detikNews
Kamis 26 September 2019, 12:53 WIB

Hadiah Nobel Alternatif Untuk Greta Thunberg

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Hadiah Nobel Alternatif Untuk Greta Thunberg
Stockholm -

Jacob von Uexkell menganggap kategori-kategori yang ada dalam pemberian Hadiah Nobel tidak cukup representatif dalam menghadapi tantangan-tantangan kemanusiaan yang sebenarnya. Penulis dan kolektor prangko profesional berdarah Jerman-Swedia ini lantas mendirikan "Right Livelihood Award" atau juga dikenal sebagai "Hadiah Nobel Alternatif."

Setiap tahun sejak 1980, penyelenggara di Stockholm memberikan penghargaan kepada orang-orang yang proaktif dalam melawan polusi, ancaman nuklir, pelanggaran hak asasi manusia, dan eksploitasi terhadap kaum minoritas. Yayasan Right Livelihood setiap tahun menerima lebih dari 100 usulan kandidat dari seluruh dunia. Juri kemudian memilih pemenang, yang selalu diberikan pada bulan Desember.

Sejauh ini, Penghargaan Right Livelihood telah diberikan kepada 174 orang dari 70 negara. Tahun ini para penerima penghargaan datang dari Sahara Barat, Cina, Brasil dan Swedia. Mereka tergabung dalam perjuangan untuk keadilan, penentuan nasib atas diri sendiri dan masa depan yang lebih baik.

"Kami menghormati empat orang visioner yang tindakannya telah memungkinkan jutaan orang lain untuk dapat mempertahankan hak-hak dasar mereka dan berjuang demi masa depan yang layak di planet ini," ujar juri.

"Gandhi dari Sahara Barat"

Ia telah menjadi aktivis sejak masih remaja. Aminatou Haidar telah berkampanye secara damai untuk kemerdekaan tanah airnya, Sahara Barat. Wilayah yang dulunya adalah koloni Spanyol ini secara singkat merdeka pada tahun 1975. Tidak lama kemudian, Maroko menguasai Sahara Barat. Sejak itu, pihak berwenang Maroko menargetkan penduduk asli Sahara Barat yaitu bangsa Sahrawi.

Haidar menjadi wajah gerakan yang berdedikasi untuk penentuan nasib sendiri bangsa Sahrawi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia yang mendasar. Dia juga adalah pendiri dan presiden organisasi hak asasi manusia Collective of Sahrawi Rights Defenders (CODESA).

Aktivis ini telah mengorganisasikan demonstrasi, mendokumentasikan penyiksaan dan melakukan mogok makan untuk meningkatkan kesadaran publik akan keadaan bangsanya. Tindakan ini tidak disukai oleh otoritas Maroko. Untuk itu Haidar sering berada di balik jeruji besi - tanpa adanya tuntutan atau pengadilan terlebih dulu. Dia menghabiskan empat tahun sendirian di sebuah penjara rahasia, terisolasi dari dunia luar.

Haidar tanpa lelah berjuang untuk solusi politik terhadap konflik di Sahara Barat yang telah berlangsung lama. Ia telah menerima ancaman kematian, serangan dan pelecehan, termasuk terhadap anak-anaknya. Protes tanpa kekerasan yang terus-menerus ia lakukan dalam jangka waktu lama membuatnya dijuluki "Gandhi Sahara Barat."

"Untuk perlawanan tanpa kekerasan yang tak tergoyahkan, meskipun dipenjara dan disiksa, demi mengejar keadilan dan penentuan nasib sendiri untuk orang-orang Sahara Barat," ia menerima "Penghargaan Nobel Alternatif."

Pengacara untuk para perempuan di Cina

Tahun 2014 adalah pertama kalinya Cina mengeluarkan angka resmi yang mengungkapkan masalah yang sebelumnya ditutup-tutupi: dalam tiap empat keluarga di Cina, terdapat satu orang suami yang memukuli istrinya. Dua tahun kemudian, pemerintah di Beijing mengeluarkan undang-undang yang menentang kekerasan dalam rumah tangga. Pencapaian ini bermula dari kerja keras aktivis hak-hak perempuan seperti Guo Jianmei.

Guo adalah salah satu pengacara hak-hak perempuan terpenting di Cina. Selama 25 tahun terakhir, ia bersama timnya telah menyediakan layanan hukum gratis bagi 120.000 perempuan. Lebih dari 4.000 tuntutan hukum telah diajukan untuk menuntut hak-hak perempuan dan mempromosikan kesetaraan gender. Dia adalah pengacara pertama di negara itu yang pekerjaan utamanya adalah menjadi pengacara tidak berbayar.

