DetikNews
Sabtu 11 Mei 2019, 08:39 WIB

AS Perluas Tarif Impor terhadap Produk dari China

Deutsche Welle (DW) - detikNews
AS Perluas Tarif Impor terhadap Produk dari China Foto: Getty Images/AFP/STR
Washington DC -

Presiden AS Donald Trump menerapkan tarif impor tambahan terhadap barang-barang asal China senilai 200 miliar dolar AS mulai hari Jumat (10/5). Produk-produk yang terkena tarif impor termasuk telepon seluler, komputer, pakaian dan mainan - dengan kenaikan tarif impor dari 10 persen menjadi 25 persen.

Kementerian Perdagangan China menyatakan "penyesalan mendalam" dan memperingatkan bahwa Beijing tidak akan "menyerah pada tekanan apa pun." Tanpa merinci, China mengancam untuk mengambil "tindakan pencegahan yang diperlukan."

Sengketa dagang antara AS dan China meningkat setelah Gedung Putih menuduh Beijing memperlunak komitmennya untuk reformasi perdagangan - klaim yang ditolak keras oleh China.

Pembicaraan berlanjut

Hari Kamis (9/5) Wakil Perdana Menteri China Liu He, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin melakukan pembicaraan selama 90 menit di Washington. Usai pembicaraan, mereka tidak memberi keterangan apa-apa kepada wartawan.

Liu He mengatakan kepada televisi pemerintah China, ia datang ke pembicaraan "dengan tulus" tetapi mereka "mengalami beberapa masalah." Negosiasi untuk menyelamatkan kesepakatan perdagangan AS-China akan berakhir Jumat (10/5).

Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif pada hari Minggu (5/5) dan mengatakan ia frustrasi dengan laju pembicaraan. Namun ia mengatakan kesepakatan perdagangan masih mungkin tercapai.

Guncangan pasar

Meningkatnya ketegangan dalam hubungan dagang AS-China turut mengguncang pasar saham di seluruh dunia. Philip Wee, dari DBS Bank yang berbasis di Singapura, memperingatkan dalam sebuah laporan bahwa kenaikan tarif dan gangguan dalam pembicaraan berarti "risiko keruntuhan pasar keuangan... dan penurunan tajam dalam pertumbuhan global akan meningkat."

Washington sebelumnya menuntut reformasi signifikan politik ekonomi China, antara lain agar perusahaan-perusahaan negara dari China tunduk pada "prinsip-prinsip pasar", pengurangan subsidi besar-besaran dan menanggapi dugaan pelanggaran hak paten serta pencurian kekayaan intelektual dari AS.

hp/na (AFP, AP, Reuters)




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed