detikNews
Senin 18 November 2019, 14:52 WIB

Ketidaksetiaan, Pasangan Selingkuh Bukan Akhir dari Segalanya

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Ketidaksetiaan, Pasangan Selingkuh Bukan Akhir dari Segalanya
Jakarta -

Setiap kali Stephan berpergian, Maria tidak bisa tidur. Ketakutan bahwa pacarnya bisa berakhir di tempat tidur seorang perempuan lain menjaganya semalaman.

Akhirnya itu terjadi: Stephan selingkuh, mengaku, dan dunia Maria jatuh seketika.

Untuk banyak pasangan di luar sana, ini adalah akhir dari segalanya. Dikhianati rasanya terlalu menyakiti, terlalu menghancurkan. Hubungan ini telah berakhir.

Maria dan Stephan, di sisi lain, masih bersama.

Tidak hanya itu: Setelah 12 tahun, mereka dikaruniai dua anak. Dan Maria mengatakan, semua kejadian yang mereka alami hanya memperkuat kepercayaan mereka dalam menjalin hubungan.

Yang benar saja?

Kita semua tidak jujur

Kristin Gilbert, seorang psikolog dan psikoterapis, memiliki ketertarikan khusus terhadap faktor-faktor yang memotivasi orang-orang untuk memilki hubungan jangka pendek dengan orang lain. Lebih dari sepuluh tahun lalu, Gilbert, bersama dengan rekannya di Technische Universit├Ąt Braunschweig, melihat lebih dalam ke situasi yang dapat mengarah ke perselingkuhan. Menggunakan data yang dikumpulkan untuk penelitian ini, para peneliti mengembangkan terapi khusus untuk pasangan yang hubungannya terganggu dengan masalah perselingkuhan.

Kesimpulan Gilbert: "Kita semua berpotensi selingkuh. Setidaknya ketika beberapa risiko dan faktor datang dalam waktu yang pas.

Orang seperti Stephan, yang banyak berpergian, kenal dengan banyak orang yang gemar pesta, punya banyak kesempatan untuk berhubungan sex dibanding orang-orang yang jarang meninggalkan tempat kerja mereka. Gilbert menyebut ini sebagai "faktor risiko kontekstual."

Adanya kesempatan tentu saja tidak secara otomatis memicu perselingkuhan. "Sering kali dalam suatu hubungan, terutama dalam masalah kepuasan seksual yang rendah," ujar Gilbert dari hasil survei yang ia lakukan pada waktu itu.

Ketika kepuasan seksual menurun sejalan dengan durasi suatu hubungan, keinginan untuk selingkuh akan bertambah. Ini yang disebut dengan "faktor risiko hubungan."

Anak-anak biasanya menambah risiko, kata Gilbert. Stephan selingkuh dengan Maria beberapa bulan sebelum kelahiran anak pertama mereka. "Dia ada di bawah dalam skala prioritas saya," ujar Maria mengenai situasi pada saat itu.

Maria tetap dapat mengatasi pengalaman yang mungkin dapat membuat perempuan lain trauma untuk seumur hidupnya.

Pertanyaannya: Bagaimana bisa?

Kebebasan lewat berselingkuh

Dengan bantuan dari terapis, Maria dan Stephan melihat pola yang memiliki pengaruh dalam sifat mereka sebagai pasangan.

Ini yang disimpulkan Kristin Gilbert sebagai "faktor risiko individual."

"Poin yang penting adalah konsep kesetiaan," ujar Gilbert. "Semakin liberal sikap saya terhadap monogami dan kesetiaan, semakin tinggi kemungkinan saya untuk menjadi tidak setia."

Motif penting lainnya dari para orang yang berselingkuh dari hasil wawancara para peneliti adalah keinginan mereka atas kebebasan dan otonomi.

Ini juga berlaku pada Stephan: dalam masa terapi, dia menyadari bahwa ketika kebebasannya merasa terancam, dia akan merusak barang-barang secara berulang yang sebetulnya penting untuk dirinya.

Pada akhirnya, dia tidak saja menyakiti orang lain, melainkan dirinya sendiri.

Pelaku dan korban - siapa dan siapa?

Tentunya, orang yang selingkuh adalah pelaku, dan orang yang diselingkuhi adalah korban. Setidaknya, itulah kesepakatan bersama dalam masyarakat.

