detikNews
Senin 02 Desember 2019, 18:09 WIB

Ketika Dua Kota dari Dua Negara Berkolaborasi

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Ketika Dua Kota dari Dua Negara Berkolaborasi
Kendal -

Suasana tampak berbeda di Terowongan Kendal, Jakarta Pusat pada Sabtu (30/11) sore. Lampu warna-warni, deretan bendera Indonesia dan Jerman yang tergantung di atap terowongan, dan sejumlah stan jajanan kuliner tersaji di sepanjang terowongan tersebut. Dalam rangka merayakan 25 tahun kerja sama sister city antara Jakarta dan Berlin, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selenggarakan Jakarta-Berlin Festival 2019 di Terowongan Kendal.

Di festival ini pengunjung bisa menikmati pertunjukan seni, musik, hingga kuliner. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, saat membuka festival itu menyebut Jakarta Berlin Festival sebagai betuk ekspresi budaya dua kota.

"Sejak awal tahun kita banyak kegiatan bersama, lalu sehari ini kita membuka Jakarta Berlin Festival seni, ada festival performing arts, ada juga kuliner. Jadi ekspresi seni budaya dari dua kota ditampilkan di sini tempatnya di terowongan jalan Kendal," ujar Anies.

Seperti yang diketahui kerja sama sister city antara Jakarta dan Berlin telah menghasilkan ragam kolaborasi budaya yang mendorong kreativitas dan inovasi untuk pembangunan kota Jakarta. Beberapa di antaranya terkait transportasi dan ruang publik.

"Jadi kita ingin menghidupkan ruang-ruang terbuka untuk kegiatan masyarakat seni budaya, ada interaksi di situ, ada suasana kota yang hidup dan ini yang sekarang kita rayakan sore ini," Anies menambahkan.

Baca juga: Ingin DKI Ramah Disabilitas, Anies Gandeng Universitas Jerman

Proyek 'smart change'

Bentuk kerja sama lain sister city antara dua kota ini adalah pengiriman tenaga ahli dari Berlin untuk bekerja di Pemprov DKI Jakarta. Dia adalah Karim El-Ali. Dengan kehadiran Karim, diharapkan dapat membantu Jakarta dalam mengembangkan dan menerapkan konsep smart city di Jakarta.

Pria asal Berlin ini, sudah bekerja untuk Pemprov DKI Jakarta di Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta selama sepuluh bulan terakhir. Ia beserta Pemprov DKI, sejak Agustus lalu mendesain dan mengembangkan terowongan di Jalan Kendal menjadi sebuah ruang publik yang aman dan nyaman.

Kepada DW Indonesia, ia mengatakan festival ini juga sekaligus menjadi rangkaian penutupan perayaan 25 tahun kerja sama sister city Jakarta - Berlin.

"Ini adalah street festival. Soal makanan dan musik, orang-orang datang bersama. Tidak peduli mereka adalah karyawan kantoran, masyarakat sekitar, atau mungkin seorang pendatang yang baru tinggal di sini (Jakarta), mereka semua bisa menikmatinya. Berjumpa, berbincang-bincang, menikmati makanan dan musiknya," ujar Karim saat ditemui DW Indonesia.

Lebih lanjut Karim menjelaskan, kerja sama sister city antara Jakarta dan Berlin selama 25 tahun ini berlangsung dengan baik. Banyak program yang telah terlaksana dari kerja sama tersebut di berbagai bidang seperti budaya, olahraga, bisnis, dan infrastruktur. Kini, kedua kota tengah mengerjakan proyek yang bernama "smart change" terkait mencari solusi inovatif tentang kesinambungan pembangunan kota-kota berkembang.

"Proyek ini tidak hanya bertujuan untuk membantu pengembangan dan meningkatkan kapasitas bagi Pemprov DKI, tapi juga bertujuan untuk keberlangsungan ekosistem di Jakarta," tutur Karim.

Mural dua seniman beda negara

Terowongan Kendal pun disulap menjadi kanvas mural bagi seniman mural asal Indonesia, Darbotz, dan seniman kontemporer asal Jerman, Snyder. Snyder pun mengaku antusias saat menuangkan karya seninya di tembok Terowongan Kendal tersebut.

"Saya merasa karya seni di terowongan ini dapat menjangkau orang banyak dan itu memberikan arti untuk saya. Ketika saya membuat grafiti ini, beberapa anak kecil duduk di belakang saya dan mulai menggambar pada buku mereka. Saya senang jika dapat menginspirasi orang lain untuk memulai menggunakan pulpen, kuas, atau alat tulis lain untuk mengekspresikan dirinya," jelas Snyder dikutip dari siaran pers JAKBERFEST.

Ismail (27), salah satu pengunjung Jakarta Berlin Festival mengaku penasaran dengan festival ini setelah melihat informasi di media sosial. Ia juga mengapresiasi konsep pemilihan tempat Terwongan Kendal yang kini ia nilai lebih bermanfaat.

"Terkait konsep acaranya bagus perpaduan acara musik kolaborasi dengan jakjazz, kuliner dan seni yang menarik, jadi menggambarkan hubungan antara kedua negara Indonesia dan Jerman yang harmonis," terang Ismail kepada DW Indonesia.

Di Jakarta Berlin Festival pengunjung dapat menyantap makanan khas Berlin dan Jakarta seperti Bratwurst, Currywurst, kerak telor, nasi uduk betawi, dan masih banyak lagi. Pengunjung cukup merogoh kocek dari Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. Selain itu penampilan musisi Barry Likumahuwa, Aletta Stars, Andezzz, dan 2 Lampu Neon semakin memeriahkan festival tersebut.

Baca juga: Tim Sepak Bola Sister City Jakarta Lawan Berlin dalam Pertandingan Persahabatan

rap/ts




(nvc/nvc)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com