DetikNews
Rabu 08 Mei 2019, 11:27 WIB

Melukis di Jerman dengan Jiwa dari Tanah Air

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Melukis di Jerman dengan Jiwa dari Tanah Air
Berlin -

Amiasih Amongsari datang ke Jerman tahun 1979. Jika ditanya mengapa ia memilih seni lukis, ia mengatakan, seni lukis adalah akar jiwanya. Ia mengaku pernah mencoba seni-seni lain, tetapi seni lukis adalah yang paling bisa memberikan wujud bagi apa yang ingin disampaikannya.

Pelukis kelahiran Jakarta itu bercerita, awalnya seni lukis dilakukannya hanya untuk mengisi waktu yang kosong. Ketika itu, inspirasi diperolehnya dari hal-hal di rumah, misalnya tanaman kaktus di jendela. Demikian dikisahkannya, sambil tertawa. Makin lama sumber inspirasi bukan hanya dari ruangan di rumah saja, api juga dari kehidupan.

Ia berujar, "Jika merasa senang, saya melukis dengan senang". Jika merasa sedih, ia mengatakan, mengolah perasaan itu dengan melukis dari ingatan ketika masih kecil, atau waktu masih muda. Misalnya pemandangan perkampungan yang sejuk. Itulah yang menenangkan, dan menyenangkan jiwanya.

Pengaruh seni lukis Jerman atas gaya seni lukis Amiasih Amongsari bisa dilihat pada permainan warna dan sinar di atas kanvas-kanvas yang ia lihat di museum-museum, buku-buku atau pameran-pameran. Misalnya keceriaan lukisan August Macke. Amiasih Amongsari mengungkap, gaya Macke membuatnya terenyuh.

Ia kemudian mengolahnya, dan menyadari faedahnya bagi kehidupannya. Itulah yang ia contoh. Lain halnya dengan cara pengolesan dengan kuas. Ia mengatakan, itu miliknya sendiri. Cara pengolesan dengan kuas tidak mungkin ditiru baik dari August Macke atau dari pelukis kondang lainnya, misalnya Caspar David Friedrich. Demikian ujarnya.

Ketika ditanya apa yang harus dilakukan agar bisa mapan sebagai pelukis di Jerman, ia menandaskan, seorang pelukis bukan hanya harus bisa berkarya, melainkan juga harus bisa memasarkan.

Ia bercerita, memang selama ini ia sebenarnya bisa lebih memasarkan karya-karyanya. Tetapi ia memilih "tidak melakukannya secara 150%." Karena ia menghargai waktu yang terisi terutama dengan menghasilkan seni lukis. "Itu dulu," jelasnya sambil tersenyum.

Dengan teknik atau materi yang ia gunakan sementara ini, sampai sekarang belum ada yang melakukannya. Ia bukan mengambil teknik lain, atau meniru karya orang lain. Ia menjelaskan, lewat teknik dan materi yang digunakannya, ia memroses apa yang dimilikinya sementara ini.

"Oleh karena itu, dengan teknik di atas kanvas atau kertas, ditutup Pappmache [bubur yang dibuat dari kertas yang dihaluskan], dan dioles warna-warni tanah yang diberi perekat akril. Itu memberikan energi yang istimewa," paparnya.

Tanah yang digunakan untuk karya-karya lukisannya berasal baik dari beberapa negara Eropa, maupun dari sejumlah daerah di Indonesia. Tanah yang digunakan, dikumpulkannya sendiri ketika berkunjung ke tempat-tempat itu. Orang-orang yang melihatnya merasa terkesan dan berkomentar "Wah, kok bisa ya, hanya dari tanah."

Dalam hal pengakuan terhadap profesinya sebagai pelukis perempuan, ia memaparkan, di Jerman ia diakui sebagai pelukis perempuan. Jika ia mengadakan pameran tunggal di Jerman atau bersama rekan seniman lainnya, banyak orang yang datang dan ingin melihatnya.

Sedangkan jika ia tinggal di Indonesia mungkin berbeda. Memang kemungkinan ada pengakuan, katanya. "Tetapi pelakunya sendiri, bukan sombong, coretannya bagaimana, atau waktunya, atau di mana, [apa bisa] tetap terlaksana?"

Pameran tunggal paling berkesan yang dialami dirinya dan keluarga, yaitu ketika mereka pindah dari kota kecil di pinggiran kota Bonn ke kota Weimar di Jerman Timur. Tahun pertama ia tinggal di Weimar, ia mendapat kesempatan mengadakan pameran. Pengunjungnya cukup banyak, ceritanya, dan hari itu ada dua lukisan bertopik "kepala ular", yang dibeli oleh seorang profesor dari Akademi Kesenian di kota Weimar. "Itu membuat saya terenyuh dan bahagia." Itu penghargaan yang cukup tinggi, ditambahkannya.

Untuk masa depan, ia sudah punya sejumlah proyek yang ingin direncanakannya. Antara lain, ibu dari empat anak itu mengatakan, sedang mengumpulkan lukisan anak-anaknya dari umur 1 sampai 15 tahun. "Itu akan saya bukukan karena itu kaca jiwa mereka dan perkembangan mereka," dan itu mungkin akan penting juga bagi mereka, paparnya.

Selain itu, pelukis asal Indonesia ini juga pernah mengadakan perjalanan selama sebulan di Jerman. Ia naik turun kereta api, untuk melihat dan memperhatikan stasiun kereta api serta tempat menunggu para penumpang, apa nyaman atau tidak. Ia akan melukis situasi yang ia lihat, bahkan mungkin sampai stasiun di kota lain Eropa, seperti Basel dan Z├╝rich di Swiss.

Sambil menunjukkan sejumput tanah dari Indonesia, yang dibawanya ke kota Bonn, untuk digunakan pada karya-karyanya, ia memberikan pesan untuk generasi muda Indonesia yang menjadi seniman atau seniwati, agar materi yang ada di bumi Indonesia diolah dengan sebaik mungkin, dengan secantik mungkin. Hargailah, katanya, "supaya generasi yang masih muda dan keturunan kita mendapat bibit cinta kasih kepada tanah air."

Informasi lebih lengkap tentang Amiasih Amongsari juga bisa Anda peroleh dari situs: http://www.amongsari.de/

(hp)




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed