detikNews
Senin 10 Juni 2019, 10:36 WIB

Perang Dagang AS-China, Vietnam dan Taiwan Mengeruk Untung

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Perang Dagang AS-China, Vietnam dan Taiwan Mengeruk Untung Foto: Getty Images
Tokyo -

Siapa pemenang perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina? Bukan salah satu dari mereka, melainkan Vietnam, Taiwan dan Chili. Pasalnya, banyak importir AS dan Cina yang sekarang mencari barang-barang dari negara lain untuk menghindari tarif impor yang diberlakukan kedua negara.

"Beberapa eksportir di AS dan Cina mungkin bersedia untuk membayar sebagian dari biaya tarif tambahan dari margin keuntungan mereka, dan beberapa perusahaan multinasional bisa memilih untuk merombak produksinya, tetapiā€¦ seiring waktu, respons terbesar yang kemungkinan besar terjadi adalah pengalihan perdagangan," tulis para pakar ekonomi dan bank investasi Jepang, Nomura, dalam laporan terbarunya.

Perang tarif impor antara AS dan Cina otomatis membuat biaya perdagangan antara kedua negara menjadi lebih tinggi, sehingga para pemasok di negara-negara lain menjadi lebih kompetitif dibandingkan perusahaan-perusahaan AS dan Cina.

Pemerintah AS telah mengenakan tarif impor sebesar 25 persen atas sebagian barang impor dari Cina, senilai seluruhnya 250 miliar dolar, dan mengancam akan memperluas tarif impor itu ke barang-barang lain sampai senilai 325 miliar dolar. Sebagai langkah balasan, Beijing mengenakan tarif impor atas sebagian barang dari AS senilai seluruhnya 110 miliar dolar.

Siapa yang beruntung?

Laporan Nomura menyebutkan, sejauh ini Vietnam menjadi penerima manfaat terbesar dari pengalihan perdagangan. 7,9% persen dari produk domestik bruto (PDB) Vietnam saat ini datang dari peningkatan ekspor, baik ke Cina maupun ke AS. Selain Vietnam, Taiwan, Chili, Malaysia dan Argentina juga menarik keuntungan besar.

Negara-negara itu lebih diuntungkan dengan meningkatnya permintaan barang dari importir AS daripada dari importir Cina, kata laporan Nomura. Para importir AS lebih banyak beralih ke perusahaan-perusahaan Asia, sementara importir Cina lebih sering beralih ke perusahaan-perusahaan dari Amerika Utara dan Selatan.

Importir AS terutama mencari substitusi untuk produk elektronik, furnitur dan barang-barang untuk perjalanan. Sedangkan para importir Cina mencari substitusi untuk kedelai, biji-bijian, kapas dan pesawat terbang.

"Efek substitusi ini mungkin kecil dalam kaitannya dengan PDB AS dan Cina, tetapi manfaat dari pengalihan perdagangan itu bagi negara ketiga dengan ekonomi yang lebih kecil cukup besar," kata para ekonom Nomura dalam laporannya. Mereka juga mengatakan, negara-negara Eropa hanya mendapat sedikit keuntungan dari pengalihan perdagangan itu.

Sengketa dagang secara keseluruhan berdampak buruk

Akan tetapi, para ekonom Nomura memperingatkan, bahwa dampak ekonomi sengketa dagang AS-Cina secara keseluruhan bisa menjadi ancaman serius bagi perdagangan dunia. Sekalipun beberapa negara dalam jangka pendek memetik keuntungan.

"(Keuntungan) Ini hanya satu aspek dari perang dagang. Ada banyak kekuatan lain yang bekerja dan dampak ekonomi secara keseluruhan di sebagian besar negara ketiga akan negatif," kata mereka.

Para ekonom mengatakan, banyak negara yang sekarang mengekspor lebih banyak barang ke AS cenderung mengekspor lebih sedikit barang ke Cina, karena mereka juga merupakan pemasok utama barang setengah jadi ke pabrik-pabrik Cina, tetapi mereka tidak memiliki kapasitas cukup untuk melayani AS dan Cina sekaligus.

Negara-negara Asia yang lebih kecil, yang memasok bahan mentah ke perusahaan-perusahaan Cina, juga sangat rentan terhadap tarif impor yang dikenakan AS atas produk-produk Cina. Karena kalau perusahaan di Cina keuntungannya turun dan mengalami kesulitan, mereka juga akan menurunkan produksi.

Para ekonom Nomura juga memperingatkan, perang dagang AS-Cina akan mengganggu rantai pasokan global dan menambah ketidakpastian tentang prospek ekonomi jangka menengah dan panjang.

Ed.: hp/ml




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
BERITA TERBARU +