Di tingkat nasional, Guo membela para perempuan dalam masalah-masalah seperti ketidaksetaraan upah, pelecehan seksual atau kontrak kerja yang melarang kehamilan. Di daerah pedesaan, Guo membantu perempuan yang tidak memiliki hak atas tanah.

Struktur patriarkal tetap ada dan para perempuan seringnya sangat bergantung kepada suami mereka. Karena itu ia mendirikan Jaringan Pengacara Untuk Kepentingan Umum Tiongkok. Asosiasi ini memiliki anggota dari lebih dari 600 pengacara yang juga menangani kasus di daerah paling terpencil di negara ini.

"Guo Jianmei telah menunjukkan keberanian dan ketahanan luar biasa dalam menghadapi meningkatnya pembatasan ruang masyarakat sipil," kata penyelenggara Right Livelihood Award. Guo menerima penghargaan tahun ini "atas terobosan dan kerja kerasnya melindungi hak-hak perempuan di Cina."

Bersatu untuk melindungi suku asli Amazon

Di Brazil, hutan hujan tropis telah terbakar. Dunia khawatir tentang dampaknya terhadap iklim. Namun dampak yang paling utama akan paling dirasakan masyarakat setempat. Inilah yang menarik perhatian panitia "Hadiah Nobel Alternatif" tahun ini. Mereka memberikan penghargaan kepada Davi Kopenawa, salah satu juru bicara masyarakat adat Brasil yang paling dihormati.

Kopenawa berasal dari suku Yanomami, yang terdiri dari sekitar 35.000 orang. Ini adalah salah satu suku asli dengan warga terbanyak di Brasil. Bersama dengan suku Yanomami yang mendiami wilayah di Venezuela, mereka membentuk area hutan hujan terbesar di dunia yang dihuni oleh suku ini. Luas area tersebut bahkan lebih besar daripada negara Yunani.

Yanomami terkenal berkomitmen melindungi hak-hak, budaya dan masyarakat adat Amazon. Meningkatnya penggunaan hutan hujan untuk pertanian tidak hanya mengancam alam, tetapi juga keberadaan masyarakat adat. Pada periode 1980-an dan 1990-an penambang emas telah menghancurkan desa, menembak orang, dan menularkan penyakit. Saat ini, serangan semacam itu terjadi lagi.

Pada tahun 1992 Kopenawa berperan penting dalam menyatakan situs sebesar 96.000 kilometer persegi di Brasil sebagai tempat perlindungan bagi suku Yanomami. Ia juga memainkan peran penting dalam menyatukan berbagai komunitas adat untuk melindungi diri dari eksploitasi. Ia mendirikan Asosiasi Hutukara yang mewakili beragam komunitas Yanomami.

"Mengingat cepatnya penurunan keanekaragaman hayati dan meningkatnya dampak perubahan iklim, pengetahuan Yanomami tentang bagaimana mempertahankan dan mempertahankan tanah mereka untuk kepentingan semua menjadi sangat berarti bagi kepentingan global," kata penyelenggara Penghargaan Hadiah Nobel Alternatif.

Pemicu pergerakan di seluruh dunia

Penerima penghargaan yang paling dikenal tentunya adalah aktivis iklim Swedia Greta Thunberg. Pada Agustus 2018, hanya beberapa minggu sebelum pemilihan parlemen di Swedia, Thunberg yang saat itu berusia 15 tahun memulai mogok sekolah di depan gedung parlemen di Stockholm.

Tujuannya: Menggerakkan para politisi untuk bertindak guna membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius. Dia adalah adalah suara bagi sebuah gerakan yang melihat perubahan iklim sebagai ancaman utama bagi masa depan generasi mendatang.

Jutaan orang muda di seluruh dunia lantas mengikuti remaja asal Swedia itu. Dengan tidak pergi ke sekolah pada hari Jumat, tetapi turun ke jalan untuk berunjuk rasa menuntut perlindungan iklim yang lebih baik. Greta Thunberg menjadi wajah dari gerakan "Fridays for Future" di seluruh dunia, yang memuncak dalam unjuk rasa global bagi perlindungan iklim pada Jumat (20/09) lalu.

Thunberg berbicara di konferensi-konferensi besar dan bertemu para pembuat keputusan tertinggi dari seluruh dunia. Pesannya jelas: dunia harus mengakui perubahan iklim, memahami urgensi krisis iklim, dan bertindak dalam menghadapinya.

"Caranya yang tidak kenal kompromi untuk mengatakan yang sebenarnya kepada penguasa di dunia adalah hal yang luar biasa," kata penyelenggara Right Livelihood Award. Thunberg dianugerahi karena memberikan suara terhadap adanya desakan untuk segera melakukan perlindungan iklim di seluruh dunia.

Ed: ae/




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com