Pengantin Musim Panas, Ketika Keluarga Jajakan Gadis untuk Wisata Seks

Pengantin Musim Panas, Ketika Keluarga Jajakan Gadis untuk Wisata Seks

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 13 Nov 2019 09:57 WIB
Foto: Getty Images/AFP
Foto: Getty Images/AFP
Kairo -

Suatu hari di musim panas Howeida mendengar seseorang mengetuk pintu kamar. Di baliknya dia melihat ayah dan ibu tirinya sedang bercakap-cakap dengan seorang pria. Tiba-tiba semua berlangsung cepat. Howeida diputuskan bakal menikahi pria Arab Saudi itu dengan mahar senilai 1.750 Euro atau sekitar Rp. 24,6 juta.

'Pernikahan' mereka bertahan selama 20 hari. Selama itu pula Howeida mengalami kekerasan seksual dan perkosaan. Ketika sang pria pulang ke kampung halamannya, liburan musim panas buat Howeida pun ikut berakhir.

Dia mewakili sekelompok remaja perempuan yang secara rutin bertukar peran menjadi "pengantin musim panas" - sebutan halus untuk prostitusi. Setiap tahun, wisatawan kaya dari negara-negara Teluk berpelesir ke Mesir dan memilih perempuan untuk dinikahi selama berlibur.

Baca juga:Kolom: Saya Perempuan dari Dunia Arab, Apakah Saya Tertindas?

Mahar yang ditawarkan biasanya bernilai besar untuk keluarga perempuan, senilai hingga beberapa tahun gaji. "Kedengarannya menggiurkan. Keluarga saya mengatakan saya akan mendapat hadiah dan baju baru. Saya masih muda saat itu. Lalu saya memberikan restu," kisah Howeida ihwal lamaran dadakan di musim panas tersebut.

Dengan mahar yang didapat, kedua orangtuanya membeli mesin cuci dan sebuah lemari es.

Percampuran ilegal di Mesir dimungkinkan karena adanya celah lebar dalam hukum pernikahan. Kontrak pernikahan bisa didapat di hampir semua toko buku. Kolaborasi antara makelar hukum dan pengacara memastikan proses hukum berjalan mulus dan rahasia. Pernikahan semacam ini tidak tercatat dan bisa dibatalkan secepat ia dilangsungkan.

Howeida kini berusia 28 tahun dan pernah 'menikah' selama delapan kali, masing-masing untuk hanya beberapa hari. Dia ingin mengubur aib masa lalu dan menolak menyebut nama aslinya. Sejak berhenti menjadi pengantin musim panas, dia mengenakan niqab berwarna hitam yang menutupi seorang wanita berparas cantik dengan kulit halus dan rambut panjang sebahu.

Ketika pertama kali dilamar, dia masih hidup bersama ayahnya, ibu dan saudara tiri berusia enam setengah tahun. Keluarga kecil itu tinggal di sebuah rumah berkamar tiga di sebuah desa di luar distrik Ouseem, 20 kilometer dari Kairo.

"Saya masih lugu. Saya masih percaya pada cinta. Malam pertama sangat mengerikan. Setelahnya saya punya masalah psikologis," kata Howeida. Meski demikian, keluhan itu tidak menghentikan keluarga menikahinya untuk kesekian kali pada musim panas berikutnya.

Ketika Howeida kehilangan keperawanannya, mahar yang diberikan jauh lebih rendah, yakni sekitar 600 Euro atau setara dengan Rp. 8,3 juta.

Kisah hidup Howeida tidak unik, kata Ahmed Moselhy, kuasa hukum sebuah LSM yang khusus mengadvokasi kasus prostitusi dan perdagangan manusia. "Banyak gadis ingin membantu keluarganya dan menikah secara sukarela. Lalu mereka melakukannya berulangkali, karena ketagihan uang."

Baca juga: Genjot Pariwisata, Arab Saudi Rangkul Pasangan Belum Menikah

"Setiap keluarga di sekitar sini punya delapan atau lebih anak. Setiap anak perempuan bisa menghasilkan uang untuk membeli satu mobil atau merenovasi rumah menjadi bertingkat."

Kawasan pinggiran Kairo nyaris tak tersentuh pertumbuhan ekonomi. Seperempat penduduknya hanya berpenghasilan kurang dari Rp. 30.000 per hari. Kondisi muram tersebut menguntungkan pelaku wisata seks. Terkadang seorang wisatawan bisa membayar 100.000 Euro atau Rp. 1,5 miliar, bergantung pada penampilan, usia, durasi pernikahan dan status keperawanan.

Meski pernah dijual sebagai pengantin musim panas, Howeida masih hidup bersama sang ayah dan ibu tiri. "Saya tidak lagi takut, tapi saya benci mereka. Terutama ayah saya. Kenapa dia membiarkan ini terjadi?" tukasnya. Dia kini mencari pria yang tepat untuk menjalin pernikahan yang sesungguhnya. (rzn/vlz)

© Qantara.de 2017



(ita/ita)