Maria juga berpendapat demikian. Dan ia tidak salah. Tapi, ini juga tidak seluruhnya benar.

Psikolog dan terapis pasangan Hans-Georg Lauer mengatakan "ketidaksetiaan bukan akhir dari sebuah hubungan."

Untuk mengerti kenapa, ia mengatakan ada "dua level" yang harus dibedakan.

Pertama: orang yang selingkuh tentu saja menjadi pelaku. Itu jelas. Tidak seorang pun yang melakukan perilaku seperti itu akan terkejut dengan kemarahan dan rasa sakit yang mereka sebabkan pada pasangan mereka yang tertipu.

Terapis pasangan ini menggarisbawahi tiga langkah untuk memastikan apakah sebuah hubungan masih memiliki kesempatan setelah ada perselingkuhan -- dan untuk mencegah amarah dan rasa sakit sebelum suatu pasangan menjadi pendamping hidup.

Pertama-tama, yang paling penting adalah untuk membangun kembali kepercayaan.

"Ini memerlukan keterbukaan," ujar Lauer.

Dalam sesi terapinya, pasangan yang ditipu diizinkan untuk mengajukan beberapa pertanyaan. "Ini memperkuat rasa pengertian," utas Lauer. Ini juga membantu pasangan untuk dapat berbicara kembali, yang juga prasyarat penting untuk memulai kembali suatu hubungan.

Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, dapat muncul luka baru.

"Untuk meluruskan kecurigaan dan menjawab pertanyaan, dan juga membuat jelas apa yang menyakiti pasangan," utas dirinya. "Langkah pertama: melewati pertanyaan. Langkah kedua: melewati rasa sakit."

Ketiga, sangat penting untuk tahu bahwa tidak ada jawaban yang cepat untuk memperbaiki keadaan ini.

"Beberapa pasangan dapat langsung kembali ke kesibukan mereka masing-masing," Bagi pasangan seperti ini, tampaknya lebih mudah untuk menerima apa yang sudah terjadi daripada daripada menjadi sepenuhnya sadar tentang apa yang akan terjadi, dan merasakan ketidakpastian.

"Tapi," katanya, "ini bisa menjadi bumerang."

Maria dapat memastikan, bahwa memang bermanfaat untuk melihat pola pribadi dari keda pasangan. lagi pula, di mana ada tanggung jawab pribadi, ada juga juga ruang untuk bermanuver. "Itu membuat saya merasa sangat lega menyadari bahwa bukan hanya saya saja korbannya," kata Maria.

Ketika Maria masih lajang, dia sering ada di posisi sebagai "perempuan lain" dalam hidup seorang laki-laki yang ia sukai. "Pengagum rahasia" dalam hubungan tiga arah.

Yang tidak membunuhmu akan membuatmu lebih kuat

Dalam sesi terapi, sering secara tidak sadar, ideologi yang menentukan jalan hidup kita terungkap. Maria percaya, contohnya, bahwa ia "tidak layak dengan orang yang sepenuhnya berkomitmen."

Ketika Stephan berselingkuh dengannya, dia merasa tidak berharga.

Tapi Stephan bertahan. Walaupun Stephan sangat menyukai perempuan lain, ia memutuskan untuk keluar dari pola perilakunya selama ini dan melanjutkan hubungannya dengan Maria. "Untuk berpengalaman melewati fase krisis ini sangat menenangkan saya," kata Maria.

Lauer menambahkan bahwa "pasangan yang melewati krisis bersama dapat melakukan lompatan quantum." Ini juga berlaku untuk Maria dan Stephan. Untuk mereka, masalah ini tidak menjadi momok yang menghantui mereka di kemudian hari. Dan itu bukan hanya karena Maria memaafkan suaminya, tapi juga karena keduanya lebih sadar akan sifat mereka sebelum ada perselingkuhan.

Maria juga mengalahkan perasaan tidak berharganya.

Dia selamat, dan dia mengatakan bahwa hubungannya sekarang menjadi lebih kuat dan lebih jujur. "Saya terus berpikir, kalau Stephan selingkuh, saya tidak bisa menanggungnya. Itu bisa membunuh saya."

Sekarang, ketika Maria berbicara tentang salah satu momen terberat dalam hidupnya, dia terlihat bersyukur bahwa itu terjadi seperti demikian. (pn/yp)




(ita/ita)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com