Susah Rekrut Tenaga Kesehatan, Rumah Sakit Jerman Pakai TikTok Gaet Peminat

Susah Rekrut Tenaga Kesehatan, Rumah Sakit Jerman Pakai TikTok Gaet Peminat

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 27 Nov 2019 18:06 WIB
Berlin -

Kerangka bisa menari, stetoskop jadi alat karaoke, ayam-ayam dari karet mendadak hidup. Praktisi kesehatan di rumah sakit Klinikum Dortmund punya cara sendiri menghadapi sulitnya merekrut tenaga kesehatan yang baru.

Pada akun TikTok rumah sakit, mereka memperalat botol desinfektan menjadi musik elektronik gaya 80-an, berdansa dan menyanyi dan menghidupkan kembali seekor ayam karet sambil bermain. TikTok adalah aplikasi yang mengijinkan orang beraksi menyinkronkan lagu favorit mereka dengan penuh kreativitas.

Memang tidak semua pasien antusias dengan perekrutan gaya baru ini, tetapi mayoritas memberi respons positif. Dan utamanya, mereka berhasil menarik perhatian banyak orang.

Media sosial sebagai ajang perekrutan

Bagi staf rumah sakit dan para petugas kesehatan, yang terpenting adalah menjaring reaksi publik.

"Semua peserta pendidikan di sini kami biarkan tampil di media sosial," kata Marc Raschke, kepala komunikasi di rumah sakit itu. Soal itu selalu dibicarakan dalam wawancara kerja, ketika si pelamar datang ke rumah sakit. Kanal TikTok Klinikum Dortmund diabuat awal 2019, setelah dia mengikuti sebuah konferensi manajemen rumah sakit di New York.

"Kami tidak perlu mengunjungi pameran perekrutan, tidak perlu membagikan brosur, para pelamar yang menghubungi kami dan mengatakan mereka menemukan kami melalui saluran media sosial," kata Marc Raschke.

Media Sosial sekarang menjadi satu-satunya ajang perekrutan yang digunakan rumah sakit Klinikum Dortmund. TikTok, Instagram, Twitter, Facebook, semuanya digunakan, Ada juga "WhatsApp Academy" yang ditujukan kepada siswa sekolah untuk menjaring minat mereka melanjutkan pendidikan sebagai tenaga kesehatan.

Persaingan ketat memperebutkan tenaga kerja terampil

Staf rumah sakit dan pekerja kesehatan saat ini memang langka di Jerman. Pemerintah Jerman sendiri sudah menjalin kerjasama dengan beberapa negara, termasuk Cina dan Indonesia, untuk mendatangkan pekerja kesehatan dan mengisi kekosongan di banyak rumah sakit di Jerman.

Menurut perusahaan konsultan Roland Berger, tahun 2019 ini saja ada sekitar 20.000 lowongan kerja di bidang kesehatan yang tidak bisa terisi. Pada tahun-tahun mendatang, situasinya lebih kritis lagi jika tidak ada perubahan segera. Banyak rumah sakit kini terlibat dalam persaingan erat memperebutkan tenaga kerja terampil yang sudah ada di Jerman.

Operator rumah sakit terbesar di Jerman, Vivantes, misalnya di daerah Berlin memberi hadiah kepada setiap karyawan baru. Petugas kesehatan baru menerima bonus sampai 9.000 euro atau lebih 120 juta Rupiah jika mereka bergabung dengan Vivantes dan mau bekerja di klinik Spandau di Berlin mulai akhir tahun ini.

Perekrutan melalui media sosial cukup berhasil, kata Marc Raschke. "Kami telah mengisi semua 500 lowongan pendidikan kesehatan saat ini. Tidak seperti rumah sakit lain, kami tidak perlu menutup bangsal karena kekurangan tenaga kerja," ujarnya. Dia sendiri menolak gagasan memberi uang bonus untuk perekrutan pegawai baru.

Klinikum Dortmund menerima banyak tanggapan positif dari para peminat kerja, yang mengatakan mereka akan senang bekerja di klinik progresif semacam itu. Selama ini, banyak perusahaan memang mulai sudah menggunakan Facebook dan Instagram sebagai platform rekrutmen dan komunikasi masyarakat. Tapi baru Klinikum Dortmund yang menggunakan aplikasi TikTok.

Sebagai orang yang sudah punya pengalaman, Marc Raschke punya saran bagi perusahaan Jerman yang ingin mencoba TikTok: "Di TikTok, Anda harus menjadi lebih unik, aneh, lebih dangkal daripada di platform lain. Anda harus siap memberi itu kepada audiensi Anda." (hp/vlz)



(ita/ita)