detikNews
Sabtu 02 November 2019, 15:37 WIB

Proyek Abadi Seniman Jerman untuk Pemakaman Yahudi

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Proyek Abadi Seniman Jerman untuk Pemakaman Yahudi
Yerusalem -

Ketika sebuah pemakaman bawah tanah terbesar di dunia dibuka pada Rabu (30/10), seniman asal Jerman, Yvelle Gabriel, untuk pertama kalinya melihat karyanya yang berupa lima "bola cahaya" tergantung di katakombe setinggi sekitar 50 meter di bawah tanah kota Yerusalem.

Terakhir kali Gabriel berada di kota itu untuk memasang prototipe. Lampu-lampu geometris memang ia maksudkan untuk digantung selamanya di pemakaman yang baru dibangun ini.

Dengan setidaknya 170.000 kuburan di atas tanah, pemakaman Yahudi Har Hamenuchot, atau Bukit Peristirahatan, menjadi pemakaman terbesar di Yerussalem. Letaknya di puncak bukit yang damai yang tidak terlalu dekat dengan pusat kota, tetapi juga tidak terlalu jauh - demikian sesuai dengan peraturan kaum Yahudi.

Selama empat tahun terakhir, di sana terdapat aktivitas menggali dan membangun untuk memperluas pemakaman di bawah tanah dengan kapasitas awal sebesar 8.000 kuburan. Proyek besar-besaran ini menelan biaya € 76 juta (sekitar Rp 1,2 triliun).

Dalam dua tahun ke depan, pemerintah berencana membangun sebanyak 16.000 kuburan bawah tanah lainnya. Tindakan ini bertujuan mengurangi kekurangan lahan untuk pemakaman di Israel. Dan Yvelle Gabriel ditugaskan untuk membuat setidaknya lima "bola cahaya" untuk pemakaman ini.

Simbol mistisisme Kaballah

Bola-bola lampu berwarna-warni itu dipasang di lorong-lorong panjang, membentang total sepanjang 1,7 kilometer, sehingga akan terlihat dari mana pun pengunjung berdiri. Masing-masing dengan berat sekitar 800 kilogram dan berdiameter sekitar 3 meter.

Karya seni kaca itu terdiri dari dua belas pentagon, membentuk apa yang dalam geometri disebut polyhedron. Dalam Kabbalah, ajaran mistis Yahudi, bentuk ini sesuai dengan eter, esensi kehidupan: jiwa.

Bila dilihat dari tingkat kedua dalam katakombe dan memperhatikan "bola" itu dari dekat, polihedron kedua terlihat dengan permukaan yang lebih besar. Dibuat dari potongan kaca dengan warna yang berbeda, yaitu amber, merah, kuning, dan bergaris - objek yang berada di dalam objek itu memancarkan cahaya yang menarik dan bisa berubah tergantung sudut pandang.

Simbolisme berjalan menjadi lebih dalam lagi, karena di ajaran Kabbalah, tubuh adalah mantel bagi jiwa yang ditelanjangi pada saat kematian.

Langsung akrab dan percaya

Yvelle membahas simbolisme dan hampir setiap langkah proses kreatifnya dengan Chananya Shachor, manajer pemakaman yang bertanggung jawab atas kuburan. Penugasan seorang seniman non-Yahudi, berasal dari Jerman untuk membuat sesuatu yang berakar pada ritual penguburan Yahudi adalah sebagian hasil dari pertemuan pribadi antara keduanya.

Yvelle Gabriel mendengar tentang pemakaman baru dari sebuah laporan TV dan langsung mendekati Shachor pada Februari 2018 untuk membicarakan kemungkinan dirinya membuat karya seni untuk Shachor. Mereka segera klik, dan dalam waktu 24 jam kesepakatan telah terjadi.

"Saya langsung menyadari bahwa Gabriel memiliki koneksi dan pengetahuan mendalam tentang Yudaisme. Dia adalah orang yang sangat spiritual. Saya tidak ragu sama sekali dalam memberikan proyek ini kepadanya," Shachor menjelaskan.

Sekarang, kedua pria itu telah menjadi teman. Shachor sendiri berbicara sedikit bahasa Jerman karena orang tuanya telah melarikan diri dari Nazi Jerman.

Sebelum mengerjakan proyek pemakaman ini, Gabriel telah menciptakan karya seni religius monumental untuk sinagoga di Pusat Medis Chaim Sheba di Israel. Karya ini mendapat perhatian yang signifikan dan merupakan tanda kepercayaan besar dari komunitas Yahudi.

Bagi Gabriel, itu adalah pengalaman transformatif, dan pertama kali dia benar-benar berurusan dengan Yudaisme secara intensif. Untuk pengerjaan proyek jangka panjang kali ini, ia lantas menyewa sebuah studio di Israel dan mulai bekerja sama dengan spesialis kaca dan logam setempat. Sebuah kolaborasi yang masih ia teruskan sampai hari ini.

Berdamai dengan masa lalu

"Ketika mengerjakan proyek Sheba, kenyataan saya sebagai orang Jerman menjadi masalah besar bagi saya. Tiba-tiba saya merasa tidak masalah menjadi orang Jerman!" kata Gabriel. Transformasi dan rekonsiliasi adalah motif besarnya: rekonsiliasi antaragama, juga rekonsiliasi dengan masa lalu.

Ketika mengerjakan proyek pemakaman, ada sesuatu yang berubah. "Ini bukan lagi tentang saya sebagai orang Jerman. Saya dan Chananya berbincang tentang sejarah, tentu saja. Tapi kami tidak saling menyalahkan. Segala sesuatu dalam proyek membuktikan dirinya sendiri. (Proyek) ini tidak pernah tentang kenyataan bahwa saya bukan seorang Yahudi. Dan itu istimewa, karena kita berbicara tentang kuburan Yahudi di sini," kenang Gabriel.

Seniman, yang lahir tahun 1969 di kota Mainz di Jerman barat ini tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah pertanian di tepi sungai Lahn dekat Frankfurt. Ketika mengerjakan proyek itu, ia rela bolak-balik antara bengkel kaca terletak tidak jauh dari rumahnya dan studio sewaan di Israel.

Dia ingat masa-masa awal pengerjaan proyek, setelah semua pekerja pulang, dia kadang mendapati dirinya berdiam sendirian di katakombe. Kemudian dia membayangkan ketika semua ruang kuburan telah berpenghuni dan "bola-bola cahaya" karyanya menemani jiwa-jiwa itu dalam perjalanan terakhir mereka.

Dan suatu saat nanti di masa depan yang jaraknya sangat jauh, ketika tempat ini kemungkinan telah ditinggalkan, bola-bola kaca buatannya akan tertutup debu. Tetapi masih tetap ada. Lagi pula, aluminium tahan karat dan kaca tebal itu telah dirancang untuk bertahan, selamanya.

Ed: ae/rzn




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com