Jerman dan Prancis Galang Agenda Menentang Kekerasan terhadap Perempuan

Jerman dan Prancis Galang Agenda Menentang Kekerasan terhadap Perempuan

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 27 Nov 2019 09:17 WIB
Berlin -

Setidaknya satu wanita terluka secara fisik setiap jam rata-rata di tangan pasangan mereka di Jerman, menurut angka baru yang dirilis pemerintah Jerman awal minggu in. Secara total disebutkan, ada lebih dari 114.000 wanita menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, ancaman, pemaksaan atau penguntitan oleh pasangan atau mantan pasangan mereka pada tahun 2018.

Dari kasus-kasus itu, ada 122 perempuan yang terbunuh – artinya satu perempuan setiap tiga hari.

Menteri Keluarga Jerman Franziska Giffey mempresentasikan "angka-angka yang mengkhawatirkan" itu ketika menandai Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, 25 November lalu.

"Angka-angka ini menunjukkan bahwa terlalu banyak perempuan yang terus menjadi sasaran kekerasan oleh pasangan atau mantan pasangannya. Lebih dari sekali dalam satu jam, seorang wanita terluka parah tahun 2018," kata Franziska Giffey.

"Harus menjadi perhatian semua"

"Kita harus memastikan bahwa kekerasan terhadap perempuan diakui sedini mungkin dan bahwa perempuan dibantu secepat mungkin. Kekerasan terhadap perempuan harus menjadi perhatian kita semua," tandas Franziska Giffey

Menurut data statistik, keinginan untuk melaporkan insiden pelecehan dan kekerasan seksual telah meningkat, tetapi masih banyak kasus yang tidak dilaporkan.

Menteri Keluarga Franziska Giffey menekankan, perempuan yang terkena dampak kekerasan dalam rumah tangga harus memiliki hak akses ke tempat perlindungan perempuan. Namun diakui, belum tersedia cukup tempat bagi mereka yang mencari perlindungan.

Fransiska Giffey mengumumkan bahwa pemerintah Jerman akan mengucurkan dana 30 juta euro setiap tahun selama empat tahun ke depan untuk meningkatkan kapasitas tempat perlindungan bagi perempuan korban kekerasan domestik. Saat ini, di seluruh Jerman hanya ada 350 rumah perlindungan perempuan.

Pemerintah Prancis luncurkan langkah-langkah baru

Pemerintah Prancis akan meluncurkan langkah-langkah baru untuk mengatasi kekerasan dalam rumah tangga, termasuk janji untuk menyita rebut senjata api dari pasangan yang melakukan kekerasan, dan menciptakan 1.000 tempat perlindungan baru bagi perempuan.

Polisi juga akan mendapat pelatihan lebih baik untuk menangani bentuk kejahatan kekerasan domestik. Perubahan kebijakan itu juga akan memudahkan dokter memberi peringatan kepada pihak berwenang, jika seorang perempuan berisiko mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe ketika mengumumkan kebijakan baru itu sekaligus mengecam "kebisuan kolektif tentang kegagalan yang kita miliki, sampai hari ini."

"Keheningan ini, atau lebih tepatnya bentuk keheningan ini, bisa membunuh," kata Edouard Philippe.

Paket kebijakan bernilai jutaan euro itu bertujuan untuk mengurangi jumlah perempuan yang tewas di tangan pasangan mereka. Pemerintah Prancis mengatakan, setidaknya 121 perempuan dan 28 lelaki telah terbunuh oleh pasangan mereka atau mantan pasangan mereka tahun ini saja.

Tingkat kekerasan mematikan terhadap perempuan di negara Prancis termasuk yang tertinggi di Eropa. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut kondisi itu sebagai "Aib Prancis"

Kelompok-kelompok pembela hak perempuan akhir minggu lalu menggelar aksi di berbagai kota Eropa menuntut kebijakan tegas menentang kekerasan domestik.

hp/ml (dpa, afp, kna)



(ita/ita)