Blunder, Militer AS Keliru Kirim Surat Penarikan Pasukan dari Irak

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 07 Jan 2020 18:22 WIB
Washington DC -

Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Mark Esper, pada Senin (06/01) membantah bahwa Gedung Putih sedang bersiap menarik pasukan AS keluar dari Irak. Pengumuman itu dikeluarkan setelah seorang jenderal penting AS di Irak memberikan sebuah surat kepada rekannya dari Irak yang isinya menyebutkan bahwa "pasukan AS akan keluar dari negara itu dalam beberapa hari atau minggu ke depan".

Surat itu dikirim oleh Kepala Satuan Tugas AS di Irak, Brigadir Jenderal William Seely kepada komando operasi bersama Irak, yang salinannya dilihat oleh beberapa kantor berita termasuk Agence France-Presse (AFP) dan Reuters.

"Bapak, untuk menghormati kedaulatan Republik Irak, dan seperti yang sudah diminta oleh Parlemen Irak dan Perdana Menteri, CJTF-OIR akan memposisikan pasukan selama hari-hari dan minggu-minggu mendatang untuk mempersiapkan pergerakan selanjutnya," tulis surat itu.

CJTF-OIR adalah singkatan dari Combined Joint Task Force - Operation Inherent Resolve yang merupakan satuan pasukan gabungan yang dibentuk oleh koalisi internasional pimpinan AS dalam melawan ISIS.

Surat itu mengatakan bahwa pasukan koalisi pimpinan AS dalam melawan ISIS itu akan mengambil langkah-langkah terukur untuk memastikan "pergerakan keluar dari Irak" dilakukan dengan aman dan efisien. Surat itu juga menyebutkan bahwa akan ada peningkatan lalu lintas helikopter di dalam dan sekitar Zona Hijau sebagai bagian dari persiapan pemindahan pasukan.

Baca juga:Jerman, Prancis dan Inggris Minta AS-Iran Saling Menahan Diri

'Tidak ada keputusan apapun untuk tinggalkan Irak'

Pentagon setelahnya membantah bahwa pihaknya memiliki intensi untuk menarik Pasukan AS dari Irak.

"Tidak ada keputusan apapun yang menyatakan kita meninggalkan Irak," ujar Menteri Pertahanan Mark Esper.

"Saya tidak tahu itu surat apa... Kami sedang mencari tahu surat itu berasal dari mana dan apa isinya. Tapi yang jelas belum ada keputusan yang dibuat untuk meninggalkan Irak. Titik," tegasnya.

Ketua Gabungan Kepala Staf AS Mark Milley mengatakan bahwa surat itu sejatinya "asli" tetapi tidak dimaksudkan untuk dikirim saat ini.

"Ini adalah kesalahan McKenzie," kata Milley kepada wartawan, merujuk pada Komandan Komando Pusat AS, Jenderal Frank McKenzie. "Harusnya suratnya tidak dikirim," tambahnya.

Bertahan atau keluar?

Pada Minggu (05/01), Parlemen Irak melakukan pemungutan suara atas sebuah resolusi yang meminta sekitar 5.200 pasukan AS untuk meninggalkan negara itu. Resolusi itu masih harus disetujui oleh pemerintah, yang saat ini dipimpin oleh pejabat sementara, termasuk Perdana Menteri Sementara Adel Abdul-Mahdi yang mengundurkan diri imbas protes massa anti-pemerintah. Meski demikian, ia mendukung resolusi itu.

Sebelumnya pada Senin (06/01), Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan bahwa baik Jerman atau negara lain yang terlibat dalam koalisi anti ISIS tidak akan tinggal di Irak tanpa persetujuan Baghdad.

The Bundeswehr atau Pasukan Militer Jerman untuk "sementara" dipindahkan keluar dari Irak, menurut sebuah surat yang diberikan kepada Kementerian Pertahanan dan Luar Negeri yang telah dilihat oleh media Jerman ARD. Mereka kemungkinan akan dipindahkan ke Yordania dan Kuwait, sembari menunggu perkembangan ketegangan yang terjadi antara AS dan Iran.

Pemungutan suara yang dilakukan pada Minggu di Parlemen Irak dilakukan menyusul kemarahan atas serangan udara AS di Baghdad pada Jumat (03/01), yang menewaskan Jenderal Iran Qasem Soleimani dan Komandan Tinggi Irak Abu Mahdi al-Muhandis.

Pada Senin (06/01), Perdana Menteri Irak Abdul Mahdi bertemu dengan Duta Besar AS Matthew Tueller dan mengatakan bahwa kedua negara perlu "bekerja sama untuk melaksanakan penarikan pasukan asing dar Irak."

gtp/rap (AFP, Reuters)



(nvc/nvc)