pertahanan diri yang proporsional. Serangan itu menargetkan pangkalan militer AS yang sebelumnya ditengarai telah meluncurkan serangan udara untuk membunuh Qassem Soleimani. Zarif juga menambahkan, Iran tidak ingin ada eskalasi perang.

Presiden AS Donald Trump juga menjawab lewat Twitter dan mengatakan, semuanya baik-baik saja dengan pasukan AS di Irak. Dia menegaskan tidak ada tentara AS yang jadi korban dalam serangan udara Iran itu, meskipun terjadi kerusakan di pangkalan militer Irak.

"Iran tampaknya akan mengendur," kata Trump dalam pidato yang disiarkan di televisi, Rabu (8/1).

Serangan teatrikal

Kalangan pakar mengatakan, serangan yang dilakukan Iran ke markas militer AS di Irak sengaja dibuat untuk tidak mengenai tentara AS. Tindakan itu juga untuk menunjukkan bahwa Iran mampu melakukan serangan balasan dengan presisi, namun sengaja tidak ingin lebih memperuncing situasi.

"Propaganda Iran menggambarkan serangan ini sebagai kemenangan telak untuk memenuhi seruan balas dendam atas terbunuhnya Soleimani. Dan mereka memberi selamat kepada warga Iran atas kemenangannya melawan AS," kata Ali Fathollah-Nejad, pakar Iran di organisasi Brookings Doha Centre.

"Mereka melakukan itu dengan maksud untuk menunjukkan bahwa seruan balas dendam mereka telah berakhir, dengan memberi pukulan besar bagi Amerika."

Menurut kantor berita pemerintah Iran FARS, serangan udara Iran menewaskan sedikitnya 80 tentara AS dan menghancurkan sejumlah besar drone dan helikopter. Namun, belum ada konfirmasi resmi atas klaim ini.

Pengamat Iran lain, Direktur Eksekutif Forum Demokrasi Asia Selatan di Uni Eropa, Paolo Casaca mengatakan, serangan rudal Iran lebih merupakan serangan simbolis dan bukan serangan strategis.

"Itu sangat simbolis, mereka menyerang di jam yang sama ketika AS membunuh Soleimani," ujar Casaca.

"Serangan ini adalah aksi resmi, bukan lagi dengan proksi (perwakilan), bukan serangan teroris terhadap warga sipil, namun berupa aksi militer."

Casaca mengatakan, menurut laporan yang ia baca, rudal itu tidak ditargetkan untuk mengenai fasilitas di pangkalan militer AS secara langsung. Selain itu, militer Iran tidak menggunakan teknologi rudal terbaiknya dalam serangan itu.

"Saya pikir, mereka tidak mencoba membunuh atau melukai tentara Amerika. Saya pikir itu lebih merupakan operasi teatrikal."

Baca juga: Pemakaman Soleimani di Kerman, Puluhan Pelayat Meninggal Terinjak-Injak

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Pemimpi tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengatakan bahwa serangan rudal Iran adalah tamparan keras bagi AS. Ia menambahkan bahwa aksi militer saja masih belum cukup. Presiden Iran Hassan Rouhani menyebut bahwa tujuan utama Iran setelah pembunuhan Soleimani adalah memaksa AS untuk menarik semua pasukan militernya dari Timur Tengah. Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mahdi, juga menyerukan agar AS segera menarik sekitar 5.000 tentaranya yang ditempatkan di Irak.

Namun analis urusan militer Iran, Hossein Aryan mengatakan, tujuan Iran dan Irak untuk mengusir tentara AS sulit terjadi. Sekalipun ketegangan meningkat, namun, para ahli mengatakan baik AS maupun Iran sebenarnya tidak mau ada perang terbuka di Timur Tengah.

"Saya pikir AS dan Iran tidak akan terlalu frontal berperang di Irak. Saya pikir Iran akan melanjutkan taktik mereka menggunakan serangan proksi dan menyamarkan serangannya," kata Paolo Casaca.

Ketegangan antara AS dan Iran telah berjalan hampir dua tahun, sejak Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa AS menarik diri dari Perjanjian Atom Iran, yang disepakati tahun 2015 oleh Iran, AS, Prancis, Inggris, Rusia dan Jerman setelah perundingan alot. Sejak itu, Trump memberlakukan kembali sanksi-sanksi ekonomi yang menyulitkan Iran, karena mereka tidak bisa lagi menjual minyak ke luar negeri. (pkp/hp)



(ita/ita)