detikNews
Rabu 17 April 2019, 08:09 WIB

Hubungan Indonesia-China: Titik Sensitif Pemimpin Mendatang

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Hubungan Indonesia-China: Titik Sensitif Pemimpin Mendatang
FOKUS BERITA: Mantap Memilih!
Jakarta -

Menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang terbesar di Asia dan termasuk di antara negara mitra dagang terpenting bagi Indonesia, tidak lantas membuat China populer di antara orang berhaluan konservatif di Indonesia.

Sejumlah proyek yang menggandeng investasi besar dari China pun disoroti dan menjadi kontroversi.

Proyek kereta api cepat senilai 5,9 miliar dolar AS yang menggandeng China Development Bank misalnya. Proyek ini banyak dikritik dan dinilai mubazir karena dianggap banyak alternatif transportasi massal lain yang lebih murah untuk menghubungkan kedua kota ini. Presiden pun dinilai terlalu lunak dalam menghadapi investor dari negara tirai bambu tersebut.

Kemitraan kuat di bidang ekonomi ini tidak melulu membuat nama China harum di mata publik Indonesia.

Prasangka dan diskriminasi

Kerja sama ekonomi yang sering diberitakan oleh sejumlah media di Indonesia adalah mengenai kian membesarnya ketimpangan neraca perdagangan antara Indonesia-China serta isu serbuan para pekerja dari negara itu ke berbagai daerah di Indonesia yang akan merebut kesempatan kerja bagi tenaga kerja lokal.

Prasangka terhadap etnis China memang mengakar jauh sejak zaman kolonialisme. Namun di masa Orde Baru prasangka ini memasuki fase baru terkait meletusnya peristiwa G30S/PKI.

Pada kurun waktu tahun 1960-an terjadi beberapa kerusuhan dengan korban dari etnis China karena dianggap mendukung komunisme, salah satunya yaitu peristiwa Mangkuk Merah di Kalimantan Barat.

Setelah Suharto berkuasa, pemerintah Orde Baru kemudian merepresi besar-besaran masyarakat dengan latar belakang etnis China. Segala hal yang berbau China seperti tulisan, nama orang dan perayaan kebudayaan dilarang dirayakan.

Orang-orang dengan latar belakang etnis China pun tidak bisa berkarier di bidang pemerintahan dan politik.

Sebagai akibatnya, banyak dari mereka kemudian memutuskan untuk berdagang dan pada akhirnya dituduh menciptakan kesenjangan ekonomi yang memicu kerusuhan rasial.

Meski peraturan diskriminatif itu telah dihapus pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, sentimen anti-China kini tetap ada dan berkembang.

Proyeksi kerja sama ekonomi lebih besar

Terlepas dari sentimen dan prasangka, kerja sama ekonomi Indonesia dan China diperkirakan akan bertambah intensif.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal Nasional (BKPM), China merupakan negara keempat terbesar penyumbang investasi asing langsung bagi Indonesia setelah Singapura, Jepang dan Malaysia.

Pada periode Januari – Desember 2018, investor dari China menginvestasikan dana sebesar 2,4 miliar dolar Amerika, atau sekitar 8,2 persen dari keseluruhan investasi asing yang masuk ke Indonesia.

Jumlah ini menurun bila dibandingkan dengan investasi China di Indonesia sepanjang 2017 yaitu 3,4 miliar dolar AS, atau sebesar 10,4 persen dari keseluruhan investasi asing.

Di masa mendatang, hubungan China dan Indonesia diprediksi akan kian menguat seiring dengan adanya Visi Kemitraan Strategis 2030 antara China dan negara-negara anggota Asean.

Pilar kerja sama yang akan dibangun dalam visi ini antara negara-negara Asean dan China meliputi bidang kerjasama politik dan keamanan, bidang ekonomi dan bidang sosial budaya.

Di bidang kerja sama ekonomi misalnya, negara Asean dan China sepakat untuk mengintensifkan upaya pemenuhan target bersama volume perdagangan sebesar US$ 1 triliun dan investasi US$ 150 miliar pada 2020 melalui pendalaman hubungan ekonomi dan peningkatan konektivitas. Serta berharap meningkatkan hasil lebih banyak lagi pada 2030.

Dengan adanya visi ini, hubungan dagang, investasi dan arus turisme di kawasan Asean dengan China diperkirakan akan meningkat pesat.

Kepala BKPM Thomas Lembong seperti dikutip dari Mietspiegelnews mengatakan bahwa investasi dari China mesti ditangani dengan benar agar mencapai potensi penuh di Indonesia. Lembong mengatakan sebagian besar negara yang ia tahu ingin bekerja sama dengan China dan terus mengembangkan investasi dan membuatnya semakin tidak kontroversial.

Ia lalu membandingkan investasi China dengan investasi Jepang di seluruh dunia pada tahun 80-an dan 90-an.

"Hari ini, investasi Jepang di seluruh dunia diterima dengan baik dan benar-benar tidak dipertanyakan." Ia berpendapat jika Indonesia juga sedang bergerak ke arah yang sama dengan investasi dari China.

ae/hp (Mietspiegelnews, NZZ, China Daily, Asean.org, Tirto.id)




(nvc/nvc)


FOKUS BERITA: Mantap Memilih!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com