DetikNews
Rabu 03 April 2019, 13:18 WIB

Jam Biologis Pria Pengaruhi Skizofrenia pada Anak

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jam Biologis Pria Pengaruhi Skizofrenia pada Anak
Beijing -

Selama ini kita hanya tahu bahwa usia kesuburan perempuan penting diperhatikan saat memutuskan untuk memiliki anak. Tingkat kesuburan perempuan menurun mulai usia 30-an atau 40-an hingga capai masa menopause di usia 40-an atau 50-an. Namun, penelitian selama beberapa tahun terakhir menemukan faktor usia pria berpengaruh pada kesuburannya, juga perkembangan anak.

Penelitian terbaru dari The Journal Biological Psychiatry menemukan hubungan antara usia lanjut orang tua dengan penyakit skizofrenia pada anak. Tanda-tanda kemunculan skizofrenia bahkan ditemukan lebih dini pada anak yang lahir dari ayah dengan usia yang lebih tua. Tanda ini muncul pada anak sebelum usia sang anak menginjak 18 tahun. Penyebabnya adalah kelainan gen.

Pasien-pasien anak dengan gangguan skizofrenia dalam penelitian tersebut memiliki orang tua yang sehat, juga riwayat keluarga tanpa gangguan mental. Namun diduga mutasi gen terjadi karena ayah pasien berusia lanjut.

"Setiap 10 tahun penundaan usia menjadi orang tua, maka risiko kemunculan tanda skizofrenia pada anak meningkat sekitar 30 persen", terang ketua penelitian, Shi-Heng Wang dari China Medical University di Taichung dalam sebuah pernyataan. Sementara itu, usia ibu tidak berdampak pada proses kelainan ini.

Resiko lainnya dari ayah yang tua

Mutasi gen memang terjadi di sperma, namun risiko kelainan lainnya juga dapat terjadi pada anak dari ayah yang berusia di atas 35 tahun.

Kemungkinan terkenanya gangguan spektrum autisme pada anak meningkat menjadi 5,75 persen dari ayah berusia 40 tahun atau lebih, dibandingkan dengan anak yang lahir dari ayah dibawah usia 30 tahun.

Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), psikosis, bipolar, percobaan bunuh diri, serta penggunaan narkoba - semua masalah ini terhubung dengan usia orang tua yang lebih tua. Risiko lainnya adalah leukemia limfoblastik akut (kanker yang disebabkan oleh sel darah putih yang berproduksi tidak normal) di usia anak – juga ancaman kanker lainnya di kemudian hari, seperti kanker payudara dan kanker prostat. Cacat lahir yang jarang, keguguran atau bayi lahir mati juga dikaitkan dengan usia orang tua yang sudah lanjut.

Standford mengungkap dari 40,5 juta kelahiran dari orang tua dengan usia tua (mereka mendefinisikan usia ayah di atas 35 tahun) antara tahun 2007 hingga 2016 berpotensi sebabkan risiko lebih tinggi pada bayi lahir dengan berat badan rendah, kejang dan bahaya pada kelahiran lainnya. Sebagai contoh, pria berusia 45 tahun atau lebih berpotensi sebanyak 14 persen untuk menghasilkan anak dengan kelahiran prematur. Sementara, pria berusia 50 tahun atau lebih berpotensi sebanyak 28 persen miliki bayi dengan perawatan di unit perawatan intensif neonatal.

Secara mengejutkan penelitian tersebut juga menemukan hubungan usia tua ayah pada besarnya potensi diabetes gestasional pada ibu mengandung. Perempuan yang hamil dari pria berusia 55 tahun atau lebih berkemungkinan alami hingga 34 persen diabetes gestasional. Namun para peneliti tidak terlalu yakin dengan hal ini. Mereka menduga diabetes gestasional terjadi akibat adanya gangguan pada plasenta ibu hamil.

Perencanaan keluarga

"Keputusan untuk memiliki anak dan waktunya adalah hal yang kompleks", ujar Michael Eisenberg, Direktur Kedokteran Reproduksi Pria dan Bedah dan Profesor Rekanan di Fakultas Kedokteran Universitas Stanford, kepada DW. Eisenberg adalah peneliti senior pada penelitian Stanford tersebut.

Meski jumlah ancaman ini tidak besar, tapi tetap penting untuk dipertimbangkan bagi para calon orang tua untuk tahu kapan mau merencanakan sebuah keluarga, terlebih usia calon orang tua di dunia makin lebih tua.

"Kita memang sudah tahu risiko yang akan dibawa dari usia ibu yang tua, tapi penelitian ini juga mengungkap bukti yang diakibatkan dari usia ayah yang tua," jelas Eisenberg. "Jadi, pria seharusnya tidak lagi beranggapan untuk menunda punya anak, tapi menyadari risiko yang akan timbul seiring bertambahnya usia," tambahnya.

Pertimbangan Lainnya

Sudah banyak dilakukan penelitian terhadap kehamilan dari perempuan dengan usia tua. Beberapa risiko yang terjadi antara lain meningkatnya komplikasi selama masa kehamilan, keguguran, bayi lahir mati, bayi lahir prematur, cacat lahir, down syndrome, kardiovaskuler pada ibu dan anak (terutama anak laki), hipertensi gestasional, serta proses persalinan Caesar. Risiko lainnya adalah kemungkinan memiliki janin kembar, bahkan kembar tiga.

Meski demikian, memiliki orang tua dengan usia yang lebih matang juga miliki keuntungan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ibu yang lebih tua dianggap lebih berpendidikan, lebih matang secara emosional, juga lebih memiliki hubungan yang stabil. Hal-hal inilah yang berdampak positif pada anak. Ayah yang lebih tua juga dianggap berpendidikan lebih baik, miliki pekerjaan yang lebih baik, dan lebih mau terlibat dalam membesarkan anak.

Mikko Myrskyl, direktur Max Planck Institute untuk Penelitian Demografi beserta rekan-rekannya mengambil pendekatan holistik untuk melihat hubungan antara usia orang tua dengan perkembangan anak.

"Bagi saya sebagai ahli sosial, pertanyaanya adalah seberapa penting proses psikologis membedakan dirinya dengan proses sosial," ujar Myrskyl kepada DW.

Ia dan timnya tidak hanya melihat berat badan anak saat lahir, tapi juga melihat pencapaian anak selama masa pendidikannya. Penelitian mereka menemukan bahwa anak yang lahir dari ibu berusia lebih tua tumbuh lebih tinggi, lebih panjang umur dan capai level pendidikan yang lebih tinggi.

"Jika kita lihat lebih luas, nampaknya penelitian dengan fokus kesuburan yang mengaitkan dengan usia orang tua yang lebih tua dan lebih tua lagi sepertinya salah tempat atau ini tidak benar-benar terbukti," tambah Myrskyl.

Penelitian Myrskyl memang sebagian besar hanya berfokus pada ibu. Myrskyl berpendapat ibu yang lebih tua sepertinya memang lebih memilih ayah yang lebih tua juga. Meski sejumlah risiko muncul dari usia orang tua yang lanjut, pengasuhan anak juga memiliki peran penting.

Penulis: Sam Baker(ga/ap)




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed