detikNews
Sabtu 05 Oktober 2019, 18:24 WIB

6 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Perdagangan Satwa Liar

Deutsche Welle (DW) - detikNews
6 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Perdagangan Satwa Liar
Berlin -

Berang-berang sebagai peliharaan, badak sebagai trofi, kayu tropis langka untuk furnitur, bisnis satwa liar sangat luas, menguntungkan, dan sering melanggar hukum. DW melakukan penelusuran ke semua aspek perdagangan ini.

Bisnis miliaran dollar

Perdagangan satwa liar merebak karena tingginya selera konsumen akan tas berbahan kulit ular asli, hewan peliharaan eksotis yang lucu yang bisa diposting ke dalam Instagram, hingga bagian tubuh hewan lainnya yang dikonsumsi sebagai hidangan makanan langka dan obat tradisional.

Banyak spesies hewan dan tanaman yang dilindungi malah diperdagangkan secara ilegal – bahkan diperoleh dari dalam hutan hujan tropis. Ini menjadikan kejahatan perdagangan satwa liar bersama perdagangan manusia dan narkoba menjadi salah satu pasar gelap terbesar di dunia. Tidak heran jika Anda melihat harga seekor trenggiling, yang sisiknya terbuat dari keratin, satu kilonya dapat menembus harga $1.000 di pasar gelap.

Karena sifatnya yang ilegal, sulit untuk menentukan angka pasti dari hewan-hewan yag diperdagangkan, namun mereka diperkirakan memiliki harga hingga $20 miliar.

Hewan yang terancam punah diperdagangkan di Facebook

Reptil adalah hewan yang paling populer untuk diperdagangkan. Sementara sebagian besar perdagangan tersebut legal, namun sulit untuk mengontrol jaringan online dimana sekelompok pegiat konservasi satwa khawatir hewan-hewan tersebut diperdagangkan melalui platform Facebook kelompok-kelompok gelap. Mereka juga mengatakan walau hewan-hewan tersebut diperdagangkan secara legal, masalah keselamatan hewan juga tetap muncul. Beberapa hewan dikirim melalui pos atau diselundupkan dalam koper, dan kadang sampai di tempat tujuan dalam keadaan sudah mati.

Eropa, terutama Jerman merupakan pusat perdagangan reptil

Ribuan hewan diperdagangkan di pameran reptil seperti di Pameran Terraristika di sebuah kota kecil Hamm, Jerman. Kemudian DW melakukan penyamaran dan pergi menelusuri perdagangan tersebut secara langsung. Peraturan hukum di Eropa relatif longgar mengenai perdagangan satwa liar, begitu satwa tersebut masuk Eropa, mereka dapat dijual secara legal meskipun merupakan hasil selundupan dari negara asalnya.

Konservasionis berpendapat perdagangan legal dan teregulasi baik untuk spesies

Bisnis satwa liar dilindungi oleh the Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) atau Konvensi Internasional Perdagangan Spesies Terancam Punah, sebuah perjanjian yang ditandatangani 182 negara plus Uni Eropa, membatasi dan dalam beberapa kasus melarang penjualan satwa liar lintas batas.

Sejumlah konservasionis mengatakan perdagangan – selama termonitor dan teregulasi dengan baik – dapat melindungi habitat dan spesies itu sendiri karena memberikan penduduk setempat tambahan dana dalam program penyelamatan hewan. Kulit ular nan eksotis dijadikan fashion mewah untuk tas dan sepatu, dimana itu terus berlangsung secara berkelanjutan, namun populasi mereka tetap terjaga, ujar mereka. Namun tidak semuanya sependapat.

Baca juga: Pedagang Komodo Bukan Satu-Satunya Pedagang Satwa Langka yang Diringkus

Pemburu membayar hingga $150.000 untuk membunuh gajah dan badak

Para pemburu trofi juga mengatakan bahwa mereka berkontribusi terhadap jalannya konservasi dengan membayar sejumlah uang untuk memburu sejumlah hewan, seperti gajah atau jerapah setiap tahunnya. Negara-negara Afrika dengan sumber dayanya yang terbatas dalam melindungi satwa liarnya menjadikan uang tersebut untuk program perlindungan dan anti-perburuan satwa liar, ungkap mereka.

Ini merupakan klaim yang kontroversial. Di samping argumen moral, beberapa konservasionis mengatakan perburuan trofi hewan langka sangatlah berbahaya dan menjadi semacam kamuflase kegiatan perdagangan satwa liar ilegal.

Tidak hanya hewan, ada juga mafia pohon

Spesies tumbuhan dan pohon juga dilindungi oleh perjanjian CITES dan banyak pula yang diperdagangkan adalah yang sudah hampir punah. Kayu-kayu tropis sangatlah bernilai, dan jika semakin langka akan semakin bagus.

Sindikat juga berperan dalam menjual kayu-kayu tropis seperti kayu rosewood Thailand dari hutan-hutan di Asia Tenggara ke pasaran, seperti negara China yang terkenal dengan minat tingginya. Kayu tersebut digunakan untuk furnitur, alat musik, dan barang-barang lainnya. Satu kubik meter kayu berwarna merah tersebut dapat menghasilkan ribuan dollar.

(rap/yp)




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com