detikNews
Kamis 29 Agustus 2019, 17:18 WIB

Seberangi Atlantik dengan Perahu Layar, Aktivis Greta Thunberg Tiba di New York

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Seberangi Atlantik dengan Perahu Layar, Aktivis Greta Thunberg Tiba di New York
New York -

Aktivis iklim Swedia Greta Thunberg, 16 tahun, tiba di New York City hari Rabu (28/8) setelah melakukan "perjalanan bebas karbon" melintasi samudra Atlantik dengan kapal layar bertenaga matahari. Kapal layar Malizia II sepanjang 18 meter itu menggunakan panel surya untuk menggerakkan turbin bawah air yang menghasilkan listrik.

Greta Thunberg datang ke New York untuk menghadiri KTT Iklim PBB pada 23 September, di mana dia dijadwalkan untuk berpidato. Ini adalah pertama kalinya aktivis iklim ini datang ke Amerika Serikat.

Greta Thunberg dikenal luas karena memelopori aksi pelajar setiap hari Jumat yang menuntut reduksi emisi CO2 dan meredam perubahan iklim. Aksi-aksi yang mengambil motto "Fridays for future" itu sekarang meluas ke seluruh Eropa dan bagian-bagian lain dunia. Dia pertama kali memulai aksinya seorang diri di depan gedung parlemen Swedia.

Ketika tiba di Manhattan, Greta Thunberg disambut ratusan pendukung.

"Aku tidak merasakan mabuk laut," kata remaja Swedia itu dan menambahkan, dia menantikan makanan hangat dan bersantai selama beberapa hari.

Greta Thunberg mengatakan, dia berharap Presiden AS Donald Trump akan mengubah pandangan dalam isu perubahan iklim. "Pesan saya untuknya adalah: dengarkan sains dan kelihatannya dia tidak," tambahnya.

Perlu tindakan yang berani

Setelah kunjungannya ke AS, Greta Thunberg juga ingin berkunjung ke Kanada dan Meksiko. Lalu dia akan berangkat ke Chili untuk menghadiri KTT Iklim PBB COP25. Dia melakukan perjalanan menggunakan kereta api, bus dan mungkin lebih banyak berlayar.

Dia mendesak negara-negara Eropa, termasuk negaranya Swedia, untuk berbuat lebih banyak dalam meredam perubahan iklim. Pada bulan April lalu dia mendesak Parlemen Eropa untuk mengambil tindakan berani guna mengatasi krisis global.

"Saat ini belum (ada tindakan berani)," tandasnya.

Awal 2019, Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya dilanda gelombang cuaca panas dan mencatat rekor suhu tertinggi. Para ilmuwan mengatakan, makin seringnya suhu ekstrem yang tidak normal adalah bukti destabilisasi iklim Bumi.

AS di bawah Presiden Donald Trump menyatakan menarik diri dari perjanjian internasional untuk meredam perubahan iklim. Selama kampanye pemilihan presiden, Trump bahkan menyangkal adanya pemanasan bumi. Dia juga mengatakan bahwa isu pemanasan bumi dibuat oleh Cina, untuk merusak kemakmuran di AS

Mayoritas ilmuwan internasional, termasuk ilmuwan AS, mengakui adanya ancaman bencana perubahan iklim yang disebabkan oleh kegiatan manusia.

hp/ml (rtr, afp, ap)




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com